Energi Juang News,Solo-Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa yang mengaliri sekitar 17 kabupaten di Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Sejak dahulu, sungai ini menjadi jalur perdagangan, sumber kehidupan, sekaligus melahirkan beragam cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di antara banyak kisah yang berkembang, ada satu lokasi yang hingga kini membuat para nelayan memilih menundukkan kepala ketika melintas, terutama saat senja mulai turun.
Dalam cerita rakyat setempat, Kedung Maya Bengawan Solo berada di kawasan utara Ngawi, tepatnya di wilayah yang dikenal dengan nama Kerek. Warga percaya lokasi itu memiliki arus yang berbeda dari bagian sungai lainnya. Meski permukaannya tampak tenang, pusaran air di bawahnya sangat kuat sehingga sering menyulitkan perahu yang melintasi tikungan sungai tersebut. Karena itulah tempat itu dijuluki Kerek, sebab konon perahu yang lewat seolah “dikerek” atau dituntun oleh kekuatan yang tak terlihat.
“Kalau lewat sini jangan banyak bicara sembarangan,” ujar Pak Darmo, nelayan senior yang telah puluhan tahun mencari ikan di Bengawan Solo. “Apalagi kalau mengejek atau berkata kasar. Orang tua kami percaya sungai ini bisa mendengar.” Seorang pemuda yang berada di atas perahu hanya mengangguk sambil memandang pusaran air yang perlahan membentuk lingkaran besar di tengah kedung.
Legenda Kedung Maya berawal dari Ki Ageng Kuwung, seorang pejabat pada masa Kerajaan Pajang. Suatu hari, ia menemukan seorang anak laki-laki hanyut dan tersangkut di pepohonan di tepian Bengawan Solo. Anak itu diselamatkan lalu diberi nama Djaka Sangsang. Seiring waktu, Djaka tumbuh menjadi pemuda tampan dan jatuh cinta kepada putri Ki Ageng Kuwung yang bernama Dewi Maya. Cinta mereka berakhir di pelaminan, tetapi justru membuat Ki Ageng Kuwung merasa malu karena menantunya hanyalah anak angkat tanpa asal-usul yang jelas.
Untuk memisahkan keduanya, Ki Ageng Kuwung mengirim Djaka Sangsang ke Kerajaan Pajang dengan membawa sepucuk surat. Tanpa diketahui Djaka, isi surat tersebut meminta agar ia dijadikan abdi kerajaan untuk selamanya. Ketampanan Djaka membuat Putri Pajang jatuh hati hingga akhirnya mereka menikah. Sementara itu, Dewi Maya tetap menunggu kepulangan suaminya yang tak pernah datang.
“Hari ini pasti Mas Djaka pulang,” bisik Dewi Maya setiap sore sambil menatap aliran Bengawan Solo. Namun hari berganti minggu, minggu berubah menjadi bulan, bayangan suaminya tak juga terlihat. Warga desa hanya mampu saling berpandangan. “Kasihan Nimas Maya,” ucap seorang perempuan tua lirih. “Ia belum tahu suaminya telah hidup bersama perempuan lain.”
Tak sanggup lagi menahan rindu, Dewi Maya memutuskan menyusul ke arah Kerajaan Pajang. Dalam perjalanan menyusuri tepian sungai, ia terpeleset lalu terseret arus deras Bengawan Solo. Tubuhnya menghilang tepat di sebuah kedung yang sangat dalam. Sejak saat itu, masyarakat menamai tempat tersebut sebagai Kedung Maya untuk mengenang tragedi sang putri yang tak pernah ditemukan.
Ketika Djaka Sangsang akhirnya mengetahui kabar hilangnya Dewi Maya, ia segera kembali ke Desa Kuwung. Di hadapan pusaran air yang sunyi, warga percaya sosok Dewi Maya muncul dengan pakaian putih yang basah kuyup. “Mas… kenapa kau tinggalkan aku?” terdengar suara lirih dari tengah sungai. Tanpa berpikir panjang, Djaka berlari lalu melompat ke dalam kedung demi mengejar bayangan istrinya. Ia pun lenyap ditelan pusaran air dan tak pernah muncul kembali.
Tak lama kemudian, Putri Pajang menyusul mencari suaminya. Mendengar Djaka ikut hilang di Kedung Maya, ia menangis histeris di tepian sungai. “Kalau begitu, aku akan menemanimu sampai akhir,” teriaknya sebelum ikut menjatuhkan diri ke dalam pusaran. Sejak saat itu, masyarakat meyakini tiga arwah tersebut masih menjaga kedung yang menjadi saksi kisah cinta penuh pengkhianatan dan penyesalan.
Hingga sekarang, para nelayan masih menganggap Kedung Maya sebagai lokasi yang harus dihormati. Mereka menghindari berkata kasar, tidak bersiul, serta selalu berhati-hati ketika melintasi arus yang deras. Dari sisi ilmiah, kawasan sungai yang memiliki tikungan tajam memang dapat membentuk pusaran berbahaya yang berisiko membalikkan perahu. Sementara itu, legenda Kedung Maya tetap hidup sebagai bagian dari kekayaan folklor Bengawan Solo sekaligus pengingat agar manusia menghormati alam dan tidak meremehkan kekuatan sungai.
Redaksi Energi Juang News



