Kamis, Agustus 6, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMisteri Teror Murjangkung dan Boneka Sigale-gale Di Museum Wayang Jakarta

Misteri Teror Murjangkung dan Boneka Sigale-gale Di Museum Wayang Jakarta

Energi Juang News,Jakarta- Museum tua selalu memiliki cara tersendiri untuk membuat bulu kuduk berdiri. Bangunan berusia ratusan tahun menyimpan lapisan sejarah yang tidak seluruhnya mampu dijelaskan dengan logika. Di tengah hiruk-pikuk Kota Tua Jakarta, sebuah gedung tua menjadi saksi pergantian zaman, penjajahan, hingga berbagai cerita yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Banyak orang datang untuk menikmati koleksi budaya, tetapi tidak sedikit yang pulang membawa pengalaman yang sulit mereka lupakan.

Misteri Museum Wayang Jakarta bermula dari sejarah panjang bangunan yang pada masa Hindia Belanda merupakan sebuah gereja. Di bagian belakangnya pernah berdiri kompleks pemakaman para Gubernur Jenderal Belanda, termasuk makam Jan Pieterszoon Coen. Berdasarkan catatan sejarah, kerangka Coen kemudian dipindahkan oleh keluarganya ke Belanda, sementara makam pejabat kolonial lainnya dipindahkan ke pemakaman Belanda di Tanah Abang. Kini, sebuah prasasti berisi nama-nama tokoh yang pernah dimakamkan di lokasi tersebut masih dapat dilihat di dalam museum sebagai pengingat sejarah.

Suasana mulai berubah ketika matahari tenggelam. Sejumlah petugas mengaku sering mendengar suara langkah kaki, pintu terbuka sendiri, hingga bayangan hitam yang melintas di lorong-lorong museum. “Kalau malam memang berbeda rasanya,” ujar Pak Hasan, salah seorang warga yang sudah puluhan tahun tinggal di sekitar Kota Tua. “Kadang terdengar suara orang berjalan, padahal gedung sudah dikunci semua.”

Cerita yang paling sering dibicarakan adalah pengalaman seorang pegawai museum saat menggunakan kamar mandi. Ketika sedang mandi, ia mendengar suara air mengguyur tubuh seseorang dari bilik sebelah. Ia bahkan sempat melihat bayangan seseorang masuk ke dalam kamar mandi tersebut. Namun setelah selesai, ia mendapati bilik itu kosong sama sekali. Lantai tetap kering tanpa setetes air pun. “Saya langsung keluar sambil gemetar,” katanya kepada rekan-rekannya.

Baca juga :  Seram! Hantu Penunggu Waung Kerjai Sopir Truk Gandeng

Seorang petugas museum pernah memberikan kesaksian yang membuat kisah itu semakin dikenal. “Makhluk-makhluk itu sebenarnya tidak pernah mengganggu,” ujarnya pelan. “Mereka hanya seperti lewat saja.” Namun ketika ditanya tentang sosok yang paling ditakuti, wajahnya langsung berubah pucat. “Kalau Murjangkung… itu lain cerita.”

Legenda masyarakat menyebut sosok Murjangkung, yang dipercaya sebagai arwah Jan Pieterszoon Coen tanpa kepala, masih berkeliaran di sekitar bangunan tua tersebut. Meski demikian, kisah ini berbeda dengan catatan sejarah. Menurut sejarawan Adolf Heuken SJ dalam Sumber-sumber Asli Sejarah Jakarta, Jan Pieterszoon Coen meninggal karena sakit pada malam 21–22 September 1629. Ia mengalami kondisi kesehatan yang memburuk sebelum akhirnya wafat, lalu dimakamkan dengan penghormatan dan beberapa tahun kemudian dipindahkan ke gereja baru yang kini berkaitan dengan kawasan Museum Wayang. Perbedaan antara legenda rakyat dan fakta sejarah inilah yang membuat kisah Murjangkung terus menjadi perdebatan hingga sekarang.

“Orang tua saya dulu selalu bilang jangan sembarangan memanggil nama Coen kalau lewat sini malam-malam,” tutur Bu Rini, pedagang yang berjualan tidak jauh dari museum. “Katanya nanti ada suara langkah mengikuti dari belakang. Begitu menoleh, tidak ada siapa-siapa.” Ia mengaku tidak pernah berani berjalan sendirian melewati halaman museum selepas pukul sepuluh malam.

Kesan mencekam semakin kuat ketika beberapa koleksi museum dikaitkan dengan kisah supranatural, salah satunya boneka Sigale-gale dari Pulau Samosir. Dalam tradisi Batak, boneka ini digunakan pada upacara kematian tertentu. Legenda masyarakat menyebut boneka tersebut dapat menjadi tempat bersemayam arwah orang yang telah meninggal. Bahkan berkembang kepercayaan bahwa pembuat boneka Sigale-gale akan meninggal tidak lama setelah boneka itu selesai digunakan dalam ritual. Meski kisah ini merupakan bagian dari tradisi lisan dan kepercayaan masyarakat, keberadaannya tetap menambah aura mistis pada koleksi museum.

Baca juga :  Misteri Candi Lemah Duwur, Larangan Gaib yang Bikin Warga Merinding

Malam demi malam, cerita-cerita itu terus beredar dari mulut ke mulut. “Saya pernah lihat sosok tinggi memakai pakaian putih berdiri dekat prasasti,” kata seorang juru parkir kepada temannya. “Begitu saya dekati, hilang begitu saja.” Temannya hanya menggeleng pelan. “Makanya saya tidak pernah mau berjaga sendirian di sini kalau sudah lewat tengah malam.”

Terlepas dari benar atau tidaknya berbagai kisah tersebut, Museum Wayang tetap menjadi salah satu bangunan bersejarah paling menarik di Jakarta. Perpaduan antara fakta sejarah kolonial, bekas kompleks pemakaman, legenda Murjangkung, hingga cerita tentang boneka Sigale-gale membuat tempat ini memiliki daya tarik yang berbeda dari museum lainnya. Bagi sebagian orang, bangunan itu adalah saksi sejarah bangsa. Namun bagi yang pernah merasakan sendiri suasana sunyinya pada malam hari, Museum Wayang menyimpan misteri yang mungkin tidak akan pernah benar-benar terpecahkan.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments