Minggu, Maret 15, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaEmbung Toblopo dan Pengakuan Menikah Dengan Kuntilanak

Embung Toblopo dan Pengakuan Menikah Dengan Kuntilanak

EnergiJuangNews,Kupang – Udara malam di kampung kecil dekat Embung Toblopo seolah menyimpan rahasia yang enggan dilepaskan. Pada malam-malam tertentu, suara perempuan tertawa lirih sering terdengar, memantul di permukaan embung yang gelap. Tak ada yang berani mendekat, sebab cerita-cerita lama tentang makhluk penunggu air sudah cukup membuat bulu kuduk berdiri.

Ketenangan kampung itu mulai retak ketika seorang pria bernama Simon Talan sering melontarkan pengakuan yang terdengar mustahil. Ia duduk di beranda rumah sambil menatap kosong ke arah embung dan berkata pada siapa saja yang lewat bahwa dirinya telah menikah dengan kuntilanak. “Dia datang saat malam paling sunyi,” ucap Simon suatu sore, suaranya tenang namun matanya kosong. Warga yang mendengar hanya bisa saling pandang. “Ah, Simon mulai ngawur,” bisik seorang ibu, sementara yang lain memilih berlalu dengan wajah tegang.

Cerita Simon semakin mengerikan ketika ia mengaku memiliki dua orang anak dari pernikahan itu, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Ia bersumpah pernah mendengar tangisan bayi di tengah malam, berasal dari sudut rumah yang gelap. “Anak-anak itu hidup di alamnya sendiri,” katanya kepada Oma, anak perempuannya, dengan nada serius. Oma mencoba menahan takut. “Bapa, jangan bicara begitu. Ini rumah kita,” katanya gemetar. Namun Simon hanya tersenyum tipis, seolah menyimpan rahasia besar yang tak bisa dibagikan sepenuhnya.

Pengakuan Simon tak berhenti di situ. Ia mengatakan bahwa sang kuntilanak meminta tumbal dari keluarganya sebagai syarat agar pernikahan mereka tetap abadi. “Dia ingin darah keluarga kita,” ujar Simon pelan, membuat Oma terisak. Warga yang mendengar kabar itu mulai resah. “Kalau benar begitu, ini bahaya,” kata seorang tetua kampung. “Makhluk halus tak pernah menepati janji.” Namun Simon bersikeras bahwa ia tak akan membiarkan siapa pun menjadi korban selain dirinya sendiri.

Malam sebelum kejadian, Simon tiba-tiba bertingkah aneh. Ia merobek-robek sarung bantal sambil memaksa pulang ke rumahnya di tepi embung. “Saya harus kembali, dia menunggu,” teriaknya. Oma menangis ketakutan dan memanggil beberapa warga. “Bapa, dengar saya, ini sudah malam,” pintanya. Seorang tetangga berbisik, “Matanya kosong sekali, seperti bukan Simon yang kita kenal.” Ketegangan malam itu membuat udara terasa semakin dingin dan berat.

Karena khawatir, Oma memutuskan memanggil seorang pendoa untuk menenangkan ayahnya. Doa-doa dilantunkan dengan suara bergetar, namun Simon hanya terdiam sambil menatap lantai. Usai berdoa, sang pendoa menarik Oma ke samping. “Jangan lengah,” katanya serius. “Jika ia dibiarkan sendiri, sesuatu yang buruk akan terjadi.” Kata-kata itu menancap kuat di benak Oma, membuatnya tak bisa tidur semalaman.

Rabu pagi sekitar pukul 05.30 WITA, Oma dan suaminya mengantar Simon kembali ke rumahnya di tepi embung. Kabut tipis menyelimuti jalan setapak, dan air embung tampak lebih gelap dari biasanya. Setibanya di rumah, Simon sempat duduk diam cukup lama. “Bapa mau istirahat dulu,” katanya pelan. Oma mengangguk, meski hatinya tak tenang. Ia merasa ada sesuatu yang salah, seperti perpisahan yang tak terucap.

Tak lama kemudian, Simon berdiri dan melangkah keluar rumah. Ia berkata hendak memetik kelapa, namun langkahnya justru menuju tempat pancing disandarkan. Seorang warga sempat melihatnya berjalan ke arah embung. “Mau mancing pagi-pagi?” sapa orang itu. Simon hanya tersenyum singkat tanpa menjawab. Air embung beriak pelan, seolah menyambut kehadirannya.

Beberapa jam kemudian, teriakan menggemparkan kampung. Tubuh Simon ditemukan mengambang di Embung Toblopo. Warga berkerumun dengan wajah pucat. “Ini pasti ulah makhluk itu,” ujar seseorang ketakutan. Yang lain berbisik, “Mungkin dia benar-benar menepati janjinya.” Pihak berwenang menduga Simon melakukan bunuh diri, namun bagi warga, kematian itu terasa terlalu ganjil untuk disebut kebetulan.

Sejak kejadian itu, Embung Toblopo semakin dihindari. Pada malam hari, beberapa orang mengaku melihat sosok perempuan berambut panjang berdiri di tepi air sambil menggendong dua anak kecil. “Jangan sebut namanya,” kata warga tua memperingatkan. Kisah mistis Simon Talan pun menjadi legenda kelam yang terus diceritakan, mengingatkan bahwa ada batas tipis antara dunia manusia dan sesuatu yang tak kasat mata, dan sekali batas itu dilanggar, tak semua jiwa bisa kembali dengan selamat.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments