EnergiJuangNews,Cirebon-Tidurnya Jaka malam itu terasa begitu nyenyak, seolah tubuh dan pikirannya benar-benar lelah setelah perjalanan panjang dan makan malam yang mengenyangkan. Di meja makan kayu tua yang permukaannya telah menghitam dimakan usia, ia mendengarkan dengan saksama kisah masa muda ayahnya yang dituturkan sang paman, Raka, dengan suara rendah dan pelan. Api lampu minyak bergetar seiring hembusan angin malam yang menyelinap dari celah jendela, menciptakan bayangan yang bergerak di dinding. “Ayahmu dulu bukan orang sembarangan,” ujar Raka sambil menatap kosong ke arah pintu, seakan melihat sesuatu di luar sana. Jaka terdiam, karena selama hidupnya ayahnya tak pernah menceritakan masa lalu itu, bahkan pada ibunya sendiri. Ada getaran aneh di dada Jaka, perasaan tak nyaman yang belum bisa ia jelaskan. Malam itu, sebelum tidur, ia sempat mendengar bisikan lirih dari luar rumah, seperti orang berdoa bercampur rintihan, namun ia mengira itu hanya suara angin dari hutan cemara yang mengelilingi desa.
Pagi harinya, sesuai rencana, Raka membawa mereka menuju pemakaman di pinggir desa, tempat kedua orang tua Rama dimakamkan. Kabut tipis menggantung rendah, membuat nisan-nisan tampak seperti kepala-kepala hitam yang mengintai dari tanah. Jaka melangkah perlahan, membawa guci abu ayahnya dengan kedua tangan gemetar. “Di sinilah semuanya berakhir… dan dimulai,” gumam Raka pelan. Jaka menangkupkan tangan dan berdoa, namun udara di sekelilingnya terasa berat, seperti ada yang menekan dadanya. Seorang lelaki tua penjaga makam mendekat dan berbisik, “Sudah lama kami menunggu kepulangan darahnya.” Jaka menoleh, namun lelaki itu telah pergi. Mimi berbisik ketakutan, “Kok bapak itu ngomongnya aneh?” Tak ada yang menjawab. Angin tiba-tiba berembus kencang, membuat daun cemara bergesekan seperti suara orang berbisik serempak menyebut nama Rama.
Setelah dari makam, mereka berkeliling desa. Penduduk menyambut dengan ramah, senyum mereka lebar namun mata mereka menyimpan sesuatu yang tak bisa disembunyikan. Seorang ibu tua menyodorkan kue tradisional sambil berkata, “Makanlah, Nak… supaya yang mati tak ikut pulang.” Jaka terdiam. Riri tertawa canggung, mengira itu hanya gurauan desa. Di sudut jalan, beberapa pria berhenti berbincang saat rombongan lewat. “Itu anaknya Rama?” bisik salah satu. “Iya… yang dulu…” jawab lainnya, terputus saat Raka menoleh tajam. Suasana desa terasa hangat di permukaan, tapi ada lapisan dingin yang menyelinap di balik keramahan itu. Mimi bahkan berbisik, “Aku merasa kita sedang diawasi.” Raka hanya tersenyum, senyum yang entah kenapa terasa dipaksakan.
Menjelang sore, mereka tiba di rumah tua warisan keluarga Raka. Bangunannya besar, dinding kayunya penuh ukiran kuno dengan simbol-simbol yang tak dikenali. “Rumah ini sudah ada sejak sebelum desa terbentuk,” kata Raka bangga. Fathir mengusap lengan, merasakan bulu kuduknya berdiri. “Kenapa dingin banget ya?” gumamnya. Di dalam, benda-benda antik tersusun rapi, patung-patung kayu dengan ekspresi wajah menderita, dan lukisan keluarga Rama dengan mata yang seolah mengikuti setiap langkah. “Jangan sentuh yang di sudut itu,” ujar Raka tiba-tiba. “Kenapa?” tanya Jaka. Raka terdiam sejenak. “Karena… mereka tak suka disentuh.” Malam mulai turun, dan rumah itu seakan menghela napas panjang.
Malam kedua tiba dengan kesunyian yang menekan. Lampu-lampu kuning temaram berayun pelan, meski tak ada angin. Fathir terbangun tengah malam dengan perasaan harus ke kamar mandi. Lorong panjang membentang di depannya, lantai kayu berderit setiap kali diinjak. “Cuma rumah tua,” katanya menenangkan diri. Namun lampu gantung di ujung lorong bergerak semakin liar. “Aneh…” bisiknya. Dari kejauhan, terdengar suara seperti orang menyeret sesuatu. Fathir menelan ludah dan melanjutkan langkah, berusaha mengabaikan rasa takut yang merayap.
Semakin jauh Fathir melangkah, suara derit itu semakin jelas, seolah mengikuti dari belakang. “Halo?” panggilnya lirih. Tak ada jawaban. Tiba-tiba bau anyir menusuk hidungnya. Ia berbalik perlahan. Dari kegelapan, muncul sosok tanpa kaki, tubuhnya penuh luka bernanah, darah mengalir dari mata terpejamnya. “A… a… a…” suara parau keluar dari mulutnya. Fathir membeku. Sosok itu merayap cepat, meninggalkan jejak lendir dan darah di lantai kayu.
Kaki Fathir tak bisa digerakkan. Napasnya tersengal, dunia terasa berputar. Sosok itu semakin dekat, bau busuknya membuat perut Fathir bergejolak. “Tolong…” bisiknya, namun suaranya tak keluar. Rambut sosok itu tergerai kusut, wajahnya rusak namun samar-samar menyerupai seseorang di lukisan keluarga Rama. “Dia… siapa?” batin Fathir. Saat sosok itu mengulurkan tangan penuh nanah, jeritan Fathir akhirnya pecah di lorong sunyi itu.
Bunyi debam menggema. Semua penghuni rumah terbangun dan berlarian. Mereka menemukan Fathir terkapar tak sadarkan diri, wajahnya pucat membiru. “Dia melihatnya…” bisik seorang warga yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu. Jaka menoleh kaget. “Melihat apa?” tanya Jaka. Warga itu menatapnya lama. “Dosa lama ayahmu.”
Pagi harinya, warga desa berkumpul. Seorang tetua berkata, “Rama dulu membuat perjanjian dengan yang tak seharusnya.” Raka menunduk. “Kami menutupinya selama ini.” Jaka menggigil. “Ayahku orang baik!” bentaknya. Tetua itu menghela napas. “Baik bagi keluarganya, tapi tidak bagi mereka yang dikorbankan.” Angin berdesir, dan dari rumah tua terdengar rintihan yang sama seperti malam sebelumnya.
Malam ketiga, Jaka berdiri di lorong tempat Fathir jatuh. Ia akhirnya mengerti, masa lalu ayahnya bukan sekadar cerita kelam, melainkan utang yang belum lunas. Dari kegelapan, suara berbisik menyebut namanya. Lampu bergoyang liar. Jaka berbisik, “Aku akan menyelesaikannya.” Namun dari balik dinding, terdengar tawa parau menjawab, “Kau hanya meneruskan.” Desa itu kembali sunyi, menyimpan rahasia yang tak pernah benar-benar mati.
Redaksi Energi Juang News



