Energi Juang News, Belitung-Ketika suara mesin telah berhenti dan jalan tanah mulai ditelan gelap, hanya bunyi angin yang menyusup di antara pepohonan. Warga yang sudah lama tinggal di sekitar kawasan itu memahami satu hal: ada tempat-tempat yang sebaiknya tidak dilewati sendirian setelah tengah malam. “Kalau sudah lewat jam dua belas, jangan macam-macam. Apalagi kalau dengar suara orang memanggil dari belakang,” ujar seorang warga tua yang memilih tidak disebutkan namanya. Ia kemudian terdiam, seolah masih mengingat sesuatu yang tidak ingin diceritakannya.
Cerita mengenai Hantu Penebok Belitung telah lama beredar di tengah masyarakat, terutama di kawasan yang memiliki sejarah panjang pertambangan timah. Sosoknya digambarkan mengerikan: tubuh manusia tanpa kepala yang dipercaya berkeliaran mencari korban. Legenda ini konon telah terdengar sejak masa kolonial, ketika aktivitas penambangan timah mulai berkembang di Belitung. Dari mulut ke mulut, kisah itu berubah menjadi cerita yang semakin gelap, terutama mengenai seorang noni Belanda yang dipercaya menjadi asal-usul makhluk tersebut.
Menurut cerita yang berkembang, perempuan itu bukan sekadar korban biasa. Ia disebut memiliki hubungan dengan tanah yang kemudian menjadi kawasan pertambangan. Ketika berusaha mempertahankan tanahnya, ia justru mengalami nasib tragis. Konon, ia dikurung dan kemudian dibuang ke sebuah kawasan di Belitung Timur yang dikenal sebagai Pulau Dapur. Tidak ada yang benar-benar dapat memastikan bagaimana peristiwa tersebut terjadi. Namun dalam cerita rakyat, kematiannya menjadi awal dari kemunculan sosok tanpa kepala yang kemudian disebut penebok. “Orang dulu bilang, dia mati dengan dendam yang belum selesai,” tutur seorang warga setempat. “Makanya rohnya tidak pernah benar-benar pergi.”
Kengerian legenda itu semakin terasa karena cara kemunculannya yang dipercaya berbeda dari hantu pada umumnya. Hantu tanpa kepala tersebut konon tidak sekadar menampakkan diri kepada orang yang sedang lewat. Ia dipercaya mencari kepala manusia sebagai korban. Ada cerita tentang suara langkah kaki yang terdengar mengikuti seseorang dari belakang, tetapi ketika menoleh tidak ada siapa-siapa. Ada pula kisah tentang bayangan putih yang berdiri di antara pepohonan. “Jangan pernah menoleh kalau ada suara langkah mengikuti,” kata seorang lelaki tua kepada anak-anak di kampungnya. “Kalau kamu menoleh, katanya dia sudah dekat.”
Bagi masyarakat, cerita tersebut semakin menyeramkan karena dikaitkan dengan beberapa kasus penemuan jasad tanpa kepala. Salah satu kasus yang sering disebut dalam pembicaraan warga terjadi pada 2008. Cerita serupa kemudian kembali dikaitkan dengan kejadian pada rentang 2017 hingga 2021. Meski legenda dan fakta kriminal merupakan dua hal yang berbeda, kabar tentang penemuan jasad tanpa kepala membuat imajinasi masyarakat semakin liar. Setiap kejadian tragis kemudian mudah dihubungkan dengan sosok tanpa kepala yang selama puluhan tahun telah menghuni cerita rakyat Belitung.
Pada malam tertentu, kisah itu bahkan masih digunakan orang tua untuk menakut-nakuti anak-anak agar tidak keluar rumah sembarangan. “Kalau main malam-malam, nanti kepalamu diambil penebok,” begitu kira-kira ancaman yang diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagi anak kecil, kalimat tersebut tentu bukan sekadar cerita. Bayangan tentang sosok tanpa kepala yang membawa kematian bisa membuat suara ranting patah di halaman rumah terdengar seperti langkah kaki makhluk gaib. Di sinilah legenda itu menemukan kekuatannya: bukan hanya melalui penampakan, tetapi melalui ketakutan yang diwariskan.
Ada pula cerita warga mengenai kawasan bekas aktivitas tambang yang berubah menjadi tempat penuh misteri setelah malam turun. Jalan yang siang hari tampak biasa saja mendadak terasa asing ketika hanya diterangi cahaya bulan. “Pernah saya lewat daerah tambang menjelang malam,” kata seorang warga dalam kisah yang beredar secara lokal. “Saya dengar seperti suara perempuan menangis. Saya berhenti, suara itu ikut berhenti. Begitu motor saya jalan lagi, suara itu terdengar dari belakang.” Ia mengaku tidak berani menoleh hingga akhirnya tiba di permukiman. Tidak ada bukti bahwa suara tersebut berasal dari sesuatu yang gaib, tetapi pengalaman seperti inilah yang membuat legenda tetap bertahan.
Menariknya, sosok ini memang tidak seterkenal pocong atau kuntilanak di Indonesia. Namun justru karena tidak terlalu populer, kisah Hantu Penebok terasa lebih dekat dengan masyarakat yang hidup di sekitar lokasi legenda tersebut berkembang. Ia bukan sekadar karakter dalam cerita horor, melainkan bagian dari ingatan kolektif mengenai sejarah pertambangan, konflik tanah, kematian, dan tempat-tempat yang dianggap menyimpan masa lalu kelam. Kawasan tambang dalam cerita ini akhirnya bukan hanya lanskap ekonomi, tetapi juga ruang yang dipenuhi cerita tentang manusia dan tragedi yang pernah terjadi.
Legenda tersebut kemudian menarik perhatian sineas Tanah Air dan diangkat ke layar lebar melalui film The Bell: Panggilan untuk Mati. Proses pengambilan gambar dilakukan di sejumlah wilayah Belitung Timur, termasuk kawasan Bukit Samak Manggar dan Gantung. Film itu memanfaatkan atmosfer Belitung sekaligus mengangkat sisi horor dari sejarah pertambangan timah pada masa kolonial. Kehadiran layar lebar membuat legenda yang sebelumnya hidup melalui cerita warga memperoleh ruang baru untuk dikenal masyarakat lebih luas. Namun bagi penduduk setempat, cerita tentang sosok tanpa kepala itu tetap memiliki nuansa berbeda ketika dibicarakan di dekat kawasan yang menjadi latar kisahnya.
Pada akhirnya, kengerian Hantu Penebok bukan semata-mata terletak pada tubuh tanpa kepala atau cerita tentang kepala yang dijadikan tumbal. Yang membuatnya bertahan adalah perpaduan antara sejarah kolonial, aktivitas tambang timah, kisah kematian tragis, dan ketakutan masyarakat terhadap tempat-tempat yang menyimpan masa lalu. Benar atau tidaknya keberadaan makhluk tersebut tetap menjadi wilayah kepercayaan dan cerita rakyat.
Redaksi Energi Juang News




