Energi Juang News,Semarang- Di ujung desa Karangjati, ada sebuah sumur tua yang dikelilingi pepohonan besar.
Letaknya di tengah ladang kosong dan udah lama nggak dipakai. Tapi warga desa percaya, sumur itu bukan cuma sekadar sumur. melainkan rumah dari sosok penunggu yang nggak bisa dianggap remeh.
Salah satu warga, Manto, adalah petani yang tiap hari kerja di ladang deket sumur itu.
Awalnya, hidupnya tenang-tenang aja. Sampai suatu hari, saat matahari mulai terbenam dan dia mau pulang, terdengar suara tangisan samar dari arah sumur.
Suara itu lirih, seperti suara perempuan yang sedih banget. Awalnya dia cuek, tapi makin lama makin jelas. Rasa penasaran ngalahin rasa takut. Dia pun jalan mendekat ke sumur tua itu.
Waktu ngintip ke dalam sumur, gelap banget, nggak keliatan apa-apa. Tapi suara “tolong…” terdengar jelas banget dari dalam.
Manto bergidik, tapi tetap nekat nanya, “Siapa di sana?” Tapi nggak ada jawaban. Tangisannya justru berhenti.
Dia pikir mungkin cuma halusinasi. Tapi pas dia mau balik badan, sosok wanita tiba-tiba muncul di depannya.
Mukanya hancur. Matanya kosong, nggak punya bola mata. Mulutnya robek sampai ke telinga.
Manto langsung mundur ketakutan, hampir jatuh. Tapi sebelum dia bisa ngapa-ngapain, sosok itu lenyap cuma ninggalin bau anyir yang nusuk banget.
Malam itu, Manto nggak bisa tidur. Wajah hancur wanita itu terus muncul di kepalanya.
Besoknya, Manto cerita ke Mbah Mijan, sesepuh desa yang dihormatin banyak orang.
Denger cerita itu, Mbah Mijan langsung terdiam. Lalu dia cerita soal kisah lama yang udah hampir dilupain orang.
Dulu banget, ada seorang gadis bernama Kedasih. Cantik, baik, dan disukai banyak orang.
Tapi nasibnya tragis, dia ditemukan meninggal di dalam sumur tua itu, dengan luka-luka yang mengenaskan.
Orang-orang percaya, dia jadi korban dari sebuah kejahatan. Sejak saat itu, arwahnya dipercaya jadi penunggu sumur, nunggu keadilan yang nggak pernah datang.
Nah ternyata, setelah pertemuan Manto sama arwah Kedasih, hidupnya nggak pernah sama lagi.
Setiap malam, Manto sering denger suara tangisan dari luar rumah. Dia juga sering mimpi buruk.
Tapi yang paling parah terjadi suatu malam, ketukan keras di pintu rumahnya bikin dia kebangun. Waktu dibuka, nggak ada siapa-siapa.
Tapi di depan pintu, ada jejak kaki basah yang menuju ke dalam rumahnya. Dan waktu dia nengok ke cermin, wanita itu ada di belakangnya. Senyum lebar, mulut robek, mata kosong. Manto hampir pingsan.
Wanita itu cuma bilang satu kalimat: “Namaku Kedasih. Aku cuma mau keadilan.”
Cerita Manto bikin geger desa. Warga akhirnya minta bantuan dari Mbah Mijan buat ngelakuin ritual pembersihan.
Tapi sebelum itu, satu rahasia besar akhirnya terbongkar. Pak Karim, mantan kepala desa, akhirnya ngaku kalau dialah yang bikin Kedasih meninggal.
Dulu, dia pernah lamar Kedasih tapi ditolak. Karena dendam, dia ngelakuin hal keji yang bikin Kedasih tewas.
Pengakuan itu datang dengan air mata. Tapi sesal di akhir nggak pernah cukup buat hapus dosa. Setelah ritual dijalankan, sumur tua itu mulai tenang.
Gangguan di rumah Manto berhenti. Arwah Kedasih diyakini udah dibebaskan dan bisa istirahat dengan damai.
Meskipun sumur itu sekarang udah sepi, warga Karangjati tetap menganggapnya suci. Nggak ada yang berani ganggu atau main-main di sekitarnya.
Kisah tentang Kedasih dan sumur tua itu jadi pelajaran berharga buat semua orang bahwa kejahatan sekecil apa pun nggak akan pernah bisa disembunyikan selamanya.
Kamu percaya nggak, kalau kebenaran itu pasti akan muncul, cepat atau lambat?
Arwah Kedasih mungkin udah pergi, tapi kisah hidup dan kematiannya akan selalu hidup di hati warga Karangjati.
Redaksi Energi Juang News




