Rabu, Juli 29, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMisteri Buaya Putih Sungai Brantas, Penunggu Jembatan Lama Kediri yang Konon Meminta...

Misteri Buaya Putih Sungai Brantas, Penunggu Jembatan Lama Kediri yang Konon Meminta Tumbal

Energi Juang News, Kediri-Sungai Brantas merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo. Panjangnya mencapai sekitar 320 kilometer dengan daerah aliran sungai seluas kurang lebih 18.800 kilometer persegi. Sungai yang berhulu di Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, ini mengalir melewati Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, hingga Mojokerto. Di balik perannya sebagai sumber kehidupan, sungai ini juga melahirkan berbagai cerita rakyat yang masih hidup di tengah masyarakat.

Dalam cerita yang berkembang di kawasan Kediri, Buaya Putih Sungai Brantas dipercaya sebagai penjaga gaib yang menghuni kawasan Jembatan Lama Kediri. Sosoknya digambarkan berukuran jauh lebih besar daripada buaya biasa, dengan sisik putih pucat yang berkilau saat terkena cahaya bulan. Kemunculannya dipercaya menjadi pertanda buruk, terutama ketika debit air meningkat atau menjelang malam.

“Kalau air sungai mendadak tenang sekali, jangan coba-coba turun,” kata Pak Kasan, nelayan yang telah puluhan tahun mencari ikan di Brantas. “Orang tua dulu selalu bilang, itu saat Buaya Putih sedang naik ke permukaan.” Ucapannya membuat seorang pemuda yang hendak memancing mengurungkan niatnya. Ia memilih duduk di tepian sambil memandangi arus yang tampak damai, meski terdengar gemuruh samar dari dasar sungai.

Legenda mengenai buaya putih bahkan disebut telah muncul dalam catatan pemerintahan kolonial Belanda sekitar tahun 1836 hingga 1876, ketika pembangunan Jembatan Lama Kediri mengalami berbagai hambatan. Dalam cerita rakyat yang beredar, proyek tersebut baru berjalan lancar setelah dilakukan ritual tumbal. Meski kisah itu tidak memiliki bukti sejarah yang dapat diverifikasi, cerita tersebut masih sering diceritakan oleh para sesepuh sebagai bagian dari sejarah lisan masyarakat.

Tidak hanya di kawasan Jembatan Lama, sebagian warga juga mengaitkan sosok buaya putih dengan wilayah Bandung Saketo di Kecamatan Keras, Kabupaten Kediri. Menurut legenda, dahulu makhluk gaib penghuni tempat itu hidup berdampingan dengan manusia. “Kalau ada hajatan, warga cukup mengajukan permintaan,” tutur Mbah Wiryo. “Peralatan dapur, piring, sampai perlengkapan pesta akan muncul sendiri. Tapi semuanya harus dikembalikan sebelum matahari terbit.”

Baca juga :  Sirine Tanpa Sopir di Ujung Jalan Sunyi

Hubungan itu, menurut cerita turun-temurun, akhirnya berakhir karena keserakahan manusia. Ada warga yang sengaja menyembunyikan sebagian peralatan agar bisa dimiliki selamanya. Sejak saat itu, bantuan gaib tidak pernah muncul lagi. “Sejak kejadian itu, suara auman dari sungai sering terdengar setiap malam Jumat,” bisik seorang perempuan tua kepada cucunya. “Katanya penunggunya sudah murka.”

Di antara berbagai kisah yang beredar, masyarakat juga mengenang cerita tragis tentang seorang perempuan bernama Marni. Konon, ia menjadi korban tenggelam di sekitar jembatan Sungai Brantas. Sejak saat itu, sebagian warga mengaku pernah melihat sosok perempuan berambut panjang berdiri di atas jembatan menjelang tengah malam, menatap air tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebelum perlahan menghilang ditelan kabut.

“Jangan panggil nama siapa pun saat melintasi jembatan malam hari,” ujar seorang pengemudi perahu kepada penumpangnya. “Kalau terdengar suara perempuan memanggil dari tengah sungai, jangan dijawab.” Penumpang itu hanya terdiam. Di kejauhan, terdengar suara cipratan air disusul aroma anyir yang tiba-tiba terbawa angin, sementara permukaan sungai tetap tampak tenang tanpa riak sedikit pun.

Dari sudut pandang ilmiah, Sungai Brantas memang memiliki karakter arus bawah yang kuat meskipun permukaannya terlihat tenang. Kondisi tersebut dapat membahayakan siapa saja yang berenang atau beraktivitas tanpa memperhatikan keselamatan. Karena itu, banyak budayawan menilai legenda buaya putih dan kisah Marni merupakan simbol agar masyarakat selalu menghormati sungai, menjaga lingkungan, dan tidak menganggap remeh kekuatan alam.

Hingga kini, legenda Buaya Putih Sungai Brantas masih menjadi bagian dari cerita rakyat yang sering dibagikan di warung kopi, pos ronda, hingga perkampungan di sepanjang aliran sungai. Benar atau tidaknya kisah tersebut tidak pernah dapat dibuktikan secara ilmiah. Namun ketika malam mulai turun, kabut menyelimuti Jembatan Lama Kediri, dan suara arus terdengar semakin berat, sebagian warga memilih mempercepat langkah. Mereka percaya, ada penunggu yang lebih suka dibiarkan tetap menjadi legenda daripada harus ditemui secara langsung.

Baca juga :  Ledakan Musik Digital Indonesia: Antara Streaming dan Realita Industri

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments