Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaNot & MusikKeroncong Tugu Jakarta dan Romantika Musik Nusantara

Keroncong Tugu Jakarta dan Romantika Musik Nusantara

Energi Juang News,Jakarta-Di tengah dominasi musik digital yang serba instan, ada satu jenis musik yang justru semakin terasa dalam ketika didengarkan perlahan. Ia bukan sekadar bunyi, melainkan arsip hidup yang menyimpan cerita lintas generasi—tentang cinta, perjuangan, hingga identitas bangsa.

Di Jakarta, sebuah panggung budaya pernah kembali menghidupkan atmosfer tersebut melalui Pekan Keroncong di Galeri Indonesia Kaya. Di sanalah, tradisi lama bertemu dengan audiens masa kini, menghadirkan pengalaman musik yang lebih dari sekadar hiburan.

Salah satu sorotan utama dalam pagelaran tersebut adalah Keroncong Tugu—kelompok musik yang disebut sebagai salah satu orkes keroncong tertua di Indonesia. Akar mereka bisa ditelusuri hingga tahun 1925, ketika seorang keturunan Portugis bernama Josef Quiko mendirikan orkes bernama Moresco Tugu.

Seiring waktu, nama itu berubah menjadi Cafrinho Tugu, namun masyarakat lebih mengenalnya sebagai Keroncong Tugu. Musik yang mereka bawa bukan sekadar hiburan, tetapi warisan dari para pelaut Portugis yang dulu singgah di Nusantara dan membawa pengaruh musikal yang unik.

Kini, di bawah pimpinan Andre Juan Michiels—generasi ke-10—kelompok ini tetap mempertahankan ciri khasnya. Ini bukan sekadar nostalgia, tapi bentuk resistensi budaya terhadap homogenisasi musik modern.

Dalam Pekan Keroncong tersebut, Keroncong Tugu tampil bersama Sundari Soekotjo dalam sebuah tema bertajuk Kedjora (Keroncong Djoeara Nusantara).

Bagi Sundari, keroncong bukan sekadar genre—ia adalah jiwa. Sebagai pendiri Yayasan Keroncong Indonesia (YAKIN), ia melihat keroncong sebagai medium untuk menyampaikan sejarah bangsa.

“Lagu-lagu keroncong ini adalah warisan dari nenek moyang… erat dengan perjuangan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Dalam penampilannya, ia membawakan lagu-lagu klasik seperti Bunga Anggrek dan Kr. Pasar Gambir. Lagu-lagu ini tidak hanya bercerita tentang cinta romantis, tetapi juga cinta yang lebih luas: kepada sesama manusia dan tanah air.

Baca juga :  Memahami Dasar-Dasar Mixing Musik Pop Agar Menduduki Puncak Tangga Lagu (Part 3)

Kolaborasi ini menunjukkan bahwa keroncong bukan musik yang kaku—ia bisa beradaptasi, berkolaborasi, dan tetap relevan.

Kalau kamu pikir semua keroncong itu sama, Keroncong Tugu akan membuktikan sebaliknya.

Menurut Andre Michiels, ada beberapa perbedaan mencolok antara gaya Tugu dan keroncong lain (seperti gaya Jawa atau trulungan):

  • Instrumen unik: Mereka menggunakan alat perkusi bernama macina, bukan cak dan cuk seperti di Jawa.
  • Tempo lebih cepat: Musiknya cenderung enerjik, karena dulunya berfungsi sebagai pengiring pesta.
  • Nuansa Portugis lebih terasa: Melodi dan ritmenya membawa jejak Eropa yang kental.

Perbedaan ini menjadikan Keroncong Tugu sebagai sub-genre yang unik dalam lanskap musik Indonesia.

Pekan Keroncong di Galeri Indonesia Kaya juga menghadirkan berbagai kelompok lain seperti Keroncong Kresna Jaya Polri dan Keroncong Berau. Mereka mengiringi penyanyi seperti Intan Soekotjo, Yana Yulio, Winda Viska, hingga Dira Sugandi.

Tema yang diangkat pun beragam—mulai dari sejarah keroncong, perjuangan bangsa, hingga cinta tanah air. Ini menunjukkan bahwa keroncong masih punya tempat di hati generasi sekarang, terutama ketika dikemas dengan pendekatan yang relevan.

Di era streaming dan algoritma, keroncong memang bukan musik yang “viral”. Tapi justru di situlah kekuatannya: ia menawarkan kedalaman, bukan sekadar sensasi.

Bagi banyak orang muda, keroncong mungkin terdengar “jadul”. Tapi jika didengarkan dengan konteks, ia justru terasa sangat manusiawi.

Keroncong adalah musik yang tidak terburu-buru. Ia memberi ruang untuk merenung, untuk merasakan, dan untuk memahami. Dalam dunia yang serba cepat, pengalaman seperti ini justru menjadi langka—dan berharga.

Lebih dari itu, keroncong adalah pengingat bahwa identitas budaya tidak harus ditinggalkan untuk menjadi modern. Ia bisa berjalan berdampingan, saling menguatkan.

Baca juga :  Musik, Monolog, dan Jiwa Seni: Jejak Kreatif Butet Kartaredjasa

Keroncong Tugu Jakarta bukan hanya tentang musik lama yang dipertahankan. Ia adalah bukti bahwa warisan budaya bisa terus hidup jika dirawat dengan cinta dan adaptasi.

Melalui panggung seperti Pekan Keroncong, generasi muda diajak untuk tidak hanya mendengar, tetapi juga memahami. Karena di balik setiap petikan dan dentingan, ada cerita panjang tentang siapa kita sebagai bangsa.

Dan mungkin, di antara hiruk playlist digitalmu, sudah saatnya satu lagu keroncong masuk—bukan untuk nostalgia, tapi untuk mengenal kembali akar.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadi
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments