Energi Juang News,Malang- Langit mulai memerah ketika kabut perlahan turun menyelimuti lereng pegunungan. Jalur setapak yang sebelumnya ramai berubah sunyi, hanya menyisakan desir angin yang menerpa pepohonan cemara. Tidak ada yang menyangka perjalanan pulang yang seharusnya menjadi bagian paling mudah justru berubah menjadi malam yang akan terus menghantui ingatan tiga pendaki muda itu.
Kisah misteri yang dialami Deni, seorang mahasiswa asal Gresik yang kuliah di Surabaya, bersama dua rekannya, Mas Muji dan Juki—nama ketiganya disamarkan. Mereka mendaki Gunung Welirang melalui jalur Tretes saat liburan semester pertama. Setelah tiba di basecamp, mereka berdoa sebelum memulai perjalanan. Pendakian menuju puncak berlangsung lancar tanpa hambatan, bahkan mereka sempat menikmati panorama dari atas sebelum memutuskan turun karena senja mulai berganti malam.
Mas Muji yang menjadi pemimpin rombongan berjalan paling depan, Deni berada di tengah, sedangkan Juki mengawal dari belakang. Setelah hampir dua jam menuruni jalur, Pos Pondokan yang mereka tuju tak kunjung terlihat. Merasa waktu salat Magrib telah tiba, Mas Muji mengajak berhenti sejenak di tengah hutan cemara. Usai beribadah, perjalanan kembali dilanjutkan, namun suasana mendadak terasa jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya.
Belum lama berjalan, Mas Muji tiba-tiba menghentikan langkah. Wajahnya tampak tegang. “Kamu dengar gamelan, Ndra?” tanyanya pelan kepada Deni. Deni menggeleng. “Nggak dengar apa-apa, Mas.” Juki yang berada di belakang pun ikut menjawab, “Saya juga nggak dengar suara apa pun.” Mereka saling berpandangan, tetapi Mas Muji memilih kembali melanjutkan perjalanan tanpa banyak bicara.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Mas Muji kembali berhenti. Kali ini wajahnya semakin pucat. “Sekarang ada suara orang nyanyi… kalian benar-benar nggak dengar?” tanyanya lirih. Deni mulai merasa ada yang tidak beres. Ia membaca Ayat Kursi dalam hati sambil terus menyorotkan cahaya senter ke depan. Di sela-sela cahaya itu, sebuah bayangan hitam melintas begitu cepat. Menurut pengakuannya, bayangan tersebut menyerupai dua sosok, satu bertubuh tinggi dan satu lagi hanya setinggi bahu orang dewasa.
Rasa tidak nyaman semakin menjadi ketika Deni merasa seperti sedang diawasi dari atas pohon cemara. Dengan keberanian yang tersisa, ia mendongakkan kepala. Seketika napasnya tercekat. Di antara ranting-ranting yang tertutup kabut, tampak beberapa sosok berpakaian putih dengan rambut panjang terurai melayang tanpa suara. “Mas… di atas…” bisiknya lirih. Namun Mas Muji hanya menjawab singkat, “Jangan dipikirkan. Terus berdoa dan jangan kosongkan pikiran.”
Juki yang berada paling belakang terlihat kebingungan karena mengaku tidak melihat apa pun. “Kalian ngomong apa sih? Dari tadi cuma jalan biasa,” katanya heran. Deni dan Mas Muji memilih diam. Anehnya, sesekali terdengar suara ramai seperti kerumunan orang bercakap-cakap, tetapi setiap kali cahaya senter diarahkan ke sumber suara, hutan kembali sunyi tanpa seorang pun terlihat.
Akhirnya mereka tiba di Pos Pondokan dengan tubuh kelelahan. Ketika menceritakan pengalaman itu kepada pendaki lain, salah seorang warga yang sering membantu di jalur pendakian berkata pelan, “Nak, kalian tadi kemungkinan disesatkan penunggu gunung. Dari puncak ke sini biasanya cuma dua jam, tapi kalian baru sampai setelah hampir empat jam. Jalur yang kalian lewati itu-itu saja.” Pendaki lain hanya mengangguk, seolah kisah serupa bukan lagi hal asing di kawasan tersebut. Cerita semacam ini merupakan bagian dari pengalaman pribadi dan kepercayaan masyarakat, sehingga tidak dapat dipastikan sebagai peristiwa supranatural yang terbukti secara ilmiah.
Malam belum benar-benar usai. Saat semua orang terlelap di dalam tenda, Deni terbangun karena udara yang sangat dingin dan ingin buang air kecil. Karena masih trauma, ia membangunkan Juki untuk menemaninya. Di dekat semak-semak, tangan Juki mendadak mencengkeram lengan Deni begitu erat. Sorot senternya bergetar. “Den… lihat bawah pohon pisang itu!” bisiknya. Saat cahaya diarahkan ke sana, keduanya mengaku melihat sesosok menyerupai pocong berdiri diam tanpa bergerak. Tanpa berpikir panjang mereka langsung berlari sekencang mungkin kembali ke tenda.
Mas Muji yang mendengar suara langkah mereka langsung membuka tenda. “Kenapa kalian?” tanyanya kaget. Dengan napas memburu, Deni menceritakan apa yang baru saja mereka lihat. Mas Muji hanya menarik napas panjang lalu berkata, “Yang penting kita semua selamat. Jangan pernah meremehkan gunung, dan selalu hormati alam di mana pun kita berada.” Sejak malam itu, Deni mengaku trauma dan memutuskan tidak lagi mendaki Gunung Welirang. Baginya, Misteri Gunung Welirang bukan sekadar cerita pendaki, melainkan pengalaman yang akan terus membayang setiap kali mendengar desir angin di antara hutan cemara.
Redaksi Energi Juang News




