Rabu, April 22, 2026
spot_img
BerandaNot & MusikSelis Teniwut dan Nafas Panjang Musik Saxophone dari Tanah Kei

Selis Teniwut dan Nafas Panjang Musik Saxophone dari Tanah Kei

Energi Juang News,Jakarta- Di tengah derasnya arus musik digital dan tren viral yang datang silih berganti, ada cerita-cerita sunyi namun kuat dari para musisi yang menapaki jalannya dengan penuh kesabaran. Salah satunya adalah Selis Teniwut—atau yang lebih dikenal sebagai Pace saxophone—seorang pemain saxophone yang membuktikan bahwa konsistensi dan kecintaan terhadap musik bisa menjadi fondasi karier yang kokoh.

Perjalanan Selis dimulai sejak tahun 2013, sebuah fase yang bagi sebagian orang mungkin masih tahap coba-coba, tapi bagi dirinya adalah titik awal keseriusan. Berbekal pendidikan musik di Salatiga, ia menemukan bukan hanya teknik, tetapi juga identitas musikalnya. Di sinilah musik bukan sekadar bunyi, melainkan bahasa jiwa.

Setiap musisi punya kompas artistik—sosok yang menjadi panutan. Bagi Selis, inspirasi itu datang dari Kenny G, legenda saxophone dunia yang dikenal dengan gaya smooth jazz-nya yang khas.

Dalam sebuah wawancara, Selis pernah mengatakan bahwa Kenny G bukan sekadar idola, tetapi juga sumber motivasi untuk terus berkembang. Dari teknik pernapasan, penguasaan nada, hingga ekspresi panggung—semuanya menjadi referensi penting dalam membentuk karakter musikalnya.

Namun, yang menarik, Selis tidak berhenti pada meniru. Ia mengolah inspirasi tersebut menjadi sesuatu yang lebih lokal, lebih personal, dan lebih membumi. Di sinilah letak kekuatan musisi daerah: mampu menggabungkan pengaruh global dengan identitas lokal.

Menjadi pemain saxophone bukan perkara mudah. Instrumen ini dikenal cukup kompleks—tidak hanya secara teknis, tetapi juga secara fisik. Kontrol napas menjadi kunci utama, sementara sensitivitas terhadap suara membuat pemain harus benar-benar “menyatu” dengan alatnya.

Selis mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar adalah ketika perform di panggung dengan sound system yang tidak mendukung. Bagi musisi lain mungkin masih bisa beradaptasi, tetapi bagi saxophonist, kualitas audio sangat krusial karena berkaitan langsung dengan intonasi dan dinamika permainan.

Baca juga :  Kantata Takwa: Ketika Konser Musik Menjadi Panggung Perlawanan Budaya

Bayangkan memainkan nada penuh emosi, tapi tidak terdengar jelas oleh audiens—tentu itu menjadi pengalaman yang cukup menyakitkan bagi seorang musisi. Namun justru dari situ, mental dan profesionalisme diuji.

Salah satu pencapaian penting dalam karier Selis adalah ketika ia mendapat kesempatan untuk mengiringi Quino Big Mountain, vokalis dari band reggae internasional Big Mountain.

Pengalaman ini bukan hanya soal panggung besar, tetapi juga validasi bahwa kualitas musisi daerah mampu bersaing di level global. Tidak semua orang mendapat kesempatan seperti ini, dan bagi Selis, momen tersebut menjadi bukti bahwa kerja kerasnya tidak sia-sia.

Selain itu, ia juga sering mengiringi berbagai penyanyi baik dari dalam maupun luar negeri, menjadikannya sosok yang fleksibel dan adaptif dalam berbagai genre musik.n

Bagi sebagian orang, musik mungkin hanya hobi. Tapi bagi Selis, ini adalah sumber penghidupan. Profesi sebagai saxophonist telah membantu ekonomi keluarganya—sebuah realitas yang sering luput dari romantisasi dunia musik.

Di sinilah kita melihat sisi lain dari industri musik: bukan hanya soal panggung gemerlap, tetapi juga tentang tanggung jawab dan keberlanjutan hidup. Selis menjalani semuanya dengan rasa syukur, tanpa kehilangan semangat untuk terus berkarya.

Lebih dari sekadar karier pribadi, Selis memiliki visi yang lebih besar: memajukan musik di tanah Kei. Ia berharap semakin banyak anak muda yang tertarik mempelajari saxophone dan musik secara umum.

Ajakan sederhana namun kuat yang ia sampaikan—“Mari kita berkarya melalui musik untuk memajukan tanah Kei”—menjadi refleksi bahwa musik bisa menjadi alat perubahan sosial dan budaya.

Di era sekarang, ketika banyak anak muda lebih tertarik pada popularitas instan, cerita seperti ini menjadi penting. Bahwa berkarya membutuhkan proses, dedikasi, dan keberanian untuk tetap setia pada passion.

Baca juga :  Phil Collins: Jejak Sejarah, Pop, dan Nurani Musik 80-an

Kisah Selis Teniwut adalah pengingat bahwa musik bukan hanya tentang tren, tetapi tentang perjalanan. Di tengah dominasi algoritma dan platform streaming, masih ada ruang bagi musisi yang memilih jalur autentik.

Saxophone, dengan karakter suaranya yang hangat dan emosional, mungkin tidak selalu menjadi pilihan utama di industri pop saat ini. Namun justru di situlah letak keunikannya. Instrumen ini menawarkan kedalaman yang sulit digantikan oleh teknologi.

Selis adalah contoh nyata bagaimana seorang musisi bisa tetap relevan tanpa harus kehilangan jati diri. Ia tidak sekadar mengikuti arus, tetapi menciptakan arusnya sendiri—pelan, namun pasti.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments