Energi Juang News, Tuban– Sumber air tua yang disebut warga Tuban lopak itu sudah lama dianggap sakral, meski sebagian orang masih menggunakannya untuk mandi atau mengambil air. Lampu-lampu rumah mulai menyala, namun di sudut dusun itu suasana justru terasa semakin redup dan dingin. “Kalau sudah Maghrib jangan ke sana,” bisik seorang ibu kepada anaknya sambil menarik tangan kecil itu masuk ke dalam rumah. Namun peringatan seperti itu sering kali terdengar terlambat bagi orang-orang yang terlalu percaya diri pada keberanian mereka.
Menurut cerita yang berkembang turun-temurun, ada makhluk air yang tidak biasa di wilayah itu. Penduduk menyebutnya sebagai ikan lele yang hanya memiliki kerangka, tubuhnya kurus dengan kepala besar, seolah dagingnya telah lenyap namun tetap hidup. Banyak warga percaya makhluk itu bukan sekadar ikan, melainkan jelmaan makhluk halus yang menjaga sumber air. Ada pula yang meyakini keberadaannya berkaitan dengan karomah Sunan Kali Jaga, kisah lama tentang ikan lele yang hidup kembali meski hanya tersisa kepala dan durinya. “Kalau melihat rombongan ikan bergerak serempak menjelang gelap, jangan didekati,” kata Mbah Kadir suatu malam di gardu ronda.
Kemunculan makhluk itu kerap disaksikan para pemancing atau pencari ikan yang nekat datang pada waktu rawan. Warga menyebut setiap kemunculannya selalu diikuti ribuan ikan lele lain yang berenang mengelilingi seperti pasukan setia. “Airnya tiba-tiba bergolak, tapi tidak ada angin,” ujar Mbah Kadir kepada beberapa pemuda. “Seperti ada sesuatu yang mengatur arusnya.” Namun tidak semua orang percaya pada cerita itu, termasuk Suriyam, seorang pemuda dusun yang terkenal rajin dan tidak mudah takut.
Seperti cerita lain, saat Senduk berjalan menuju lopak untuk mandi sebelum berangkat ke ladang. Kabut tipis menggantung di atas permukaan air. Saat menunduk, ia melihat seekor ikan yang bentuknya tidak biasa. Kepala ikan itu tampak besar, sementara tubuhnya sangat kurus seakan hanya tersisa rangka. Tanpa berpikir panjang, Senduk menangkapnya dengan tangan kosong. “Lumayan buat sarapan,” gumamnya sambil tersenyum puas.
Ketika pulang ke rumah, Senduk langsung membersihkan ikan itu di dapur sederhana yang hanya diterangi cahaya matahari dari celah dinding bambu. Ibunya sempat mendekat, memandang ikan yang tergeletak di talenan dengan ekspresi heran. “Dari mana dapat ikan aneh itu, Le?” tanyanya pelan. Senduk menjawab santai, “Hasil tangkapan di lopak tadi, Bu.” Ibunya tidak berkata apa-apa lagi, hanya menatap sebentar sebelum pergi meninggalkan dapur dengan langkah gelisah.
Aroma masakan segera memenuhi ruangan. Senduk memakan hidangan itu dengan lahap tanpa merasakan keanehan apa pun. Namun malam harinya, beberapa tetangga mengaku mendengar suara seperti cipratan air di sekitar rumah Senduk, padahal tidak ada hujan. “Kok seperti ada orang berjalan di halaman,” bisik seorang warga kepada suaminya dari balik jendela. Suasana dusun malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Keesokan paginya, Senduk ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di kamarnya. Wajahnya pucat, tubuhnya kaku, namun tidak ada tanda penyakit atau luka. Warga berkerumun dengan wajah tegang. “Dia sehat kemarin,” ujar seorang tetangga. “Tidak mungkin sakit mendadak begini.” Seorang sesepuh desa berbisik lirih, “Iki kesambet… dia mengganggu tempat tinggal makhluk halus.”
Sejak peristiwa itu, ketakutan menyelimuti dusun. Para ibu melarang anak-anak mendekati sumber air tua. Lopak yang dahulu ramai kini menjadi tempat yang dihindari. “Jangan main ke sana, nanti ikut seperti Senduk,” kata seorang ibu kepada anaknya dengan suara bergetar. Pemerintah desa akhirnya menutup akses langsung ke sumber air dan memasang pompa agar warga tidak perlu mendekat.
Meski sudah puluhan tahun berlalu, kisah itu masih sering diceritakan di beranda rumah saat malam semakin larut. Beberapa pemancing mengaku pernah melihat gerombolan ikan bergerak melingkar di permukaan air saat Maghrib, sementara yang lain bersumpah melihat bayangan putih muncul pada tengah malam. “Airnya seperti bernapas,” kata seorang lelaki tua dengan suara parau. Tidak ada yang berani membuktikan lebih jauh.
Kini lopak sunyi itu tetap menjadi bagian dari ingatan kolektif warga dusun. Mereka percaya tempat itu bukan sekadar sumber air, melainkan wilayah yang harus dihormati. Nama makhluk misterius itu terus disebut dalam peringatan orang tua kepada anak-anak mereka, sebagai pengingat agar manusia menjaga sikap dan tidak sembarangan terhadap alam yang dianggap angker. Dan setiap kali senja turun, bisikan lama seakan kembali terdengar di antara riak air yang gelap.



