Energi Juang News, Jakarta– Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyampaikan bahwa semakin banyak negara Arab berpotensi menjalin hubungan diplomatik dengan Israel dalam waktu dekat. Washington juga terus mendorong Arab Saudi agar membuka jalur normalisasi dengan negara Yahudi tersebut.
Upaya ini merupakan kelanjutan dari Perjanjian Abraham, yang digagas oleh Presiden Donald Trump menjelang akhir masa jabatannya. Perjanjian tersebut menjadi tonggak penting ketika Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko membuka hubungan resmi dengan Israel—langkah yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyampaikan pernyataan kepada Komite Urusan Luar Negeri DPR AS, Rabu lalu. “Saya rasa kita mungkin akan mendengar kabar positif dari beberapa negara yang tertarik bergabung sebelum tahun ini berakhir,” ungkapnya.
Arab Saudi disebut masih melanjutkan diskusi mengenai potensi normalisasi ini. Upaya ini sebelumnya mendapat dukungan kuat dari pemerintahan Presiden Joe Biden. Namun, prosesnya terganggu setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, yang memicu respons militer Israel di Gaza.
Rubio menambahkan, meskipun kondisi geopolitik menjadi tantangan, semangat untuk membangun hubungan tetap ada. Peristiwa 7 Oktober menjadi faktor penghambat, namun baik Saudi maupun Israel masih menunjukkan minat untuk mencapai kesepakatan,” jelasnya seperti dikutip dari AFP (Kamis, 22 Mei 2025).
Arab Saudi sendiri dinilai menjadi kunci strategis dalam proses normalisasi ini, mengingat statusnya sebagai penjaga dua tempat suci umat Islam serta pengaruh besar yang dimilikinya di kawasan Timur Tengah. Meski begitu, kerajaan menyatakan bahwa tidak akan ada normalisasi sebelum konflik Gaza diselesaikan dan berdirinya negara Palestina secara sah diakui.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tetap menunjukkan antusiasme terhadap peluang kerja sama dengan Arab Saudi. Namun, kebijakannya yang agresif di Gaza, termasuk serangan besar-besaran dan pengungsian massal warga, justru memperumit proses tersebut.
Netanyahu menghadapi tekanan internasional atas aksi militer brutal Israel. Ia tetap berambisi menyelesaikan misi militernya di Gaza dengan menargetkan kelompok Hamas serta membebaskan seluruh sandera Israel.
Pemerintahannya dikenal sebagai yang paling konservatif dalam sejarah Israel. Mereka menolak solusi dua negara, menyulitkan perdamaian dan normalisasi dengan negara-negara Arab, terutama Arab Saudi.
Redaksi Energi Juang News




