Jumat, Mei 8, 2026
spot_img
BerandaDaerahDari Sukaresmi Untuk Indonesia

Dari Sukaresmi Untuk Indonesia

Kelompok KKN Desa Sukaresmi FISIP Universitas Djuanda.

Energi Juang News, Bogor- Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk implementasi tridharma perguruan tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Dalam praktiknya, KKN bukan sekadar program rutin tahunan yang dijalani mahasiswa sebagai syarat akademik, melainkan sebuah proses pembelajaran sosial yang kompleks. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya menguji kemampuan intelektual dan keterampilan praktis, tetapi juga diuji kedewasaannya dalam berinteraksi dengan realitas masyarakat yang beragam dan bertumbuh bersama masyarakat.

Selama lebih dari satu bulan kami berada di Desa Sukaresmi, kami hidup berdampingan dengan masyarakat. Menyaksikan langsung dinamika sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan yang kerap kali jauh berbeda dari teori di bangku kuliah. Dari sinilah kami belajar bahwa ilmu pengetahuan hanya akan bermakna apabila mampu bertransformasi menjadi solusi konkret yang sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Dalam pelaksanaan KKN di Desa Sukaresmi, kami membawa program utama yang berfokus pada hal yang menjadi kebutuhan masyarakat dengan hasil observasi yang telah dilakukan yaitu, Pendidikan karakter, Kesehatan Masyarakat, meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, dan Pengelolaan serta Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) Desa Sukaresmi.

Pemilihan fokus tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil observasi awal, ditemukan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat adalah masyarakat yang apatis dalam kegiatan kerukunan warga, Pemberdayaan pemuda, kurangnya kesadaran akan pentingnya pola hidup bersih dan sehat, serta meningkatnya volume sampah rumah tangga tanpa pengelolaan yang memadai.

Program yang dijalankan cukup beragam. Untuk sektor pendidikan, kami membuat Sekolah Karakter yang dikelola secara sederhana. Anak-anak tampak antusias, dan hal ini menunjukkan bahwa potensi generasi yang akan datang mampu untuk membawa perubahan baik di masa yang akan datang dengan dukungan pemuda yang sudah kami bina.

Baca juga :  Sidang Maut di Gresik! Midhol Didakwa Pembunuhan dan Perampokan, Ancaman Hukuman Mati

Pada sektor kesehatan lingkungan, kami melakukan penyuluhan hidup bersih dan mengadakan kegiatan cek Kesehatan anak. Sedangkan untuk pengelolaan sampah, kami belum mampu maksimal dalam mengatasi persoalan ini, akan tetapi kami mampu untuk membuat lingkungan menjadi lebih bersih dan merubah pola pembuangan sampah di Desa Sukaresmi.

Untuk mendukung keberhasilan program yang dilaksanakan sekaligus menghadirkan dampak nyata dalam waktu relatif singkat, kami mengupayakan pendekatan berbasis kolaborasi masyarakat melalui kerja sama dengan Perangkat Desa serta Karang Taruna Karya Kreatif. Langkah awal yang dilakukan adalah mengoptimalkan potensi anggota Karang Taruna yang terdiri dari setiap RT di Desa Sukaresmi. Melalui mekanisme kolaboratif ini, tercipta jembatan yang efektif dalam menumbuhkan kesadaran serta meningkatkan partisipasi warga terhadap berbagai program yang dijalankan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Namun, selama kami berada di Desa bukanlah tanpa hambatan. Dalam pelaksanaannya, kami menghadapi sejumlah kendala. Pertama, keterbatasan fasilitas yang sering kali menjadi penghambat dalam mengimplementasikan program. Kedua, pola pikir masyarakat yang sudah terbentuk sejak lama terkadang sulit diubah dalam waktu singkat. Misalnya, kebiasaan membuang sampah pada siang hari di pekarangan rumah atau lahan kosong dipinggir jalan sudah dianggap wajar, sehingga membuat jalanan desa penuh dengan sampah.

Selain itu, faktor partisipasi masyarakat juga sangat menentukan. Tidak semua warga terlibat aktif, ada sebagian yang menunjukkan sikap apatis. Situasi ini menuntut kami untuk lebih kreatif dalam membangun komunikasi, merangkul tokoh masyarakat, dan menghadirkan program yang benar-benar menyentuh kebutuhan warga.

Dari pengalaman KKN, terdapat sejumlah refleksi penting yang perlu dicatat. Pertama, pembangunan masyarakat tidak dapat dilaksanakan secara instan, melainkan membutuhkan proses panjang dan keberlanjutan. Kami hanya hadir dalam waktu yang singkat, sehingga program yang dirancang harus bersifat aplikatif, sederhana, dan berorientasi pada kemandirian masyarakat.

Baca juga :  Belasan Santri Diduga Jadi Korban Anak Kiai di Bangkalan

Kedua, KKN menegaskan pentingnya kolaborasi antar pihak. Perubahan sosial tidak bisa dibebankan hanya pada mahasiswa atau pemerintah desa, melainkan harus melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Dalam konteks inilah, kami berperan sebagai katalisator yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata warga.

Ketiga, KKN membuktikan bahwa gotong royong masih menjadi modal sosial yang kuat di tingkat desa. Ketika masyarakat diajak bergerak bersama, misalnya dalam kegiatan menyambut kemerdekaan Indonesia, ikatan sosial yang muncul jauh lebih kuat dibandingkan sekadar bantuan materi. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan berbasis komunitas tetap relevan sebagai strategi pemberdayaan.

Melalui KKN, kami tidak hanya belajar tentang masyarakat, tetapi juga belajar tentang pribadi setiap orang. Kegiatan ini menjadi ajang pengujian empati, kreativitas, kepemimpinan, dan daya juang. Lebih jauh lagi, KKN menegaskan kembali hakikat pendidikan tinggi bukan hanya mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga melahirkan insan yang memiliki kepedulian sosial dan tanggung jawab moral terhadap bangsa.

Oleh karena itu, keberadaan KKN perlu terus diperkuat, baik dari sisi konsep, pendanaan, maupun dukungan pemerintah daerah. Hanya dengan cara demikian, KKN dapat menjadi ruang pembelajaran yang otentik, melahirkan generasi muda yang tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga matang secara sosial.

Pada akhirnya, KKN meninggalkan pesan penting, pengabdian bukanlah memberi dari apa yang berlebih, melainkan berbagi dari apa yang dimiliki, ilmu, tenaga, dan kepedulian. Dari desa-desa inilah kami harap benih-benih perubahan sosial itu tumbuh, untuk kemudian bermuara pada cita-cita besar pembangunan bangsa.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments