Kamis, Agustus 6, 2026
spot_img
BerandaNot & MusikDeep Purple, Legenda Rock yang Tak Pernah Padam

Deep Purple, Legenda Rock yang Tak Pernah Padam

Energi Juang News,Jakarta- Dunia musik kembali dikejutkan oleh kabar kurang menyenangkan bagi para pecinta rock di Indonesia. Band legendaris asal Inggris, Deep Purple, secara resmi mengumumkan pembatalan konser mereka yang sedianya digelar di Indonesia Arena, Jakarta, pada 18 April 2026. Informasi ini disampaikan melalui akun Instagram resmi mereka, @deeppurple_official, pada Jumat, 6 Maret 2026.

Dalam pernyataan tersebut, mereka menuliskan dengan nada penuh penyesalan bahwa konser tersebut tidak dapat dilaksanakan. Bagi penggemar yang sudah lama menantikan momen ini, kabar tersebut tentu menjadi pukulan telak. Namun, di balik pembatalan ini, ada cerita panjang yang jauh lebih besar—kisah tentang perjalanan salah satu band paling berpengaruh dalam sejarah musik rock.

Sulit mencari kata yang cukup untuk menggambarkan kontribusi Deep Purple dalam dunia musik. Dengan penjualan lebih dari 100 juta album di seluruh dunia, mereka bukan sekadar band—mereka adalah institusi dalam genre hard rock.

Pengakuan terhadap pengaruh mereka datang dari berbagai arah. Stasiun radio Inggris Planet Rock menobatkan mereka sebagai “band paling berpengaruh ke-5 sepanjang masa”. Tak hanya itu, mereka juga menerima “Legend Award” dalam ajang World Music Awards 2008 serta resmi masuk ke Rock and Roll Hall of Fame pada tahun 2016.

Salah satu tonggak penting dalam karier mereka adalah album live legendaris Made in Japan, yang hingga kini dianggap sebagai salah satu album live terbaik sepanjang masa. Album ini lahir dari formasi klasik MKII yang terdiri dari Ian Gillan, Ritchie Blackmore, Jon Lord, Roger Glover, dan Ian Paice.

Sejak terbentuk pada 1968, Deep Purple tidak pernah benar-benar berhenti. Mereka dikenal sebagai salah satu band paling rajin tur di dunia, bahkan puluhan tahun setelah masa kejayaan awal mereka.

Baca juga :  10 Lagu Pembangkit Semangat Final Piala Dunia 2026

Album-album seperti NOW What?! (2013), inFinite (2017), hingga Whoosh! (2020) membuktikan bahwa mereka masih relevan. Dalam proses kreatifnya, mereka bekerja sama dengan produser legendaris Bob Ezrin, yang juga pernah menangani Pink Floyd, KISS, dan Alice Cooper.

Menariknya, saat pandemi, mereka merilis Turning To Crime (2021), sebuah album cover yang direkam secara terpisah dari rumah masing-masing—sesuatu yang cukup “revolusioner” untuk band yang terbiasa rekaman bersama di studio.

Perubahan juga terjadi dalam formasi. Kepergian Steve Morse pada 2022 membuka jalan bagi Simon McBride, yang membawa energi baru ke dalam band.

Pada 2024, mereka merilis album terbaru berjudul =1, yang kembali diproduseri oleh Bob Ezrin. Judul unik ini mencerminkan filosofi sederhana namun dalam: di tengah dunia yang semakin kompleks, semuanya pada akhirnya kembali menjadi satu kesatuan.

Formasi terbaru yang terdiri dari Ian Gillan, Roger Glover, Ian Paice, Don Airey, dan Simon McBride terus melanjutkan tur dunia dengan semangat baru.

Mereka membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk terus berkarya dan tampil di panggung-panggung besar. Bahkan setelah lebih dari lima dekade, energi mereka masih mampu memikat generasi baru.

Pembatalan konser di Jakarta memang menyisakan kekecewaan. Namun jika melihat perjalanan panjang Deep Purple, satu hal menjadi jelas: mereka bukan sekadar band yang datang dan pergi.

Mereka adalah simbol konsistensi, inovasi, dan dedikasi dalam musik. Dari era piringan hitam hingga streaming digital, dari panggung kecil hingga arena raksasa—Deep Purple tetap berdiri.

Bagi para penggemar di Indonesia, mungkin ini bukan akhir, melainkan hanya jeda. Karena seperti filosofi mereka sendiri: pada akhirnya, semuanya kembali menjadi satu—musik, penggemar, dan waktu yang mempertemukan keduanya kembali.

Baca juga :  Harmoni Bambu Saung Angklung Udjo Bandung

Dalam lanskap musik global yang terus berubah, hanya sedikit nama yang mampu bertahan lintas generasi. Deep Purple adalah salah satunya.

Pembatalan konser Jakarta 2026 mungkin mengecewakan, tetapi warisan mereka tetap hidup—di setiap riff gitar, dentuman drum, dan suara vokal yang menggema dalam sejarah rock dunia.

Dan satu hal yang pasti: legenda tidak pernah benar-benar berhenti—mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments