Energi Juang News, Sampit- Angin malam di pedalaman Kalimantan selalu membawa bau tanah basah dan dedaunan lapuk. Di antara pepohonan tinggi yang saling bertaut seperti jemari raksasa, suara-suara aneh sering terdengar ketika bulan menggantung pucat di langit. Tidak semua orang berani berjalan sendirian selepas senja. Ada sesuatu yang melayang tanpa suara, mengintai dari kegelapan, seolah menunggu saat yang tepat untuk turun.
Pada tahun 1775, masyarakat suku Dayak mulai membicarakan satu sosok yang tak biasa. Ia bukan makhluk berwajah rusak atau bertaring panjang. Wujudnya justru sederhana—sebuah peti kayu seperti yang digunakan untuk memakamkan jenazah. Namun dari situlah teror bermula. Sosok itu dikenal dalam cerita turun-temurun sebagai Misteri Hantu Lungun, entitas yang diyakini sebagai peti mati terkutuk yang haus akan nyawa manusia.
Menurut tetua adat, Lungun bukan digerakkan oleh roh yang merasukinya. Peti itu sendirilah yang hidup. Ia melayang di udara pada malam hari, kadang setinggi orang dewasa, kadang lebih tinggi hingga menyamai pucuk pepohonan. Gerakannya cepat, bahkan konon secepat kendaraan bermotor. Siapa pun yang dikejarnya hampir pasti tak akan selamat.
“Aku melihatnya sendiri,” bisik Pak Randa, seorang warga desa tua, ketika api unggun mulai mengecil. “Bentuknya biasa saja. Tak ada wajah, tak ada tangan. Tapi saat ia mendekat, bulu kudukku berdiri seperti disentuh es.”
“Bagaimana ia bergerak, Pak?” tanya Damar, pemuda yang baru kembali dari kota.
“Meluncur. Tanpa suara roda, tanpa kepakan sayap. Tiba-tiba saja sudah di atas kepala.”
Konon, jika seseorang tertangkap, ia akan dimasukkan ke dalam peti itu. Setelah itu, Lungun akan terbang tinggi dan menghilang ke dalam gelap. Tak pernah ada jasad yang ditemukan. Tak ada jejak. Hanya kesunyian dan keluarga yang menunggu tanpa kepastian.
Legenda Lungun Dayak juga menyebutkan bahwa kutukan itulah yang membuatnya terus memburu manusia. Setiap nyawa yang diambil diyakini menunda penderitaannya sendiri. Karena itu, ia tak pernah berhenti.
Suatu malam, teror itu terasa nyata bagi warga Desa Sungai Akar. Riko, seorang pemuda pemberani, memutuskan untuk membuktikan bahwa cerita tersebut hanyalah mitos lama.
“Ah, masa iya peti bisa terbang sendiri?” katanya sambil tertawa kecil di warung kopi.
Ibu Sari, yang duduk di sudut ruangan, menatapnya tajam. “Jangan sembarang bicara, Ko. Ada aturan tak tertulis di hutan ini.”
“Kalau memang ada, biar aku yang lihat,” jawab Riko menantang.
Malam itu, Riko berjalan menyusuri jalan tanah sendirian. Bulan tertutup awan tipis, menyisakan cahaya remang. Ia bersiul pelan untuk mengusir rasa takut yang diam-diam merayap.
Tiba-tiba angin berhenti.
Sunyi.
Lalu terdengar suara kayu bergesekan pelan—krek… krek…
Riko menoleh. Di antara bayangan pepohonan, sesuatu melayang perlahan. Bentuknya kotak memanjang. Tidak tergesa, namun pasti mendekat.
“Nggak mungkin…” gumamnya.
Benda itu naik sedikit, sejajar dengan wajahnya. Dalam cahaya redup, terlihat jelas ukiran kayu tua di permukaannya. Tutupnya bergetar halus, seolah ada napas di dalamnya.
Riko teringat pesan lama yang sering diulang para tetua: jangan berlari lurus. Jika kau melihatnya, berbeloklah, berputarlah, buat ia kehilangan arah.
Namun panik menguasai pikirannya. Ia berbalik dan berlari lurus menyusuri jalan setapak.
Suara meluncur cepat terdengar di belakangnya. Lebih cepat. Lebih dekat.
“Belok, Ko! Belok!” teriak seseorang dari kejauhan—ternyata Damar yang diam-diam mengikuti.
Riko membanting tubuhnya ke arah semak-semak, berlari zig-zag menembus pepohonan. Peti itu melesat, nyaris menyentuh punggungnya. Kecepatannya benar-benar seperti motor yang dipacu penuh.
Damar melemparkan obor ke arah benda itu. Api menyambar sisi kayu, namun tak meninggalkan bekas. Peti tersebut justru berputar di udara, lalu mengejar Damar.
“Jangan lurus!” teriak Riko kali ini.
Keduanya berlari berpencar, berbelok tak beraturan. Entitas itu tampak kebingungan, gerakannya mulai tak stabil saat targetnya tak lagi bergerak lurus. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, peti itu naik tinggi, melayang ke atas kanopi hutan, lalu menghilang di antara kabut.
Mereka terjatuh ke tanah, napas tersengal.
“Itu bukan mitos,” bisik Damar gemetar.
Keesokan paginya, warga berkumpul. Riko dan Damar menceritakan semuanya.
Pak Randa mengangguk pelan. “Kalian beruntung. Ia biasanya tak gagal.”
“Kenapa masih ada sampai sekarang, Pak?” tanya Damar.
“Karena kutukan tak pernah benar-benar mati,” jawabnya lirih. “Selama masih ada malam, selama masih ada manusia yang berjalan sendirian tanpa hormat pada alam, ia akan terus terbang.”
Sejak kejadian itu, tak ada lagi yang berani meremehkan kisah tersebut. Warga selalu memastikan tak ada yang keluar sendirian selepas tengah malam. Jika terpaksa, mereka berjalan berkelompok dan membawa obor, meski tahu api bukan jaminan keselamatan.
Yang paling menyeramkan bukanlah bentuknya yang sederhana, melainkan kesadaran bahwa ia tak membutuhkan wajah untuk menakutkan. Ia tak perlu suara untuk mengintimidasi. Ia hanya perlu satu hal mengarah lurus dari mangsanya.
Hingga kini, beberapa orang mengaku masih melihat bayangan kotak melayang di atas pepohonan Kalimantan. Tidak semua percaya. Namun bagi mereka yang pernah mendengar suara kayu bergesekan di tengah sunyi.
Karena ketika malam turun dan angin berhenti berembus, bisa jadi Misteri Hantu Lungun sedang melayang pelan, mencari siapa pun yang lupa bahwa di antara langit dan tanah, ada kutukan lama yang belum selesai.
Redaksi Energi Juang News



