Energi Juang News,Jakarta- Malam yang sunyi sering kali menghadirkan suasana berbeda di sebuah kantor yang telah ditinggalkan para pekerjanya. Lorong-lorong menjadi lengang, suara kendaraan di luar terdengar samar, sementara setiap bunyi kecil terasa jauh lebih jelas. Banyak orang menganggap keheningan seperti itu hanya permainan pikiran, tetapi bagi sebagian orang, malam justru menyimpan pengalaman yang sulit dijelaskan dengan logika.
Aktivitas Amel sang Penunggu Kantor menjadi istilah yang diucapkan Endy (25) dan Riski (35) setelah mengalami kejadian aneh ketika menjaga sebuah kantor di kawasan Jakarta Selatan. Ruangan yang mereka tempati bukan hanya menjadi tempat beristirahat, tetapi juga gudang penyimpanan stok barang dan berbagai peralatan usaha. Di salah satu sisi ruangan berdiri sebuah lukisan besar berukuran sekitar 2 x 3 meter milik pemilik perusahaan. Benda itu selama bertahun-tahun hanya dianggap sebagai pajangan biasa.
Malam itu berlangsung seperti biasanya. Menjelang tidur, Edy dan Riski berbincang ringan sambil menunggu rasa kantuk datang. Karyawan perempuan sudah terlelap di kamar lain sehingga hanya mereka berdua yang masih terjaga. Lampu ruangan diredupkan, menyisakan cahaya kekuningan yang memantul pada permukaan lukisan besar tersebut.
Sekitar pukul 03.30 dini hari, suara gesekan keras mendadak memecah kesunyian. Riski yang menghadap ke arah lukisan langsung membuka mata. Napasnya tertahan ketika melihat lukisan itu perlahan bergeser. Mula-mula hanya beberapa sentimeter, namun cukup jelas terlihat seolah ada seseorang yang mendorongnya dari samping.
“Endy… bangun!” bisik Riski dengan suara bergetar sambil mengguncang bahu temannya. Endy terbangun dengan wajah bingung. “Kenapa, Bang?” tanyanya lirih. Riski hanya menunjuk ke arah lukisan. Saat keduanya menatap bersamaan, lukisan raksasa itu kembali bergerak, kali ini meluncur hampir satu meter dengan sangat pelan. Tak ada angin, tak ada tikus, dan tak ada siapa pun di ruangan itu.
Wajah Endy mendadak pucat. “Ini nggak mungkin karena tikus,biasa harus diangkat berdua,” katanya terbata-bata. Riski mengangguk tanpa melepaskan pandangan. “Aku dengar suara gesekan dulu baru lihat dia pindah. Demi Allah, tadi nggak ada orang,” jawabnya. Jantung keduanya berdetak semakin cepat, sementara suasana ruangan terasa semakin dingin.
Cahaya dari jendela kamar itu tampak bayangan merah dengan raut muka hitam gelap. Bayangan astral itu menembus tembuk ruangan menyisakan aroma aneh dan menyengat, membuat merinding sekujur tubuh mereka. Akibat rasa takut yang sangat membuat mereka tak mampu menggerakkan tubuh mereka, sambil menyaksikan kejadian itu.
Beberapa detik kemudian, kejadian yang lebih mengerikan terjadi. Lukisan itu bergerak sangat cepat, seolah didorong tenaga besar yang tak kasatmata. Bunyi gesekan lantai terdengar nyaring memenuhi ruangan. Hal ini mengisyaratkan bahwa ada sosok Amell, kehidupan astral yang mendiami kantor itu, dan mereka harus menghormatnya. Tanpa berpikir panjang, Endy dan Riski langsung berlari berhamburan keluar sambil berteriak “Amell…Amell Ameell..!!.”
Teriakan itu sontak membangunkan teman kerja yang lain.”Ada apa? Kok teriak-teriak?” tanya salah seorang karyawan perempuan yang baru membuka pintu kamar. Dengan napas tersengal, Endy menjawab, “Lukisan itu bergerak sendiri… kami lihat dengan mata kepala sendiri!” Seorang rekan lain sempat mengintip ke arah gudang namun memilih mundur. “Saya merinding… rasanya memang ada yang nggak beres di ruangan itu,” ujarnya pelan.
Fenomena seperti ini memang sering menjadi bahan pembicaraan di berbagai tempat kerja. Seiring berkembangnya teknologi, tidak sedikit orang mencoba merekam kejadian-kejadian yang dianggap janggal menggunakan ponsel atau kamera pengawas. Meski demikian, rekaman semacam itu umumnya belum dapat dijadikan bukti ilmiah adanya aktivitas supranatural. Banyak ahli menilai setiap kejadian tetap perlu ditelaah dari berbagai kemungkinan, mulai dari faktor lingkungan, getaran bangunan, hingga persepsi manusia di tengah kondisi lelah pada dini hari.
Hingga matahari terbit, Endy dan Riski memilih tidak kembali memasuki ruangan gudang tersebut. Mereka menghabiskan sisa malam dengan duduk di teras kantor sambil terus membahas apa yang baru saja mereka alami. Bagi mereka, pengalaman itu terlalu nyata untuk dianggap sekadar halusinasi. Sementara bagi orang lain, kisah tersebut mungkin hanya cerita yang sulit dipercaya. Namun satu hal yang membuat bulu kuduk meremang, suara gesekan dan pergerakan lukisan sebesar itu masih terus terbayang di benak mereka, seolah ada penghuni lain yang diam-diam menjaga ruangan tersebut setiap pukul 03.30 dini hari.
Redaksi Energi Juang News




