Minggu, Agustus 2, 2026
spot_img
BerandaNot & MusikKisah di Balik Lagu Jangan Menyerah D'Masiv, Dari Ruang Konflik Menjadi Lagu...

Kisah di Balik Lagu Jangan Menyerah D’Masiv, Dari Ruang Konflik Menjadi Lagu Penuh Harapan

Energi Juang News,Jakarta- Ada lagu yang sekadar enak didengar. Ada pula lagu yang terasa seperti teman ketika hidup sedang tidak baik-baik saja. Tanpa perlu banyak kata, sebuah melodi mampu menjadi pelukan bagi orang yang sedang kehilangan harapan. Tak heran jika beberapa lagu akhirnya hidup jauh lebih lama dibanding masa promosi albumnya.

Kisah Lagu Jangan Menyerah D’Masiv menjadi salah satu cerita paling menarik dalam industri musik Indonesia. Lagu yang dirilis dalam album Perjalanan pada 2010 itu ternyata lahir bukan dari situasi yang tenang. Justru sebaliknya, lagu tersebut tercipta ketika para personel D’Masiv sedang menghadapi persoalan di dalam tubuh band. Dari situasi penuh tekanan itulah lahir sebuah karya yang kemudian menjadi sumber kekuatan bagi jutaan pendengar.

Ryan Ekky Pradipta, vokalis sekaligus penulis lagu tersebut, mengungkapkan bahwa proses kreatifnya berlangsung sangat alami. Tidak ada mimpi, ilham misterius, ataupun momen dramatis yang sering dikaitkan dengan penciptaan sebuah lagu. Ide itu muncul ketika pikirannya dipenuhi berbagai persoalan yang sedang dihadapi bersama rekan-rekannya.

Ryan mulai menuangkan gagasan melalui petikan gitar sederhana dan beberapa coretan lirik. Setelah kerangka lagu selesai, ia menghubungi gitaris Dwiki Aditya Marsall atau Kiki melalui telepon untuk memperdengarkan lagu tersebut. Respons sang gitaris datang tanpa ragu.

Saat itu D’Masiv telah mengumpulkan sekitar 12 lagu untuk album kedua mereka. Menurut Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata, seluruh demo diterima oleh Musica Studio’s. Namun ada beberapa masukan penting yang justru mengubah arah lagu tersebut menjadi jauh lebih kuat secara emosional.

Salah satu sosok yang memberi sentuhan besar adalah Acin, produser dari Musica Studio’s. Awalnya proses penciptaan Jangan Menyerah dirancang dengan tempo lebih cepat dan dibuka oleh hentakan drum. Acin justru menyarankan agar tempo diperlambat dan intro drum dihilangkan..

Tanpa pembuka yang menghentak, lagu terasa lebih sunyi, lebih intim, sekaligus memberi ruang bagi lirik untuk langsung menyentuh hati pendengar. Hasil akhirnya adalah balada yang sederhana, tetapi memiliki kekuatan emosional yang luar biasa.

Perubahan besar lainnya datang dari judul lagu. Semula lagu ini menggunakan judul berbahasa Inggris, Don’t Give Up. Wahyu Piaji, sang drummer, mengingat betul bagaimana Acin kembali memberikan saran.

Baca juga :  Pop Arab Modern: Evolusi Musik Timur Tengah Menuju Panggung Dunia

Menurut Acin, penggunaan bahasa Indonesia akan membuat lagu lebih mudah diterima oleh masyarakat di berbagai daerah. Penggemar di Tegal, Surabaya, Sumatra, hingga pelosok Indonesia akan lebih mudah menyanyikan dan mengingatnya.

Meski frasa Don’t Give Up tetap muncul dalam bagian refrain, judul akhirnya diubah menjadi Jangan Menyerah. Keputusan yang terlihat sederhana itu justru membuat lagu terasa lebih dekat dengan masyarakat Indonesia.

Tak ada satu pun personel D’Masiv yang menyangka bahwa lagu tersebut akan memiliki dampak sebesar itu.

Berbagai cerita menyentuh mulai berdatangan dari para pendengar. Salah satunya berasal dari seorang ibu muda di Kalimantan. Ia mengaku lagu tersebut menjadi salah satu alasan yang menguatkan dirinya hingga akhirnya berhasil memperbaiki hubungan rumah tangganya yang nyaris berakhir dengan perceraian.

