Senin, April 20, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaKematian Timothy: Momentum Perangi Budaya Kematian di Kampus

Kematian Timothy: Momentum Perangi Budaya Kematian di Kampus

Oleh Hiski Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Tewasnya seorang mahasiswa bernama Timothy Anugerah Saputra yang diduga kuat akibat dari bullying atau perundungan, kembali membuka mata publik akan ‘budaya’ perundungan yang mematikan.

Meskipun perundungan dalam kasus itu masih dugaan, perundungan memang menjadi permasalahan serius yang menerpa dunia pendidikan kita, termasuk pendidikan tinggi.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mencatat, sejak 2021-2024 ada 310 laporan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi. Dan dari jumlah itu, kasus perundungan mencapai 38,7 persen.

Data itu tentu merupakan pengingat, bahwa kampus harus menjadi ruang aman bagi seluruh civitas academica, terutama mahasiswa. Sebagai generasi penerus bangsa, mahasiswa berhak untuk tumbuh dan berkembang tanpa rasa takut.

Kampus atau dunia pendidikan tinggi adalah tempat untuk belajar, bukan tempat untuk menindas, merusak, mempermalukan, atau menyingkirkan seseorang.

Kampus beserta aparatusnya harus memastikan setiap mahasiswa merasa aman dan dihargai. Tindakan mengejek, merendahkan, atau menindas sesama mahasiswa, merupakan kekerasan psikologis yang harus dicegah.

Apalagi regulasi tentang hal itu sudah berlaku, yakni Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 55 Tahun 2024 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi.

Peraturan itu harus segera diimplementasikan secara nyata oleh seluruh universitas di Indonesia.

Seiring dengan penerapan regulasi itu,  budaya empati dan solidaritas di kalangan mahasiswa juga harus dibangun. Termasuk dalam organisasi kemahasiswaan dan komunitas kampus.

Tak boleh ada lagi ruang untuk perundungan dalam wujud apapun. Perundungan adalah bagian dari budaya kematian, yang tidak bersahabat dengan sistem kehidupan manusia.

Kini saatnya seluruh perguruan tinggi melakukan reformasi budaya, agar budaya kematian tak tumbuh di lingkungan kampus.

Redaksi Energi Juang News

Baca juga :  Darurat Perlindungan Anak : Pemerintah Kurang Peduli
Hizkia Darmayana
Hizkia Darmayanahttps://energijuangnews.com/
Hidup Hanya Sekali, Maka Buatlah Berarti. Pimpinan Redaksi dari EnergiJuangNews.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments