Berita Energi Juang, Jakarta- Nama Gregek Tunggek berasal dari bahasa Bali. Kata “gregek” menggambarkan kondisi tubuh gemetar atau merinding karena ketakutan, sementara “tunggek” adalah suara nafas berat, seperti orang nafas atau makhluk yang mengeluarkan suara lirih namun menakutkan di tengah malam.
Ada yang menarik dari kisah menyeramkan yang diceritakan Deni seorang pria asal Bayuwangi yang bekerja pada salah satu perusahaan properti di bali.Ia mengisahkan berawal pada suatu malam ketika Deni pulang kerja menuju rumah nya yang berada di sebuah desa kecil di Bali bagian utara. Karena cuaca hujan seperti biasa ia memilih jalan kaki lewat desa yang sepi supaya lebih cepat sampai kerumah. Waktu itu waktu menunjukkan pukul 23.00 menuju Tengah malam.
Beberapa menit Deni menyusuri jalan setapak, ia mengaku mendengar suara “heeeuuhccrrh.. heeeuuhccrrh.. heeeuuhccrrh.. “ suara napas berat di belakangnya. Awalnya ia mengacuhkan suara itu, namun karena suara itu seolah makin mendekat, Suara itu seolah mengikuti sejak beberapa menit lalu. Penasaran, kemudian ia memutuskan menghentikan langkahnya.
Betapa terkejut dan takut Deni saat menoleh kebelakang, melihat sosok wanita berambut panjang menjuntai hingga ke tanah, mengenakan pakaian tradisional Bali yang lusuh dan basah, seolah baru keluar dari kuburan. Wajahnya sering tak terlihat jelas, namun matanya merah menyala, dan ia mengeluarkan suara napas seperti orang megap-megap, perlahan tapi menghantui. Seketika kaki Deni dirasa kaku dan berat untu melangkah.
Yang membuat sosok itu lebih menyeramkan,Ketika Deni teringat cerita penduduk sekitar bahwa sosok itu disebut-sebut muncul bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menjemput, baik nyawa, maupun orang yang punya hutang karma atau dosa besar yang belum ditebusnya.
Menurut cerita warga lagi, Gregek Tunggek dulunya adalah seorang wanita desa yang dibunuh dengan kejam oleh keluarganya sendiri karena dibawa membawa malu. Ia mati dengan penuh dendam dan jasadnya tidak diterima oleh bumi.
Karena itu arwahnya pun gentayangan, mengganggu warga yang melintas dimalam sunyi untuk mencari pelampiasan.
Deni teringat beberapa hari lalu ada seorang gadis tetangganya meninggal bunuh diri dan dimakamkan disekitar tempat tersebut. Hal itu yang membuat Deni semakin merinding ketakutan.
Beberapa waktu kemudian tak kuat menahan rasa takut, Ia langsung pingsan dan bangun keesokan paginya dengan demam tinggi.
Warga percaya, itu ulah Gregek Tunggek yang mengikutinya tapi tetap meninggalkan jejak rasa takut yang dalam.
Konon beberapa tetua adat menyarankan untuk tidak berjalan sendirian di malam hari. Apalagi di jalan-jalan yang sepi dan lembab serta membawa dupa atau canang sari dipercaya bisa menjauhkan energi negatif.
Namun Deni punya keyakinan bahwa sebagai perantau Ketika memasuki wilayah orang seharusnya mengucapkan doa khusus atau membawa jimat penolak bala. Dan tidak menganggap remeh kearifan lokal termasuk keberadaan hantu Gregek Tunggek tersebut.
Redaksi Energi Juang News