Yang lebih mengejutkan lagi, perempuan tersebut kemudian menjadi penggemar setia D’Masiv. Ia tidak hanya menonton konser di kota asalnya, tetapi juga mengikuti penampilan D’Masiv di Australia, Singapura, hingga Hong Kong dengan dukungan penuh dari sang suami.

Cerita lain datang dari seorang ibu yang mendampingi suaminya melawan penyakit berat. Lagu itu menjadi penyemangat selama masa-masa sulit mereka. Meski sang suami akhirnya meninggal dunia, kenangan terhadap lagu tersebut membuat perempuan itu tetap menjadi penggemar fanatik D’Masiv.

Bagi Ryan dan rekan-rekannya, kisah-kisah seperti inilah yang membuat makna lagu Jangan Menyerah D’Masiv jauh melampaui sekadar pencapaian di tangga lagu.

Mereka juga dibuat terkejut ketika lagu tersebut berkali-kali digunakan sebagai musik latar berbagai tayangan televisi saat Indonesia dilanda tragedi bom. Menurut Ryan, mereka tidak pernah membayangkan karya tersebut mampu menjadi simbol harapan dalam situasi yang begitu kelam.

Kontribusi lagu ini bahkan merambah dunia kemanusiaan. Lagu inspiratif D’Masiv tersebut kemudian diangkat sebagai lagu tema Yayasan Pita Kuning yang mendampingi anak-anak penderita kanker.

Ryan menceritakan bahwa D’Masiv rutin mengunjungi Rumah Sakit Kanker Dharmais untuk menghibur para pasien cilik. Menariknya, bukan hanya D’Masiv yang diminta menyanyikan lagu itu. Banyak musisi lain yang datang berkunjung juga sering mendapat permintaan membawakan Jangan Menyerah.

Baca juga :  Frederic Chopin: Musik, Tanah Air, dan Keabadian Nada

Kesuksesan tersebut tidak datang begitu saja. Sebelum album Perjalanan lahir, perjalanan D’Masiv sempat diwarnai kontroversi. Album debut Perubahan (2008) memang melejit berkat lagu Cinta Ini Membunuhku, tetapi juga menuai kritik karena beberapa lagunya dianggap terlalu mirip dengan karya musisi Barat.

Alih-alih terpuruk, kritik tersebut justru menjadi bahan bakar bagi D’Masiv untuk berkembang. Ryan dan kawan-kawan memilih menjawab kritik melalui karya.

Lagu-lagu dalam Perjalanan hadir dengan karakter yang lebih matang, aransemen yang lebih kuat, dan lirik yang lebih personal. Banyak pengamat musik menilai album ini menjadi titik pembuktian bahwa D’Masiv memiliki identitas musikal sendiri.

Kesuksesan itu membuat kehidupan lima personel berubah drastis. Dalam satu bulan mereka bisa tampil hingga 20 kali di berbagai kota, sementara sisa waktunya dipenuhi jadwal syuting televisi.

Mereka pernah terbang menggunakan pesawat kecil menuju pulau terpencil di Maluku, menempuh perjalanan darat hampir sepuluh jam di Sulawesi, hingga tampil di hadapan puluhan ribu penonton yang hafal setiap lirik lagu mereka.

Semua pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan bahwa musik yang jujur akan selalu menemukan pendengarnya.

Perjalanan D’Masiv kemudian terus berlanjut melalui album religi Indahnya Bulan Suci, berbagai kolaborasi, hingga proyek album terbaru yang diproduseri gitaris sekaligus produser kawakan Denny Chasmala.

Pesan Denny kepada D’Masiv sangat sederhana, tetapi penuh makna. Ia meminta mereka untuk tidak mengejar tren yang datang dan pergi. Sebaliknya, D’Masiv diminta memperdalam identitas musik yang telah mereka bangun sejak awal. Nasihat itulah yang hingga kini masih menjadi pegangan band yang berdiri pada 2003 tersebut.

Melihat perjalanan panjang itu, Kisah Lagu Jangan Menyerah D’Masiv bukan sekadar cerita tentang sebuah lagu populer. Lagu ini adalah bukti bahwa karya yang lahir dari kejujuran mampu melampaui batas industri musik. Ia menjadi teman bagi mereka yang sedang kehilangan harapan, menjadi pelipur lara bagi keluarga yang diuji, dan menjadi pengingat bahwa di balik setiap kesulitan selalu ada alasan untuk terus melangkah. Seperti judulnya, D’Masiv sendiri membuktikan bahwa mereka memang tidak pernah memilih untuk menyerah.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments