Selasa, Agustus 25, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMitos Jembatan Jirak, Pengantin Dilarang Lewat

Mitos Jembatan Jirak, Pengantin Dilarang Lewat

Energi Juang News,Yogyakarta- Jembatan Jirak berada di Padukuhan Munggi, Kalurahan Semanu, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Jembatan ini membentang di atas Sungai Jirak dan menjadi jalur yang cukup ramai bagi kendaraan dari arah Wonosari maupun sebaliknya. Tidak ada bentuk menyeramkan pada bangunannya. Iklan produk, bendera partai politik, dan papan penunjuk arah justru membuat suasananya seperti jembatan biasa. Tetapi ketika malam datang, cerita lama tentang pantangan pengantin baru kembali menjadi bahan pembicaraan warga.

Menurut Ketua Kalurahan Budaya Semanu, Sumaryanto, sebagian masyarakat masih memegang kepercayaan bahwa pasangan yang baru menikah sebaiknya tidak melintas di sekitar jembatan tersebut, terutama sebelum melewati masa 35 hari setelah pernikahan. “Sampai saat ini masih ada yang percaya. Kalau manten belum genap sepasar, rata-rata sampai selapanan 35 hari mereka belum berani lewat,” ujarnya. Bagi warga yang masih memegang tradisi, pantangan itu bukan sekadar cerita untuk menakut-nakuti pengantin baru.

Konon, jika seorang pengantin pria terpaksa melewati jembatan tersebut, ia harus membawa sesaji tertentu. Ayam hitam atau ayam cemani, beras kuning, dan uang logam disebut sebagai perlengkapan yang dipercaya dapat menjadi simbol keselamatan. “Orang tua dulu selalu mengingatkan, kalau belum selapan jangan lewat sana,” kata seorang warga Semanu. “Bukan karena jembatannya jelek, tetapi karena ada cerita yang sudah turun-temurun.”

Cerita paling mengerikan bermula sekitar tahun 1929. Pada masa itu, Jembatan Jirak konon masih berupa jembatan bambu. Alkisah, sepasang pengantin baru nekat melintas meski usia pernikahan mereka belum genap tujuh hari. Tidak lama kemudian, keduanya dikabarkan menghilang tanpa jejak. Warga yang mencari mereka justru menemukan dua batu besar di bawah jembatan. Batu tersebut kemudian dikenal sebagai Watu Manten atau Batu Kawin.

Baca juga :  Misteri Kedung Maya Bengawan Solo, Legenda Cinta yang Berakhir Menjadi Tumbal Sungai

“Orang-orang zaman dulu percaya kedua batu itu berkaitan dengan pasangan pengantin yang hilang,” tutur seorang sesepuh warga. “Katanya mereka lewat saat belum waktunya. Setelah itu muncul dua batu di bawah jembatan.” Tidak ada bukti sejarah yang dapat memastikan kisah tersebut sebagai peristiwa nyata. Namun, cerita itu terus diwariskan sehingga Watu Manten menjadi bagian penting dalam legenda masyarakat sekitar.

Yang membuat kisah tersebut semakin dipercaya adalah munculnya berbagai cerita tentang pasangan yang disebut mengalami kesialan setelah melanggar pantangan. Ada yang dikaitkan dengan kesulitan memperoleh keturunan, masalah rezeki, hingga rumah tangga yang tidak harmonis. Bagi masyarakat modern, berbagai kejadian tersebut tentu tidak otomatis memiliki hubungan dengan jembatan. Namun dalam cerita rakyat, rangkaian kisah semacam itu membuat larangan tersebut semakin kuat.

Seorang warga bahkan mengaku pernah melihat pasangan pengantin berhenti cukup lama sebelum melewati jembatan. “Saya pernah melihat mobil pengantin berhenti. Sopirnya turun, lalu seperti berdiskusi dengan keluarga. Setelah itu mereka putar balik,” katanya. Ketika ditanya alasannya, keluarga tersebut hanya menjawab singkat, “Belum selapan.” Jawaban sederhana itu justru membuat warga semakin yakin bahwa tradisi tersebut masih hidup.

Bagi sebagian masyarakat, ketakutan bukan hanya muncul karena cerita pasangan yang hilang. Ada pula kisah-kisah kecil tentang suara aneh, hawa dingin, atau perasaan seperti sedang diperhatikan ketika seseorang berada di sekitar jembatan pada malam hari. “Kalau malam dan jalan sedang sepi, suasananya memang berbeda,” ujar seorang warga. “Kadang bulu kuduk berdiri sendiri. Tapi apakah itu karena makhluk gaib atau karena tempatnya sepi, tidak ada yang tahu.”

Sumaryanto sendiri menegaskan bahwa kisah tersebut merupakan bagian dari cerita rakyat yang berkembang di masyarakat. “Ini adalah cerita rakyat. Jika ditanya kebenaran, Wallahu alam. Namun secara singkat ceritanya seperti itu,” katanya. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa mitos Jembatan Jirak lebih tepat dipahami sebagai bagian dari tradisi dan budaya masyarakat Semanu, bukan fakta mengenai kejadian supernatural.

Baca juga :  Kisah Pedih Penari Ronggeng Kembar Dan Korban 67 Nyawa Di Jembatan Sewo

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments