Energi Juang News, Magelang– Berita duka tentang meninggalnya Pak Jaidi membuat Desa Ngargogondo Magelang terasa lebih muram dari biasanya. Kecelakaan yang menimpanya di Surabaya mengejutkan semua warga, terutama karena kabar itu datang tiba-tiba tanpa tanda apa pun sebelumnya. Rumah almarhum dipenuhi isak pelan dan desah cemas, sementara awan gelap menggantung rendah seolah menutup langit desa. “Kasihan …, kok bisa datang kondisi seperti ini,” bisik seorang ibu yang berdiri dekat pagar, suaranya terdengar jelas pada sore yang begitu hening.
Wardi, tetangga dekat almarhum, menjadi salah satu yang ikut memandikan jenazah. Dari wajahnya saja sudah terlihat jelas bahwa ia baru saja menyaksikan sesuatu yang mengguncang batinnya. “Badanya sudah ada yang tak utuh lagi, seperti terhimpit alat berat,” katanya kepada salah satu warga yang mendekat, mencoba menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Warga itu mengusap tengkuknya dan membalas lirih, “Yang sabar, Di… tapi jangan heran ada yang bisik-bisik hal jelek.” Kata-kata itu membuat suasana ruangan semakin menegang, seakan ada ancaman tak kasatmata yang belum terucap sepenuhnya.
Seusai pemakaman, warga perlahan pulang dan meninggalkan area makam, tetapi rasa gelisah tetap mengiringi langkah mereka. Jalanan desa menjadi sangat sepi, dan lampu-lampu rumah tampak sengaja diredupkan lebih awal. Beberapa warga bahkan memperingatkan anak-anak untuk tidak mendekati rumah almarhum. “Jangan lewat situ, cah… nggak pas lewat situ,” ujar seorang bapak tua sambil menuntun cucunya masuk rumah. Bisikan itu tidak hanya menegaskan ketakutan, tetapi juga memberi isyarat bahwa malam mungkin membawa sesuatu yang tidak diinginkan.
Ketika malam tiba, Wardi tidak bisa memejamkan mata. Bayangan tubuh Pak Jaidi yang rusak parah kembali memenuhi pikirannya. Ia duduk di ruang depan sambil menatap jendela, berharap tidak mendengar sesuatu yang aneh dari luar rumah. Namun angin malam justru membawa suara samar yang membuat tengkuknya meremang. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara lirih yang seperti berasal dari banyak mulut, mengucapkan sesuatu yang berulang-ulang tanpa jeda.
Suara itu semakin jelas: “moleo… moleo… kromoleo…” Wardi terperanjat dan mematikan lampu ruang tamu, lalu perlahan mendekati jendela untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Tetangganya, Pak Samin, memanggil pelan dari rumah sebelah, “Di… itu suara apa? Kok kaya rombongan banyal orang?” Wardi memberi isyarat agar Pak Samin tetap di dalam rumah, karena hatinya sudah tahu bahwa suara itu bukan suara orang biasa. Getaran halus terasa pada lantai rumahnya, seolah tanah sedang merespons sesuatu yang berat.
Ketika pandangannya mulai terbiasa dengan gelap, Wardi akhirnya melihat sebuah keranda tua muncul dari ujung jalan desa. Keranda itu tidak ditutup kain seperti lazimnya, sehingga sosok tubuh yang dibungkus kain putih bisa terlihat jelas. Pengusungnya memakai jubah hitam panjang, dan wajah mereka pucat seperti tidak dialiri darah sama sekali. Mata mereka kosong, tidak berkedip, namun seolah memandang ke segala arah sekaligus. Kehadiran mereka membuat udara sekitar menurun beberapa derajat, menciptakan hawa dingin yang menusuk kulit.
Iring-iringan itu bergerak sangat perlahan, seolah waktu tidak berlaku bagi mereka. Suara langkah para pengusung tidak terdengar, tetapi gema bisikan tetap mengalun: “moleo… moleo…” Beberapa warga yang diam-diam mengintip dari balik pintu langsung menutupnya kembali dengan panik. “Astagaa… ini rombongan apa, Di!” bisik seorang tetangga dari rumah samping. Wardi hanya bisa menelan ludah saat rombongan itu mendekati perbatasan desa, seakan mengikuti jalur yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa.
Setelah iring-iringan itu menghilang di tikungan, Wardi terjatuh duduk sambil memegang dadanya. Ia ingin percaya bahwa apa yang dilihatnya hanyalah mimpi atau halusinasi, namun hawa dingin dan gema suara itu masih terasa jelas. Pak Samin muncul dari pintunya dan bertanya lirih, “Di… apa bener ya yang aku kira?” Wardi hanya menjawab, “Yang lewat tadi bukan manusia.” Keduanya saling berpandangan, tahu bahwa malam itu desa mereka baru saja didatangi sesuatu yang bukan dari dunia manusia.
Pagi harinya, sebelum matahari naik tinggi, sebuah pengumuman dari toa mushola membangunkan warga desa. “Puji mati! Ayo melayat!” Seorang pemuda berlari dari arah kebun bambu menuju balai desa. Wardi ikut berlari dan menemukan Puji tergeletak tanpa luka, tanpa darah, hanya tubuh dingin yang tampak seperti ditinggalkan jiwanya tanpa perlawanan. “Ndak mungkin ini hanya kebeneran, Di,” ujar seorang ibu sambil menangis, “ini pasti berhubungan dengan yang lewat semalam.” Ucapan itu membuat napas Wardi tercekat.
Saat warga berkumpul, Wardi berdiri memandangi tubuh Puji yang terbujur kaku. Kata-kata Pak Samin menggema di belakangnya, “Kalau Kromoleo yang lewat, berarti ada kabar duka berikutnya.” Sambil menatap jalan tempat iring-iringan gaib itu lewat semalam, Wardi merasakan ketakutan yang lebih dalam daripada sebelumnya. Kini ia mengerti bahwa kisah pengantar jenazah saksi Kromoleo bukan sekadar legenda. Wardi telah melihatnya sendiri, dan kematian yang mengikuti menjadi bukti bahwa rombongan itu masih ada. Ada saran dari orang-orang dulu untuk mengikuti rombongan Kromoleo sampai ujung perbatasan desa supaya tak ada berita duka didesa itu lagi, kalau dilanggar mungkin mereka akan kembali.
Redaksi Energi Juang News




