Minggu, Maret 15, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMisteri Pencurian Tali Pocong Langkah Kegelapan Pelaku

Misteri Pencurian Tali Pocong Langkah Kegelapan Pelaku

Energi Juang News, Magelang– Video yang diunggah tahun 2022 oleh seorang konten kreator menjadi pembuka kisah yang mengguncang warga desa Gantang di Magelang Jawa Tengah. Dalam video itu terlihat makam yang berantakan, tanah tergali, dan penutup kayu berserakan di sekitar liang. Namun, yang paling mencengangkan adalah terlihatnya kain kafan terbuka sebagian dengan tali pocong yang tinggal satu. Suasana dalam video begitu mencekam, apalagi ketika terdengar suara tangisan pelan yang tak jelas asalnya di tengah malam. Warga yang menonton mengaku merinding, sebab video itu diambil hanya beberapa jam setelah prosesi pemakaman seorang pria yang meninggal pada malam Jumat Kliwon.

Beberapa hari setelah video itu viral, warga setempat mulai bercerita tentang kejadian aneh yang menimpa penjaga makam. “Saya dengar suara seperti orang menggali tanah malam-malam,” kata Pak Rohim, penjaga makam, dengan wajah pucat ketika ditemui. “Tapi waktu saya hampiri, nggak ada siapa-siapa. Hanya bau busuk seperti tanah basah bercampur darah.” Cerita itu membuat warga semakin takut. Mereka percaya bahwa roh sang almarhum marah karena makamnya dinodai dan tali pocongnya dicuri. Sejak saat itu, setiap malam Jumat Kliwon, area makam tersebut seperti diselimuti kabut tebal yang tidak pernah muncul sebelumnya.

Menurut penuturan warga, tali pocong memiliki kekuatan magis yang dicari oleh orang-orang yang mempelajari ilmu hitam. Barang itu dipercaya bisa digunakan untuk ilmu kebal, ilmu penghilang diri, atau bahkan ilmu santet. Namun, bagi mereka yang berani mengambilnya, ada konsekuensi mengerikan. Salah seorang warga, Bu Sarti, mengaku sempat melihat sosok berpakaian putih berdiri di bawah pohon kamboja dekat makam itu. “Dia berdiri kaku, matanya kosong, tapi dari kain kafannya masih ada sisa tali terurai,” ucapnya dengan suara bergetar. Sejak itu, ia tidak pernah lagi melewati jalan dekat makam setelah matahari terbenam.

Beberapa hari kemudian, kabar mencengangkan muncul. Salah satu pemuda desa yang sering terlihat berkeliaran malam hari tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Warga mencurigai dialah pelaku pencurian tali pocong itu. Malam sebelum menghilang, beberapa orang mendengar jeritan dari rumahnya. “Saya sempat dengar dia menjerit minta tolong,” kata tetangganya, Pak Kadir. “Pas kami samperin, rumahnya kosong, cuma ada bau anyir dan tali pocong yang diletakkan di lantai.” Sejak saat itu, tidak ada yang tahu di mana pemuda itu berada, seolah ditelan bumi.

Beberapa paranormal yang datang ke desa mencoba menjelaskan fenomena itu. Mereka mengatakan bahwa arwah orang yang meninggal di malam Jumat Kliwon memiliki energi kuat dan akan menuntut siapa pun yang mengusik ketenangannya. Salah satu dari mereka bahkan melakukan ritual pemanggilan arwah di dekat makam. Dalam suasana sunyi, lilin-lilin kecil berkelip tertiup angin. Tiba-tiba terdengar suara berat dari arah tanah yang digali, seperti seseorang yang berusaha berbicara dengan napas tersengal. “Kembalikan… tali… itu…” suara itu terdengar jelas dan membuat semua orang lari ketakutan. Mbah Wesi yang merasa diajak bicara langsung ketakutan, teringat perintahnya kepada Kiwer muridnya yang terkenal berperangai buruk.

Arwah yang menampakkan diri digambarkan menyeramkan kulitnya pucat kehijauan, mata membelalak tanpa bola mata, dan suaranya serak seperti berasal dari dalam tanah. Sosok itu muncul sesaat di antara kabut tebal, tubuhnya setengah terangkat dari liang lahat. Bau busuk menyengat mengiringi kemunculannya, membuat orang yang melihat hampir pingsan. Beberapa warga mengaku melihatnya di pinggir jalan menuju makam, berjalan tertatih seperti mencari sesuatu yang hilang. Sejak itu, desas-desus tentang “arwah pencari tali” yang dicuri Kiwer pun menyebar ke desa-desa sekitar.

Malam-malam di desa itu tak pernah sama lagi. Hewan-hewan peliharaan sering menggonggong ke arah makam, dan suara langkah kaki terdengar di tengah malam tanpa wujud yang terlihat. “Kadang seperti ada yang mengetuk pintu rumah saya pelan-pelan, tapi begitu dibuka, tak ada siapa-siapa,” ujar Bu Sarti lagi, matanya menerawang jauh. Anak-anak dilarang bermain di luar setelah magrib, dan warga yang dulu sering duduk di warung malam kini memilih berdiam di rumah. Ketakutan yang diperbuat Kiwer itu begitu nyata, seolah ada mata yang mengawasi dari balik kegelapan.

Beberapa waktu kemudian, makam yang rusak itu diperbaiki dan dijaga ketat oleh warga bersama aparat desa. Namun, rasa cemas tak kunjung hilang. Meski tali pocong yang hilang akhirnya ditemukan di sungai dekat rumah si pelaku, warga tetap merasa arwah sang almarhum belum tenang. “Kadang terdengar suara tangis dari arah makam,” ungkap Pak Rohim lagi. “Saya tahu itu bukan suara manusia.” Entah benar atau tidak, setiap kali malam Jumat Kliwon tiba, udara di sekitar makam terasa lebih dingin dari biasanya.

Hingga kini, misteri pencurian tali pocong itu belum sepenuhnya terungkap. Kiwer tak pernah kembali, dan arwah yang diduga marah masih menghantui warga. Kisah ini menjadi peringatan agar manusia tidak serakah dalam mencari kekuatan gaib. Karena dalam setiap langkah kegelapan, ada harga yang harus dibayar. Warga percaya, siapapun yang mencoba mengulang perbuatan itu akan mengalami nasib serupa dihantui sampai mati oleh arwah yang menuntut keadilan.

Bagi sebagian orang, kisah ini mungkin terdengar seperti legenda desa. Namun bagi warga yang tinggal di sana, setiap embusan angin malam dan setiap bayangan di antara kabut membawa kenangan menakutkan yang nyata. Di balik kisah Misteri Pencurian Tali Pocong Langkah Kegelapan Pelaku, tersembunyi pesan bahwa kematian tidak boleh dijadikan sarana kekuatan, karena dunia arwah bukanlah tempat bagi manusia untuk bermain-main. Hingga hari ini, makam itu tetap berdiri sunyi, menjadi saksi bisu antara dunia hidup dan dunia mati.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments