Energi Juang News,Jakarta- Setiap negara memiliki perjalanan musikal yang unik. Ada genre yang datang dari luar negeri lalu berkembang begitu kuat hingga melahirkan karakter baru yang justru menjadi kebanggaan bangsa. Proses panjang itu tidak terjadi dalam semalam, melainkan dibentuk oleh para musisi yang berani bereksperimen dan memperkenalkan warna baru kepada masyarakat.
Sejarah Jazz Indonesia merupakan salah satu kisah paling menarik dalam dunia musik nasional. Genre yang lahir di Amerika Serikat ini berhasil bertransformasi menjadi bagian dari identitas musik Nusantara berkat kreativitas para musisi Indonesia. Dari panggung-panggung kecil, hotel, radio, hingga festival internasional, jazz Indonesia berkembang menjadi bahasa musikal yang kaya akan unsur budaya lokal.
Secara global, jazz lahir sekitar tahun 1868 di Amerika Serikat dengan akar kuat pada musik blues. Memasuki awal abad ke-20, jazz semakin populer melalui pengaruh ragtime dan musik march, lalu berkembang pesat di kota New Orleans sebagai musik dansa yang menghidupkan dance hall. Kebebasan berimprovisasi, harmoni yang kompleks, dan ritme sinkop menjadi ciri khas yang membuat jazz berbeda dari genre musik lainnya.
Tak lama setelah berkembang di Amerika, benih-benih musik jazz Indonesia mulai tumbuh. Salah satu catatan sejarah menyebutkan bahwa pada 1920 telah berdiri grup Black & White di Makassar yang dipimpin oleh Wage Rudolf Supratman. Sosok yang kelak dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya” ini ternyata juga memiliki ketertarikan terhadap perkembangan musik modern, termasuk jazz.
Memasuki era 1930-an, perjalanan jazz Indonesia semakin terasa. Di Jakarta muncul kelompok Melody Makers yang dipimpin Jacob Sigarlaki bersama Bootje Pesolima, Hein Turangan, Nico Sigarlaki, hingga Tjok Sinsoe. Tak lama kemudian, Hein Turangan membentuk grup Jolly Strings yang ikut meramaikan panggung musik ibu kota. Pada masa yang sama, Harry Liem mulai dikenal sebagai kritikus jazz yang aktif menulis di majalah Jazz Wereld sebelum melanjutkan karier jurnalistiknya di Amerika Serikat.
Menariknya, perkembangan jazz di Indonesia juga dipengaruhi oleh kedatangan musisi asal Filipina. Mereka membawa format big band lengkap dengan saksofon, trompet, dan trombon yang saat itu masih terdengar asing di telinga masyarakat Indonesia. Musik yang mereka bawakan banyak dipengaruhi irama Latin seperti rhumba, bolero, dan samba. Pertunjukan mereka di Jakarta, Bandung, hingga Surabaya membuat jazz semakin dikenal sebagai musik yang akrab dengan dunia dansa.
Setelah Indonesia merdeka, perkembangan jazz Indonesia memasuki babak baru. Nama-nama seperti Nick Mamahit, Bart Risakotta, Freddy Montong, Mus Mualim, Didi Pattirane, Said Kelana, hingga Bubi Chen mulai bermunculan. Mereka menjadi fondasi lahirnya komunitas jazz yang semakin solid di Indonesia.
Salah satu tonggak penting terjadi ketika Nick Mamahit merilis album Sarinande pada pertengahan 1950-an. Album yang dimainkan bersama Bart Risakotta dan Jim Espehana ini banyak dianggap sebagai salah satu rekaman jazz paling awal di Indonesia. Sebelumnya, Nick juga membentuk grup The Progressief sebelum bergabung dengan Metrapalita Orchestra bersama konduktor asal Belanda, Jos Cleber.
Era berikutnya melahirkan sosok legendaris seperti Bill Saragih yang mendirikan The Jazz Riders. Sebagai multi-instrumentalis, Bill memainkan piano, flute, vibraphone, sekaligus bernyanyi. Grup ini menjadi langganan tampil di Hotel Indonesia bersama sederet musisi terbaik seperti Bob Tutupoli, Hanny Joseph, Didi Pattirane, hingga Thys Lopies.
Puncak penting dalam evolusi jazz Indonesia terjadi pada 1967 ketika promotor asal Jerman membentuk Indonesian All Stars. Formasi berisi Jack Lesmana, Bubi Chen, Maryono, Benny Mustapha van Diest, dan Jopie Chen harus menjalani latihan intensif selama berbulan-bulan sebelum dianggap siap tampil di Eropa.
Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil manis. Penampilan Indonesian All Stars di Berlin Jazz Festival sukses mencuri perhatian dunia. Mereka tidak hanya memainkan standar jazz internasional, tetapi juga memperkenalkan komposisi bernuansa Nusantara seperti Djanger Bali dan Ku Lama Menanti (KLM). Kehadiran unsur musik tradisional dalam aransemen jazz menjadi sesuatu yang benar-benar baru bagi penikmat jazz internasional.
Nama Bubi Chen bahkan mendapat pujian luar biasa dari kritikus dunia. Permainannya membuat ia dijuluki “Art Tatum of Asia”, sebuah penghormatan yang merujuk kepada salah satu pianis jazz terbesar sepanjang sejarah. Pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa kualitas musisi Indonesia mampu bersaing di panggung global.
Kesuksesan Indonesian All Stars berlanjut melalui kolaborasi bersama klarinetis Amerika Serikat, Tony Scott. Album Djanger Bali yang dirilis label Jerman SABA pada 1967 menghadirkan karya-karya seperti Gambang Suling, Ilir Ilir, Burung Kakaktua, hingga Summertime. Album ini memperkenalkan konsep East Jazz, yaitu perpaduan harmoni jazz modern dengan nuansa musikal Nusantara tanpa harus menggunakan instrumen tradisional secara langsung. Warna gamelan justru dihadirkan melalui teknik permainan gitar Jack Lesmana dan saksofon Maryono.
Dekade 1970-an menjadi periode emas bagi Jazz Nusantara. Jack Lesmana aktif menggelar konser di Taman Ismail Marzuki dan TVRI, sementara Mus Mualim bersama Idris Sardi memukau pengunjung Expo ’70 di Jepang lewat aransemen lagu daerah Es Lilin dalam balutan jazz.
Pada 1976, konser Jazz Masa Dulu dan Kini melahirkan momen bersejarah ketika seorang anak kecil tampil memainkan piano di atas pangkuan Broery Marantika karena kakinya belum mampu menjangkau pedal. Anak itu adalah Indra Lesmana, yang kelak menjadi salah satu ikon jazz terbesar Indonesia.
Di Bandung, geliat jazz diperkuat oleh Hasbullah bersama Sonata 47 yang kemudian melahirkan generasi seperti Elfa Secioria. Di Surabaya muncul nama Bubi Chen, Maryono, dan Ireng Maulana yang terus menghidupkan panggung jazz nasional.
Memasuki akhir 1970-an, kehidupan jazz semakin berkembang melalui hadirnya Green Pub dan Captain’s Bar di Jakarta. Kedua tempat ini menjadi pusat berkumpulnya para musisi profesional seperti Jopie Item, Christ Kayhatu, Maryono, Victor Rompas, Karim Suweilleh, hingga Jackie Bahasoean. Dari sinilah lahir banyak kolaborasi yang mewarnai industri rekaman jazz Indonesia pada era 1980-an.
Tak kalah penting adalah lahirnya Jazz Goes to Campus pada 1978 di Universitas Indonesia yang dipelopori Chandra Darusman bersama kelompok Chaseiro. Festival mahasiswa tersebut menjadi salah satu tonggak regenerasi musisi jazz Indonesia dan hingga kini masih menjadi festival jazz kampus terbesar di Tanah Air.
Era 1980-an kemudian memperlihatkan jazz semakin dekat dengan masyarakat luas. Nama-nama seperti Indra Lesmana, Ireng Maulana, Utha Likumahuwa, Elfa Secioria, Fariz RM, Dian Pramana Poetra, hingga Jopie Item berhasil membawa nuansa jazz ke ranah pop sehingga genre ini semakin mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Kini, Sejarah Jazz Indonesia bukan sekadar cerita tentang musik yang datang dari Amerika. Lebih dari itu, ia adalah kisah tentang keberanian para musisi Indonesia mengolah pengaruh global menjadi identitas lokal yang unik. Dari Black & White milik Wage Rudolf Supratman, Indonesian All Stars yang memukau Berlin, hingga lahirnya Jazz Goes to Campus dan festival-festival modern seperti Java Jazz Festival, jazz Indonesia telah membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal batas. Perjalanan panjang tersebut menjadikan Indonesia bukan hanya penikmat jazz, melainkan juga salah satu penyumbang warna baru dalam sejarah musik jazz dunia.
Redaksi Energi Juang News




