Energi Juang News, Wonogiri– Malam
itu suasana kampung Ngadirejo terasa lebih sunyi dari biasanya. Jalanan kecil
di samping rumah Pak Lewo yang baru saja mengadakan selamatan pun gelap gulita,
hanya diterangi cahaya bulan yang malu-malu muncul di balik awan. Bu Santi yang
baru saja pamit pulang dari rumah Pak Lewo memilih jalan pintas melewati jalur
itu. Meski sepi dan terkenal angker, ia merasa tak enak jika harus memutar
lebih jauh. Ia hanya ingin segera tiba di rumah, karena angin malam mulai
menusuk kulitnya.
Ketika langkahnya mulai masuk ke jalur gelap yang diapit
pagar bambu dan sebuah kebon kosong, Bu Santi mulai merasakan hawa yang
berbeda. Kebon itu hanya ditumbuhi satu pohon beringin besar yang rimbun dan
tampak tak terawat. Saat melintasi bagian tengah jalan, ia mendadak mencium
aroma yang aneh rasa aroma hangus khas singkong bakar. Awalnya ia mengira ada
warga yang mungkin membakar sampah atau memasak di belakang rumah. Namun tidak
ada cahaya api, tidak juga suara orang. Jalanan tetap sunyi, hanya suara dedaunan
bergesek yang terdengar samar.
Aroma itu semakin kuat dan menusuk hidung. Seketika Bu
Santi teringat pesan almarhum neneknya yang pernah berkata, “Nak, kalau
kau cium bau ketela bakar di malam hari, cepatlah pergi. Itu tandanya genderuwo
lewat.” Cerita lama itu selalu dianggap mitos baginya, hingga malam itu
terasa nyata. Ketakutan mulai menyelusup ke dalam dadanya, tapi ia mencoba
tetap tenang dan mempercepat langkah. Sayangnya, semakin ia mencoba berjalan
cepat, langkahnya justru terasa berat, seolah ada sesuatu yang menahan.
Empat langkah kemudian, di depan matanya muncul sosok
tinggi besar dengan tubuh hitam berbulu tebal. Mata merah menyala menatap lurus
ke arahnya dari balik rimbun pohon beringin. Bentuknya mirip raksasa, tapi
bukan manusia. Tubuhnya menutupi hampir seluruh jalur setapak, dan dari
mulutnya keluar suara eraman berat, seperti binatang buas terluka. Bu Santi
ingin berteriak sekeras-kerasnya, tapi suaranya tertahan di tenggorokan,
seperti tercekat oleh sesuatu yang tak terlihat. Hanya jantungnya yang berdetak
sangat kencang, seakan hendak meloncat dari dada.
“Bu Santi! Nggak papa, Bu?” tanya Pak Bejo,
tetangga yang rumahnya tak jauh dari ujung jalan itu. Ia melihat Bu Santi
terburu-buru melangkah, tubuhnya gemetar, dan wajahnya pucat pasi. Tapi Bu
Santi hanya mengangguk lemah, tidak sanggup menjawab. Ia terus berjalan meski
lututnya nyaris roboh. Sesampainya di pekarangan rumahnya, tubuh Bu Santi
ambruk begitu saja. Anaknya yang baru pulang dari rumah temannya langsung panik
melihat ibunya tergeletak tak sadarkan diri di depan pintu rumah.
Keesokan harinya, cerita itu menyebar dengan cepat di
kampung. “Makanya aku bilang, jalan itu nggak beres,” gumam Bu Rumi
saat berkumpul bersama warga di warung pagi itu. “Aku pernah cium bau
ketela bakar juga di situ, tapi nggak berani lewat. Genderuwo itu, makhluk
halus yang suka menampakkan diri dengan bau begitu,” tambahnya. Pak Wiryo,
sesepuh desa, mengangguk pelan. Ia lalu bercerita bahwa pohon beringin di kebon
kosong itu memang sejak dulu diyakini jadi tempat tinggal makhluk halus yang
tak suka diganggu.
“Kalau genderuwo itu sudah marah, bisa menjelma jadi
siapa pun,” ucap Pak Wiryo pelan. “Ada yang bilang dia bisa pakai
ajian Ali-ali Ampal. Bisa nyamar jadi orang yang kita kenal. Tapi kita bisa
tahu kalau dia bukan manusia, karena baunya tetap sama bau ketela bakar yang
hangus.” Cerita itu membuat para warga merasa ngeri. Beberapa dari mereka
mulai menyarankan agar jalan itu diberi penerangan, atau setidaknya dibersihkan
dari semak-semak agar tidak terlalu menyeramkan bagi warga yang melintas malam.
Bu Santi sendiri butuh waktu berhari-hari untuk kembali
pulih. Ia enggan keluar rumah saat malam dan selalu meminta anaknya menemaninya
jika harus pergi ke tempat tetangga. “Aku yakin itu bukan
halusinasi,” katanya pada anaknya sambil menatap kosong ke arah jendela.
“Aromanya nyata, matanya merah terang… dan erangannya itu, Nak, masih
terdengar di telingaku sampai sekarang.” Anak Bu Santi hanya bisa memeluk
ibunya erat, mencoba menenangkan meski hatinya sendiri ikut diliputi rasa takut.
Cerita Bu Santi menjadi salah satu dari sekian banyak kisah
penampakan genderuwo yang dipercaya masyarakat Jawa. Mitos yang mengatakan
aroma singkong atau ketela bakar adalah pertanda kehadiran makhluk gaib itu
semakin diyakini. Meski zaman telah berubah, kepercayaan dan cerita-cerita
mistis tetap hidup dan diwariskan secara turun temurun. Genderuwo bukan sekadar
makhluk gaib, tapi simbol ketakutan manusia terhadap hal-hal yang tak mampu
dijelaskan logika.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa tidak semua hal bisa
dilihat dengan mata telanjang. Terkadang, alam gaib menyentuh kita dengan cara
yang halus, seperti aroma di udara yang muncul tanpa sebab. Jika suatu malam
Anda mencium aroma singkong bakar di jalan yang sepi, jangan abaikan. Bisa
jadi, Anda sedang diawasi oleh sosok besar berbulu hitam dengan mata menyala
merah yang hanya ingin menunjukkan bahwa ia masih ada, menunggu, dan mengintai
dalam diam.
Redaksi Energi Juang News
Aroma Singkong Bakar dan Genderuwo yang Menakutkan
RELATED ARTICLES



