Energi Juang News,Solo- Malam itu hujan gerimis membasahi sebuah desa tua di lereng Gunung Lawu. Kabut turun perlahan menutupi jalanan berbatu, sementara suara burung hantu sesekali memecah keheningan. Warga memilih menutup pintu lebih awal karena malam terasa lebih dingin dari biasanya. Di ujung desa, sebuah sumur tua yang telah ditumbuhi lumut tampak sunyi, tetapi tak seorang pun berani mendekatinya setelah matahari tenggelam.
Misteri Weton Senin Pon telah lama menjadi bagian dari cerita lisan masyarakat Jawa. Menurut sebagian tradisi Primbon Jawa, orang yang lahir pada weton Senin Pon dikaitkan dengan aura spiritual tertentu dan sering dihubungkan dengan kisah Sumur Sinaba. Sebagian masyarakat meyakini mereka memiliki intuisi yang tajam. Namun, keyakinan tersebut merupakan bagian dari tradisi budaya dan tidak dapat dipastikan sebagai fakta yang telah terbukti secara ilmiah.
“Jangan lama-lama menatap mata orang yang lahir Senin Pon,” bisik Mbah Karto kepada para pemuda yang sedang ronda malam. “Orang tua dulu percaya sorot matanya bisa membaca isi hati.” Seorang warga muda tertawa kecil. “Mbah, masa iya cuma dari tatapan mata?” Mbah Karto hanya tersenyum tipis. “Percaya atau tidak, cerita itu sudah ada sejak zaman simbah buyut.”
Di desa itu tinggal seorang pria bernama Wira yang lahir tepat pada hari Senin Pon. Sejak kecil ia dikenal pendiam dan jarang berbicara. Anehnya, beberapa tetangganya mengaku merasa tidak nyaman jika terlalu lama bertatap muka dengannya. “Tatapannya seperti tahu apa yang sedang kupikirkan,” ujar Bu Marni suatu sore sambil merinding mengingat pengalamannya.
Suatu malam, Wira diminta menemani Pak Darto yang hendak memeriksa sawah dekat Sumur Sinaba. Baru beberapa langkah mendekati sumur tua itu, angin mendadak berhenti berembus. Udara berubah sangat dingin, padahal sebelumnya terasa hangat. Dari dasar sumur terdengar suara gemericik air, disusul bisikan lirih yang tidak jelas asalnya.
“Wira… kamu dengar suara itu?” tanya Pak Darto dengan suara bergetar. Wira mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya ke arah sumur. Tiba-tiba ia menatap ke kegelapan di balik pohon beringin. “Pak… jangan menoleh ke belakang,” katanya lirih. Saat itu juga terdengar langkah kaki mengitari sumur, tetapi ketika Pak Darto memberanikan diri menyorotkan senter, tak ada seorang pun di sana.
Esok paginya, kabar kejadian itu menyebar ke seluruh desa. “Dari dulu Sumur Sinaba memang dianggap angker,” kata Mbah Karto kepada warga yang berkumpul di balai desa. “Orang-orang tua percaya ada penjaga yang hanya menampakkan diri kepada orang-orang tertentu.” Warga lain menimpali, “Katanya, orang yang lahir Senin Pon lebih peka terhadap hal-hal yang tidak kasatmata. Tapi semua itu tetap kembali pada keyakinan masing-masing.”
Dalam sejumlah penuturan Primbon Jawa yang berkembang di masyarakat, weton Senin Pon sering dikaitkan dengan lambang bilangan neptu 11, hasil penjumlahan hari Senin (4) dan pasaran Pon (7). Sebagian praktisi budaya Jawa menghubungkannya dengan intuisi yang kuat, termasuk mitos mengenai aura penyembuhan nonmedis, kemampuan membaca firasat, hingga perlambang kembang wijaya kusuma dalam kisah pewayangan. Meski demikian, klaim tentang kemampuan supranatural tersebut belum memiliki dasar ilmiah dan sebaiknya dipahami sebagai bagian dari warisan budaya serta kepercayaan tradisional.
Sejak kejadian di Sumur Sinaba, Wira mengaku semakin sering bermimpi bertemu sosok tua berjubah putih yang hanya berpesan agar ia selalu menjaga hati dan tidak menyalahgunakan kepekaan yang dimilikinya. “Kalau memang diberi kelebihan, gunakan untuk menolong, bukan menyombongkan diri,” ucap Wira kepada Pak Darto. Pak Darto hanya mengangguk sambil berkata pelan, “Yang paling penting tetap berdoa kepada Allah. Sebab hanya Dia yang mengetahui segala rahasia kehidupan.”
Hingga kini, warga desa masih enggan melintas di sekitar Sumur Sinaba ketika malam tiba. Cerita mengenai Misteri Weton Senin Pon terus diwariskan sebagai bagian dari tradisi lisan masyarakat Jawa. Benar atau tidaknya kisah tersebut, tak seorang pun mampu memastikan. Namun setiap kali kabut turun menutupi sumur tua itu, masih ada warga yang memilih mempercepat langkah karena merasa seolah ada sepasang mata yang diam-diam mengawasi dari balik gelapnya malam.
Redaksi Energi Juang News




