Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaJeritan dari Curah Tangis: Teror Mistis Alas Baluran Situbondo

Jeritan dari Curah Tangis: Teror Mistis Alas Baluran Situbondo

Energi Juang News, Jakarta- Di balik lebatnya Hutan Baluran, Situbondo, terdapat sebuah tikungan tajam yang dijuluki warga sekitar sebagai Curah Tangis.

Aura mistis di sepanjang jalan raya Hutan Baluran itu, konon tak lepas dari keberadaan tebing curam nan angker yang berlokasi di kawasan Hutan Baluran.

Masyarakat sekitar biasa menyebut tebing curam di pertengahan jalan hutan Baluran itu dengan istilah ‘Curah Tangis’. Konon, banyak misteri yang terjadi di sekitar tebing curam atau Curah Tangis tersebut.

Namanya terdengar puitis, tetapi kisah di baliknya jauh dari keindahan. Tikungan tersebut menghadap langsung ke jurang curam, dan konon menjadi tempat bersemayam energi yang tak kasatmata.

Mulai dari lokasi tempat pengkhianatan cinta sepasang kekasih ratusan tahun silam. Disebut-sebut, cinta sepasang kekasih itu berakhir tragis setelah sang lelaki mendorong keras kekasihnya hingga terjatuh dan tewas di dasar jurang.

Anehnya, saat akan dievakuasi warga, jasad perempuan yang konon bernama Dewi Taroro itu tidak pernah ditemukan. Karena itu, berbagai kejadian yang terjadi di jalan Hutan Baluran ada yang mengaitkan dengan dendam sang Dewi.

Bahkan , kawasan ‘Curah Tangis’ angker karena dulunya menjadi lokasi pembantaian orang-orang PKI. Jasad para korban ini konon banyak dilempar ke dasar jurang.

Jurang ‘Curah Tangis’ disebut juga menjadi salah satu lokasi yang seringkali dijadikan tempat ‘eksekusi’ para korban saat peristiwa Petrus pada tahun 1980-an lalu.

Malam itu Pak Ngateno, seorang pengemudi truk lintas Jawa, tengah melaju dari arah Banyuwangi menuju Situbondo.

Hujan rintik dan kabut tipis menyelimuti hutan. Google Maps menunjukkan jalur tercepat melewati kawasan Baluran. Tapi supir lokal sudah sering memperingatkan, “Kalau bisa, hindari tikungan Curah Tangis pas malam.”

Baca juga :  Misteri Hilangnya Dzikri di Kawah Ijen Saat Fajar

Pak Ngateno tertawa saat mengingat peringatan itu. “Ah, cuma mitos,” gumamnya sambil menyalakan rokok. Setelah melakukan perjalanan sekitar 10KM saat akan memasuki daerah Curah Tangis, gaya santai Pak Ngateno seketika berubah ketika mendengar suara tangisan lirih terdengar dari radio truknya yang padahal radio sudah dimatikan sejak tadi.

“Kembalikan anakku…” suara yang awalnya sayup terdengar diradio, semakin lama suara itu terdengar jelas, membuat Pak Ngateno was was.

Rasa was was Pak Ngateno berubah menjadi mengerikan tatkala ia melihat sekilas jarak 10 meter didepan berdiri sesosok wanita berbaju lusuh menggendong anaknya, dengan rambut panjang menutupi wajah, berdiri mematung ditengah jalan membuat Pak Ngateno menginjak rem mendadak.

Dan…Brak!! suara tubuh terhempas didepan truknya, membuat Pak Ngateno gemetar dan pucat pasi sambil turun dari kendaraannya.

Karena panik, ia segera turun dan melihat kekolong truk, dan benar saja ia menabrak seorang wanita berikut bayinya, namun aneh… wanita tersebut hanya luka ringan.

Bergegas Pak Ngateno memindahkan tubuh wanita dan bayinya tersebut ketempat aman. Entah berasal dari mana datanglah satu persatu orang mendekat, namun aneh…diantara mereka tidak saling bicara.

Setelah menyadari keanehan tersebut Pak Ngateno mulai mencium bau anyir darah yang bercampur bau busuk menyengat, suasana berubah horor.

Dengan dibantu cahaya bulan ia memperhatikan dengan seksama ibu dan anak yang ditabraknya, ternyata wajah si ibu dan anak sudah tak berbentuk penuh darah. Terlihat gigi dan hidung yang sudah tidak dilapisi kulit, menakutkan.

Sambil ia melihat sekeliling, ternyata raut muka orang orang yang berkerumun berubah pucat pasi dan tampak banyak bercak darah dipakaian orang orang itu. Melihat perubahan itu Pak Ngateno pun ketakutan dan jatuh pingsan ditempat.

Baca juga :  Candi Misterius Peninggalan Mpu Sindok Munculkan Nuansa Menakutkan, Mengapa?

Keesokan paginya, warga Dusun Karangtekok, desa terdekat dari lokasi, mendengar kabar ada truk terguling di tikungan Curah Tangis. Beruntung Pak Ngateno selamat, meski luka parah.

Ketika Pak Ngateno dibawa ke pos jaga desa, ia masih syok dan hanya bisa berucap,

Pak Leman, salah satu warga tua, menghela napas berat.

“Sudah banyak yang jadi korban. Katanya dulu di situ ada ibu muda yang kecelakaan dan bayinya tak ditemukan. Sekarang rohnya menunggu… siapa pun yang lewat tengah malam akan dianggap menggantikan anaknya yang hilang.”

Sejak kejadian itu, warga sekitar rutin mengadakan selamatan setiap bulan Suro. Namun gangguan tidak pernah benar-benar hilang.

Jalan di sekitar Curah Tangis kini memiliki palang larangan untuk melintas di atas pukul sembilan malam. Tetapi tetap saja, ada yang nekat… dan hilang tak kembali.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadi
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments