Energi Juang News, Surabaya– Penjara Kalisosok Surabaya, bangunan peninggalan masa penjajahan VOC sejak tahun 1800-an, kini hanya menyisakan puing-puing sejarah yang terlupakan. Meski fungsinya sebagai tempat tahanan telah lama berakhir, nuansa angker yang menyelimutinya justru semakin terasa kuat dari waktu ke waktu. Banyak warga sekitar yang enggan melintas dekat bangunan ini saat malam tiba, apalagi ketika bulan purnama menggantung di langit, memperkuat kesan mistis yang menyelimuti setiap sudut penjara tua tersebut.
Konon, kisah-kisah mistis di tempat ini bermula dari penderitaan dan kekejaman yang pernah terjadi di dalamnya. Para tahanan dulu tak hanya berjuang melawan hukum kolonial, namun juga berhadapan dengan kekerasan sesama narapidana. Di dalam sel sempit dan pengap, terjadi banyak penyiksaan hingga peristiwa tragis seperti bunuh diri. Seorang warga bernama Pak Riyanto, yang rumahnya hanya selemparan batu dari lokasi, berkata, “Dulu pernah ada napi muda yang dipukuli habis-habisan oleh penghuni sel lainnya. Karena dia anak buangan, dia memilih gantung diri. Sejak itu, malam-malam sering terdengar suara jeritan.”
Tiga tahun setelah kejadian itu, sekitar tahun 2001, seorang tukang becak bernama Karto mengalami pengalaman yang tak bisa ia lupakan seumur hidup. Saat sedang menunggu penumpang di malam hari, ia melihat seorang wanita Belanda berpakaian seperti perawat memasuki bangunan itu. “Saya kira itu orang iseng atau syuting film. Tapi waktu saya ngintip dari celah pintu, kosong, gelap, tidak ada siapa-siapa. Padahal baru saja dia masuk,” cerita Karto sambil gemetar. Tubuhnya merinding seketika, dan sejak malam itu, ia tidak pernah lagi mangkal di dekat Penjara Kalisosok.
Sosok perempuan Belanda itu tidak pernah dikenali identitasnya secara pasti, namun deskripsi para saksi mata selalu sama: mengenakan seragam putih seperti suster zaman dulu, wajahnya pucat dan matanya kosong menatap lurus, seakan menembus jiwa siapa pun yang melihatnya. Penampakan itu sering muncul tanpa suara, hanya menyisakan bau antiseptik yang menguar tiba-tiba. Beberapa warga mengaitkannya dengan dokter penjara pada masa lalu yang juga menjadi korban penyiksaan saat kerusuhan antar tahanan.
Bukan hanya wanita Belanda, sosok lain yang lebih menyeramkan juga sering dilaporkan oleh warga sekitar maupun para pemburu urban legend. Ada arwah pria dengan wajah biru membiru, tergantung di dalam salah satu sel yang kini selalu terkunci. “Kalau lewat situ malam-malam, sering dengar suara kayu berderit seperti ada yang goyangin tali,” kata Bu Rukmini, penjual gorengan di dekat lokasi. “Anak saya pernah lihat dari jendela, katanya ada orang gantung diri tapi hilang pas dilihat lebih dekat,” tambahnya.
Pengalaman-pengalaman menyeramkan itu tidak hanya berhenti pada penampakan visual. Banyak yang merasa diikuti saat berjalan dekat area penjara. Bahkan ada pula yang tiba-tiba mengalami mimpi buruk bertemu para tahanan berdarah, meski sebelumnya tidak pernah tahu tentang sejarah kelam tempat itu. Warga menyebut fenomena ini sebagai “ditegur”, yang berarti dipanggil atau disentuh oleh roh penghuni tempat tersebut. Cerita-cerita seperti ini membuat banyak orang menghindari lokasi itu, terutama di malam Jumat Legi.
Kisah horor di Penjara Kalisosok Surabaya terus berkembang secara turun-temurun. Anak-anak kecil di sekitar sana sudah hafal untuk tidak bermain terlalu dekat. Setiap malam tertentu, terdengar langkah-langkah kaki tanpa wujud yang berjalan mengikuti siapa pun yang melintas. Para penjaga malam yang sempat bertugas menjaga area itu banyak yang mengundurkan diri karena tidak sanggup menghadapi tekanan batin yang muncul setiap malam, terutama saat jam menunjukkan pukul 3 pagi.
Sebagian masyarakat Surabaya percaya bahwa tempat seperti Kalisosok tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga dendam dan luka yang belum selesai. Penjara itu seolah menjadi wadah energi negatif yang terperangkap selama ratusan tahun. Mereka yang peka akan merasakan hawa dingin menusuk tulang ketika mendekati dinding-dindingnya yang penuh lumut. Aroma anyir darah dan debu tua seringkali muncul tanpa alasan, membuat siapa pun yang masuk merasa tidak diinginkan.
Meski pemerintah kota pernah berencana merestorasi bangunan ini sebagai situs sejarah, banyak yang menentang karena takut mengganggu “penghuni lama” yang telah menetap di sana sejak lama. “Biarin aja angker, jangan diganggu,” ujar Pak Manto, sesepuh RT setempat. Ia meyakini bahwa tidak semua tempat harus disentuh kembali, apalagi jika terlalu banyak nyawa yang pernah melayang di dalamnya. Baginya, penjara ini adalah pengingat bahwa tempat-tempat kelam juga perlu dihormati.
Kisah berhantunya Penjara Kalisosok Surabaya bukan sekadar legenda atau cerita pelipur lara. Ia telah menjadi bagian dari budaya lokal yang diwarnai dengan kepercayaan dan pengalaman nyata dari warga sekitar. Tidak sedikit yang datang dengan penasaran, namun pulang dengan ketakutan yang menghantui hingga berminggu-minggu. Penjara tua itu kini menjadi simbol kekelaman masa lalu yang masih hidup di tengah hiruk-pikuk kota modern Surabaya.
Redaksi Energi Juang News



