Minggu, April 19, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaLorong Dunia Arwah yang Mengurung Jiwa

Lorong Dunia Arwah yang Mengurung Jiwa

Energi Juang News, Cilacap–Kisah lorong dunia arwah ini berawal dari Budi, seorang pekerja kantor asuransi di Cilacap yang hampir setiap malam pulang larut karena tuntutan pekerjaan dan tempat tinggalnya yang berjarak 20 kilometer ia harus mengontrak. Untuk sampai ke kontrakannya, ia harus melewati sebuah lorong sempit dan gelap yang sudah lama dikenal warga sekitar sebagai tempat angker. Lampu jalan sering mati, dindingnya lembap, dan udara terasa lebih dingin dari jalan lain. “Jangan lewat situ kalau bisa, Mas,” pesan Pak Rawan, tukang ronda, namun Budi selalu menepisnya sambil berkata, “Ah, cuma lorong biasa.”

Warga sekitar sering berkumpul di pos ronda dekat mulut lorong itu. Suatu malam, seorang ibu berbisik, “Dulu ada anak hilang di situ, nggak pernah ketemu.” Pak Rawan menimpali dengan suara berat, “Kadang terdengar tawa kecil tengah malam.” Lorong itu dulunya makam orang tak dikenal yang dijadikan jalan oleh warga. Budi mendengarnya sambil tertawa kaku, menganggap cerita itu hanya untuk menakuti pendatang. Namun setiap kali ia melangkah masuk lorong, bulu kuduknya berdiri, seolah ada mata yang mengintai dari balik bayangan.

Pada suatu malam yang sunyi, Budi melihat sosok anak kecil berdiri di ujung lorong. Tubuhnya kurus, tanpa baju, kulitnya pucat kebiruan, dengan taring kecil mencuat dari mulutnya. Matanya merah berair seperti berdarah, dan ia cekikikan sambil berkata, “Ayo main…” Suara itu melengking, membuat jantung Budi berdegup kencang. Anehnya, kakinya melangkah mengikuti sosok itu, seolah ada dorongan yang tak bisa ia lawan.

Sosok anak itu berhenti di depan sebuah pintu besi berkarat yang sebelumnya tak pernah Budi lihat. “Pintu ini nggak ada kemarin,” gumamnya. Saat disentuh, pintu itu terbuka sendiri, memancarkan cahaya kelabu. Begitu melangkah masuk, Budi merasa tubuhnya ringan dan dunia di belakangnya menghilang. Di hadapannya terbentang sebuah kota sunyi dengan bangunan tua dan jalanan berkabut, penuh arwah yang tampak seperti manusia, namun matanya kosong dan senyumnya kaku.

Baca juga :  Misteri Hantu Boneka Uci di Jalan Siliwangi Bandung

Arwah-arwah itu berjalan perlahan, beberapa dengan luka menganga, sebagian tanpa bayangan. Seorang pria tua mendekat dan berkata lirih, “Kau masih hidup, bantu kami.” Suaranya seperti angin dari liang kubur. Budi mundur ketakutan, namun seorang perempuan berwajah hangus menangis sambil memegang tangannya. “Kami terjebak,” katanya. Aura dingin menusuk tulang, dan bau anyir kematian memenuhi udara, membuat Budi sadar bahwa ia telah masuk dunia arwah.

Budi mencoba mencari jalan keluar, membuka setiap pintu rumah yang ia temui, namun semuanya kembali ke jalan yang sama. Arwah-arwah semakin mendekat, bukan untuk menyerang, melainkan memohon. “Aku mati tertabrak, jasadku tak pernah dimakamkan,” ujar satu arwah. Yang lain berbisik, “Aku meninggalkan anakku.” Dari mereka, Budi mengetahui bahwa dunia itu menahan arwah yang meninggal tragis atau memiliki urusan yang belum selesai di dunia nyata.

Waktu terasa tidak berjalan normal. Kabut semakin tebal, dan sosok anak bertaring itu muncul kembali, berdiri di atap bangunan sambil tertawa. Budi gemetar, dan ketakutan. Seolah arwah-arwah itu menyampaikan pesan, menenangkan jiwa mereka, dan berjanji akan menyampaikan kebenaran kepada keluarga mereka di dunia nyata jika berhasil keluar.

Satu per satu, arwah yang terbantu berubah menjadi cahaya redup lalu menghilang. Kota itu mulai retak, bangunan runtuh seperti abu. Di tengah kekacauan, muncul sebuah pintu bercahaya. “Itu jalanmu,” kata arwah pria tua sambil tersenyum untuk pertama kalinya. Sebelum melangkah, Budi berkata, “Aku janji akan membantu kalian.” Jeritan dan tangisan bergema, lalu semuanya lenyap saat ia melewati pintu itu.

Budi tersadar di lorong gelap, tubuhnya tergeletak di tanah. Pak Rawan dan warga mengerubunginya. “Mas, kamu pingsan tak ada yang lihat mas lewat sini,” kata Pak Rawan. Padahal bagi Budi, rasanya seperti berhari-hari mengalami kurungan dimensi lain. Ia melihat lorong itu kini tampak biasa, namun di sudut matanya, ia masih melihat bayangan anak kecil dan sosok lainnya sebelum menghilang ke dinding.

Baca juga :  Gunung Raung : Jejak Tapak Kaki Pendaki Yang Penuh Nuansa Mistis

Sejak malam itu, Budi tak pernah lagi pulang larut atau melewati lorong tersebut. Ia sering menceritakan pengalamannya kepada warga, membuat mereka semakin menghormati tempat itu. “Lorong dunia arwah bukan sekadar cerita,” ujar Pak Rawan serius. Budi tahu, pengalaman itu akan selalu menghantuinya, menjadi pengingat bahwa dunia manusia dan dunia arwah hanya dipisahkan oleh satu pintu yang tak semua orang bisa kembali darinya.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments