Selasa, Agustus 4, 2026
spot_img
BerandaNot & MusikKontroversi Firework Katy Perry dan Donald Trump

Kontroversi Firework Katy Perry dan Donald Trump

Energi Juang News,Jakarta- Ada satu hal yang selalu menarik dari dunia musik: sebuah lagu bisa memiliki makna yang sangat berbeda tergantung siapa yang menggunakannya. Kadang lagu yang lahir untuk menyemangati justru berubah menjadi simbol perdebatan ketika dibawa ke ranah politik. Belakangan, fenomena itulah yang memicu diskusi hangat di media sosial dan memancing perhatian jutaan orang di seluruh dunia.

Kontroversi Firework Katy Perry mencuat setelah akun TikTok resmi Gedung Putih mengunggah sebuah video yang menggunakan lagu hit tersebut sebagai musik latar. Video itu menampilkan narasi mengenai serangan Amerika Serikat terhadap Iran, lengkap dengan keterangan bernada tegas, “Iran telah diperingatkan.” Potongan lirik “boom boom boom” dari lagu Firework dipakai untuk mengiringi visual tersebut, sehingga langsung memancing beragam reaksi publik.

Dua hari setelah video itu beredar luas, Katy Perry akhirnya angkat bicara melalui akun X miliknya. Penyanyi pop dunia tersebut mengaku terkejut sekaligus marah karena lagunya digunakan tanpa izin dalam konteks yang menurutnya bertentangan dengan makna asli lagu tersebut.

“Saya tidak pernah menyetujuinya, saya tidak diminta, dan sama sekali tidak membenarkannya,” tulis Katy Perry dalam pernyataannya.

Bagi pelantun Roar itu, Firework bukan sekadar lagu pop yang mudah dinyanyikan bersama. Lagu yang dirilis pada 2010 tersebut sejak awal ditulis sebagai simbol harapan, pemulihan, serta keberanian untuk bangkit dari masa-masa sulit. Selama bertahun-tahun, Firework bahkan sering diputar dalam kampanye motivasi, acara amal, hingga kegiatan yang mengangkat isu kesehatan mental dan pemberdayaan diri.

Karena itulah, Katy Perry merasa penggunaan lagunya dalam video yang berkaitan dengan operasi militer telah mengubah pesan yang selama ini ingin ia sampaikan kepada pendengar. Menurutnya, karya musik seharusnya menjadi jembatan yang menyatukan orang-orang, bukan dijadikan latar untuk merayakan konflik maupun kekerasan.

Baca juga :  Bubi Chen dan Jejak Abadi Piano Jazz Indonesia

“Melihat pesan tentang harga diri dan semangat untuk bangkit dijadikan musik latar untuk kehancuran dan kekerasan adalah pelanggaran total terhadap semua yang diwakili lagu-lagu saya,” tulis Perry. Ia menambahkan bahwa musiknya diciptakan untuk menyatukan manusia, bukan memperkuat narasi peperangan.

Namun, pernyataan tersebut justru membuka babak baru dalam polemik. Unggahan Katy Perry mendapat tanggapan dari Wakil Asisten Presiden Donald Trump, Kaelan Dorr. Ia membalas kritik sang penyanyi dengan mengunggah cuplikan video musik Part of Me yang dirilis pada 2012. Dalam video tersebut, Katy Perry memang tampil mengikuti pelatihan militer Amerika Serikat sebagai bagian dari alur cerita lagu. Dengan nada menyindir, Dorr hanya menuliskan kalimat singkat, “Apakah ini kamu?”

Balasan tersebut memicu perdebatan baru di media sosial. Sebagian pengguna internet menilai penggunaan cuplikan video Part of Me tidak relevan karena video musik merupakan karya fiksi yang memiliki konsep artistik tersendiri. Sementara itu, kelompok lain berpendapat bahwa citra militer yang pernah diangkat Katy Perry membuat kritiknya terhadap penggunaan Firework menjadi tidak konsisten. Perdebatan pun meluas, bukan hanya soal politik, tetapi juga mengenai batas penggunaan karya seni dalam komunikasi pemerintah.

Kontroversi ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah. Militer Amerika Serikat diketahui melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran pada 23 Juli. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi operasi tersebut melalui akun resminya di platform X. Menurut pernyataan resmi mereka, operasi itu merupakan serangan malam ke-13 secara berturut-turut yang bertujuan mengurangi ancaman dari Korps Garda Revolusi Islam terhadap jalur pelayaran komersial.

Di luar konteks geopolitik, kasus ini kembali mengingatkan bahwa hubungan antara musik dan politik memang tidak pernah sederhana. Lagu yang diciptakan dengan pesan universal dapat memperoleh makna baru ketika dipakai dalam kampanye, demonstrasi, bahkan komunikasi pemerintah. Di banyak negara, penggunaan lagu oleh tokoh politik tanpa persetujuan artis juga beberapa kali memunculkan sengketa etika maupun hak cipta.

Baca juga :  Umm Kulthum: Suara Emas yang Mengubah Sejarah Musik Arab

Bagi industri musik, persoalan seperti ini menunjukkan bahwa sebuah lagu bukan hanya produk hiburan, melainkan juga representasi nilai dan identitas penciptanya. Ketika karya digunakan dalam konteks yang berbeda dari pesan awalnya, reaksi sang musisi sering kali bukan semata soal izin penggunaan, tetapi juga soal menjaga makna yang melekat pada lagu tersebut.

Terlepas dari pro dan kontra yang terus bergulir, satu hal menjadi semakin jelas: musik memiliki kekuatan emosional yang luar biasa. Justru karena kekuatan itulah, setiap lagu dapat membawa pesan yang sangat besar, baik untuk menginspirasi, menyatukan, maupun memicu perdebatan. Kontroversi Firework Katy Perry menjadi pengingat bahwa di era digital, sebuah lagu tidak hanya hidup di tangga lagu, tetapi juga bisa menjadi bagian dari percakapan global yang melibatkan seni, politik, dan kebebasan berekspresi.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments