Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaKutukan Golan dan Mirah: Legenda Cinta yang Mengukir Batas Antar Desa

Kutukan Golan dan Mirah: Legenda Cinta yang Mengukir Batas Antar Desa

Energi Juang News, Jakarta-Legenda yang telah hidup selama ratusan tahun ini masih melekat kuat di hati masyarakat Desa Golan dan Desa Mirah, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo. Dikenal dengan nama Legenda Golan-Mirah, cerita ini dipercaya sebagai asal muasal mengapa kedua desa tersebut tidak pernah bisa bersatu secara harmonis, bahkan hingga saat ini.

Menurut kisah yang berkembang, semua bermula sekitar tahun 1440-an, saat awal mula masa Babad Ponorogo. Kala itu, Joko Lancur, putra dari Ki Ageng Honggolono asal Desa Golan, tengah mencari ayam aduannya yang kabur hingga ke Desa Mirah. Ayam tersebut ternyata sampai di rumah seorang gadis cantik bernama Mirah Putri Ayu, anak dari Ki Ageng Honggojoyo, tokoh terpandang di Desa Mirah.

Pertemuan tak terduga ini membuat Joko Lancur jatuh hati pada Mirah. Ia pun berniat meminangnya. Namun, cinta mereka tidak direstui oleh ayah Mirah. Untuk menguji kesungguhan Joko, Ki Ageng Mirah memberi syarat berat: Joko harus mengairi seluruh sawah di Desa Mirah dalam waktu semalam.

Tantangan itu diterima. Dengan bantuan ayahnya, Ki Ageng Honggolono, mereka membendung Sungai Sekayu agar air mengalir ke sawah Desa Mirah. Namun, setelah syarat itu nyaris terpenuhi, Ki Ageng Mirah kembali memberikan ujian tak masuk akal: keluarga Joko harus membawa lumbung kedelai yang bisa terbang.

Merasa dipermainkan, Ki Ageng Honggolono menipu dengan mengganti isi lumbung menjadi jerami (kawul), dan hanya sedikit kedelai di bagian atas. Perseteruan pun memuncak. Keduanya saling mengucap kutukan yang dipercaya masih terasa hingga hari ini.

Ki Ageng Mirah bersabda bahwa masyarakat Golan tidak bisa menyimpan jerami karena akan terbakar. Sebaliknya, Ki Ageng Honggolono mengutuk warga Mirah agar tak bisa menanam kedelai. Lebih jauh lagi, mereka bersumpah bahwa keturunan dari kedua desa itu tidak akan pernah bisa bersatu dalam pernikahan.

Baca juga :  Gregek Tunggek: Hantu Nafas Kematian yang Masih Meneror Malam di Bali Utara

Ada kisah pernikahan masing masing mempelai dari kedua Desa , disaat acara berlangsung banyak terjadi halangan, tiba tiba ditengah acara diesel genset tiba tiba mati.

Budaya hantaran bahan makanan dari desa Golan dan Mirah tidak bisa matang bila tercampur dengan air masing masing Desa sehingga susah matang.

Ada pula tatkala acara dimulai tiba tiba tenda pelaminan roboh karena diterpa angin besar.

Bahkan yang paling mengerikan yaitu ada pasangan pemuda dari Golan akan menikah dengan perempuan dari Mirah karena halangan Sumpah akhirnya perempuan itu bunuh diri karenanya.

Sungai Golan-Mirah

Selain itu Informasi dari berbagai sumber menyatakan ada aliran irigasi sawah yang mengalir dari golan pun tidak bisa bercampur dengan air dari mirah, ini keanehan tersendiri.

Ini menandakan bahwa sumpah Ki Ageng Honggolono masih berlaku hingga kini, sampai masyarakat menyadari apa yang tersirat dari kisah tersebut.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments