EnergiJuangNews,Palembang- Langit Palembang malam itu tampak lebih gelap dari biasanya. Angin berembus pelan, membawa bau tanah lembap dan bunga kamboja yang mulai layu. Lampu jalan di sekitar area pemakaman berkedip tak menentu, seolah enggan menerangi jalan setapak yang mengarah ke bukit kecil di ujung kota. Suasana sunyi itu membuat langkah kaki terdengar berlipat ganda, meski hanya satu orang yang berjalan.
Tak ada papan peringatan yang menjelaskan apa pun, namun warga sekitar tahu satu hal pasti: tempat ini bukan sekadar pemakaman biasa.
Puncak Sekuning, sebuah Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Palembang, awalnya hanyalah tempat peristirahatan terakhir bagi warga setempat. Namun seiring waktu, kisah-kisah aneh mulai bermunculan. Orang-orang yang datang dengan niat ziarah pulang dengan wajah pucat. Beberapa bahkan tak pulang sebagai diri mereka yang semula.
“Dulu, kami nganggep ini cuma kuburan,” ujar Pak Hendra, warga yang rumahnya tak sampai seratus meter dari TPU. “Tapi sejak ada yang kesurupan dan teriak-teriak tengah malam, semua berubah.”
Kasus pertama yang ramai dibicarakan terjadi beberapa tahun lalu. Seorang pemuda yang datang bersama teman-temannya untuk uji nyali mendadak berteriak histeris. Ia meronta, matanya melotot, dan suaranya berubah berat. “Dia ngomong pakai bahasa yang bukan bahasa Palembang,” kenang Rudi, saksi mata kejadian itu. “Kami semua lari. Nggak berani nolong.”
Sejak saat itu, cerita demi cerita bermunculan. Ada yang mendengar suara langkah kaki di antara makam saat tak ada siapa pun. Ada pula yang melihat bayangan hitam berdiri di atas nisan, lalu menghilang ketika didekati. Aura tempat itu berubah, menekan dada siapa saja yang terlalu lama berada di sana.
Fenomena ini kemudian dikenal luas sebagai misteri hantu Puncak Sekuning. Bukan hanya karena penampakan, tetapi karena dampaknya yang nyata pada manusia. Beberapa pengunjung dilaporkan mengalami perubahan perilaku drastis. Ada yang menjadi pendiam, ada pula yang tertawa sendiri tanpa sebab. Warga menyebutnya “ketempelan”.
Baca juga : Misteri Hantu Sungai Musi: Bisikan Banyu di Balik Ampera
Kisah Kesurupan dan Teror di Antara Nisan Puncak Sekuning
“Saya lihat sendiri,” kata Bu Yani, pedagang kecil di dekat TPU. “Anak itu awalnya cuma duduk, terus tiba-tiba nangis sambil bilang ada yang manggil namanya dari kuburan.”
Malam hari adalah waktu yang paling dihindari. Setelah matahari terbenam, suasana Puncak Sekuning terasa jauh berbeda. Udara menjadi berat, dan suara jangkrik terdengar tak wajar—seolah berhenti serempak ketika seseorang melangkah masuk. Banyak yang mengaku mencium bau amis atau bunga busuk tanpa sumber jelas.
Penelusuran Paranormal dan Misteri yang Enggan Terbongkar
Tak sedikit kelompok paranormal yang tertarik menyelidiki tempat ini. Dengan alat perekam suara, kamera inframerah, dan metode spiritual, mereka mencoba mengungkap apa yang sebenarnya menghuni kawasan tersebut. “Di titik tertentu, alat kami selalu error,” ujar salah satu peneliti yang enggan disebut namanya. “Suhu mendadak turun, dan suara aneh terekam.”
Namun, hasil penyelidikan tak pernah benar-benar memuaskan. Setiap kelompok membawa pulang versi mereka sendiri, tanpa jawaban pasti. Justru, semakin banyak yang datang, semakin banyak pula cerita baru yang muncul.
“Tempat ini seperti tidak ingin dibongkar,” ucap Pak Hendra lirih. “Siapa pun yang terlalu penasaran, biasanya dapat ‘oleh-oleh’.”
Energi Kelam, Korban Kewarasan, dan Puncak Sekuning sebagai Simpul Antara Dua Dunia
Beberapa warga percaya bahwa energi di Puncak Sekuning berasal dari praktik-praktik lama yang tak pernah dicatat. Ada dugaan pemakaman ini berdiri di atas tanah yang sejak dulu dianggap “keras”. Ada pula yang meyakini bahwa arwah-arwah tertentu belum menerima kepergiannya, terjebak antara dunia.
Kasus paling mengerikan adalah tentang seorang pria paruh baya yang kehilangan kewarasannya setelah sering menyendiri di area makam. “Dia sering ngomong sendiri, katanya ada yang nyuruh jaga tempat,” cerita warga. Hingga kini, pria itu masih dirawat keluarganya, dan namanya tak pernah lagi disebut keras-keras.
Bagi pencinta horor dan petualangan mistis, Puncak Sekuning justru menjadi daya tarik tersendiri. Beberapa datang dengan kamera, sebagian dengan niat menguji nyali. Namun tak semua pulang dengan cerita yang bisa dibanggakan. Ada yang pulang membawa rasa takut yang menetap lama, bahkan setelah meninggalkan lokasi.
Sesepuh setempat sendiri, sebagai ahli supranatural, percaya bahwa tempat seperti ini adalah simpul energi—pertemuan emosi manusia, kematian, dan waktu. Tidak semua misteri perlu dibuka paksa. Ada yang cukup dihormati dari jauh.
Kini, Puncak Sekuning dikenal sebagai salah satu destinasi wisata horor paling menegangkan di Palembang. Namun bagi warga sekitar, tempat itu bukan hiburan. Ia adalah pengingat bahwa ada wilayah yang tidak sepenuhnya menjadi milik manusia.
Dan ketika malam turun, serta angin kembali membawa bau kamboja, Puncak Sekuning seakan berbisik pelan mengajak siapa pun yang berani untuk datang, lalu menguji apakah mereka siap menghadapi misteri hantu yang belum pernah benar-benar pergi.
Redaksi Energi Juang News



