Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaLarangan Baju Hijau "Gadhung Mlathi" : Kisah Menakutkan Ageman Nyi Ratu Kidul

Larangan Baju Hijau “Gadhung Mlathi” : Kisah Menakutkan Ageman Nyi Ratu Kidul

Energi Juang News, Yogyakarta – Sejak fajar merangkak naik di ufuk Pantai Parang Tritis, Mulyono merasakan udara dingin yang menorehkan rasa tidak wajar di kulitnya. Ombak bergulung dengan suara gemuruh seolah memanggil korban yang selama ini hilang tanpa jejak. Langit warna kelabu menambah intensitas keheningan, sementara bau asin laut menggantung pekat di rongga hidung wisatawan yang baru tiba. Tak ada bisikan tentang larangan, hanya getar yang sulit diartikan oleh logika manusia. Ia berjalan menyusuri tepian pasir, langkahnya berat seperti menghindari bayangan gelap yang merayap di antara bebatuan karang.

Kisah mulai menggeliat ketika Saimun, teman Mulyono, memutuskan berenang ke tengah laut bersama tiga sahabatnya. Mereka tertawa riang, meski petir kecil menyambar jauh. Ketika Saimun melangkah lebih dalam, ombak menampar tubuhnya hingga tak mampu kembali ke tepi. Teman-temannya berteriak, “Tolong!!Tolong!!Tolong!!” suara mereka pecah oleh dentuman ombak. Namun jejaknya lenyap dalam pusaran air selama tiga hari, meninggalkan rasa sakit yang tak tertahankan di hati Mulyono.

Malam hari, Mulyono mendatangi rumah Mbah Joyo, orang tua penuh wibawa yang dipercaya memiliki cakra spiritual setempat. Api lampu kelap-kelip di muka, bayangan menari di dinding kayu. “Mulyono, kau telah mengabaikan petanda,” bisik Mbah Joyo sambil menatap wajah muridnya. Suara logat jawa halus namun menggema. “Saimun dibawa masuk ke gerbang alam kasat mata Kanjeng Ratu Kidul,” ujarnya, dengan mata tertutup tapi rasa takut menyelinap ke setiap kata-katanya.

Dalam tiap kelembutan malam Parang Tritis, Mulyono bermimpi arwah-arwah berkepala seperti ikan, tangan menjuntai menjenguk pasir, menjerit tanpa suara. Di mimpi itu ia melihat istana di balik lautan, gading putih retak, pilar emas kusam, dan lantai penuh darah laut. Korban-korban yang pernah tenggelam terpaksa tunduk menjadi perbudakan roh, suaranya meratap. Bau anyir tubuh yang membusuk menyelimuti lorong-lorong lorong istana, membuat nafas tercekat. Ia tak menemukan sosok sahabatnya itu.

Baca juga :  Misteri Kampung Mati di Ponorogo Terungkap Melalui Kisah Mistis Dusun Sembulan

Saat sarapan pagi, seorang warga pesisir bernama Nyai Sarmi berkata kepada Mulyono, “Kowe ngerti ora larangan pakaian apapun sing werna ijo Gadhung Mlathi?” Suaranya patah, matanya merah oleh ingatan lama. Mulyono menggeleng. “Pakaian itu konon warna yang disukai oleh arwah Ratu Pantai Selatan,” lanjut Nyai Sarmi sambil menepuk tangan, “Werna ijo iku kaya panggilan kanggo murka, kang nyeret roh sing napsu.” Setiap kata seperti tikaman yang menusuk sanubari Mulyono.

Malam kedua, kerang dan tangis air menyatu menjadi suara rintihan yang tak dikenali. Mulyono mendengar langkah di belakangnya di pasir yang lembab, sesosok wanita berambut panjang, kulit kehijauan, matanya kosong seperti danau tua. Ia berbisik: “Mengapa temanmu memakai hijau seperti Gadhung Mlathiku?” Suara itu menggema, mengguncang nyali. Tampak dalam mimpinya terlihat banyak sosok orang dengan kepala hewan menyeramkan merangkak mengiring wanita itu. Hela napasnya tertahan ketika sosok itu menyentuh bahunya, dingin seperti kematian. Mulyono berdiri kaku tak bereaksi dan pingsan tak ingat apa apa lagi.

Mulyono sempat memperhatikan dibelakang sang Ratu ada ular buas yang menggeliat dengan taring menyeramkan. Tulang belulang manusia berserakan tanda ular pemangsa manusia itu menatapnya tajam . Tersadar Mulyono ingin segera berpisah dari dunia astral ke dunia nyata. Terpental oleh angin, baju itu hancur menjadi serpihan kain, namun aroma hijau Gadhung Mlathi tetap membekas kuat.

Ketika fajar mulai menyingsing di lain tempat warga pesisir yang mendengar kisah itu berkumpul di warung kopi pagi setelah sunyi. Seorang bapak tua bernama Pak Warno berkata, “Aku wis weruh bocah-bocah sing nganggo werna ijo Gadhung Mlathi ilang ing wengi wengi.” Suaranya rendah, penuh rasa takut. Ibu-ibu mengangguk, sebagian menutup mulut mereka dengan kain, seolah takut didengar arwah. Mereka berkali-kali meyakinkan bahwa larangan itu bukan dongeng belaka, namun peringatan yang telah diuji oleh waktu dan darah.

Baca juga :  Dibuntuti dari Gang Kuburan: Teror Gaib yang Menghantui Gadis Desa Geneng-Ngawi-Jawa Timur

Hari ketiga, arwah Saimun muncul dalam mimpi Mulyono dengan mata yang memerah dan mulut terbelah, membawa baju hijau yang sama. “Tolong akuu,” desahnya, suaranya lemah namun penuh amarah. Lantunan gemerincing pasir laut menyertai suaranya. Mulyono terbangun dengan tubuh berkeringat dingin. Begitulah hari hari Mulyono dihantui mimpi menyeramkan, dan percaya bahwa ia telah melewati batas antara yang hidup dan yang mati.

Keesokan harinya, setelah upacara sederhana di pantai dengan doa dan sesajen dari warga, Mulyono membuang sisa kain hijau itu ke laut. Tubuh Saimun ditemukan dalam kondisi tak bernyawa mengambang saat deburan ombak yang lebih keras dari biasanya, seolah menyelamatkan sekaligus menghukum. Warga yang hadir merasakan kegelisahan mereda sedikit, namun jejak bayang-bayang sosok mengerikan masih membayang di cakrawala. Belakangan pantai pun menjadi sunyi ketika warna hijau Gadhung Mlathi menyelimuti langit, karena semua tahu bahwa larangan itu bukan sekadar mitos, melainkan ageman sakral yang menelan jiwa.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments