Energi Juang News, Wonosobo– Desa Wonolelo di wilayah Wonosobo dikenal sebagai desa yang sunyi dan dikelilingi alam yang masih perawan. Di sisi barat desa terbentang hutan lebat yang tampak hijau menenangkan di siang hari, namun berubah muram ketika senja turun. Penduduk sering berkata bahwa hutan itu “tidak suka didatangi,” terutama saat matahari mulai tenggelam. Namun bagi anak-anak desa, larangan orang tua sering terasa seperti cerita kosong belaka.
Hutan itu oleh warga disebut Hutan Bawah Angin, karena anginnya selalu bertiup dingin meski cuaca cerah. Seorang warga tua pernah berpesan, “Kalau dengar suara aneh, jangan ditanggapi, itu bukan milik kita.” Kalimat itu sering diulang dalam obrolan sore di pos ronda. Tidak ada yang berani masuk terlalu jauh, sebab banyak cerita lama yang berakhir dengan kehilangan dan kesedihan.
Suatu sore yang tampak biasa, seorang gadis kecil berusia tujuh tahun bernama Imah bermain di halaman rumahnya. Anak Pak Sarman dan Bu Narti itu dikenal ceria dan patuh. Namun sore itu, ia mendengar suara tawa anak-anak dari arah hutan. “Imah, jangan ke sana,” teriak ibunya dari dapur. Sayangnya, rasa penasaran anak kecil sering kali lebih kuat daripada rasa takut yang diajarkan.
Tanpa sadar, Imah melangkah masuk mengikuti suara tawa yang terdengar semakin ramai dan riang. Hutan itu seakan berubah, pepohonan tampak rapat dan cahaya matahari sulit menembus tanah. Suara tawa terdengar dekat di telinganya, lalu menjauh lagi. Imah terus berjalan hingga tidak menyadari bahwa dirinya telah berada jauh di dalam hutan, sendirian, tanpa jalan pulang yang jelas.
Malam tiba dan rumah Pak Sarman mulai dipenuhi kegelisahan. “Imah belum pulang?” tanya Pak Sarman dengan wajah pucat. Bu Narti hanya menggeleng sambil menangis. Warga segera berkumpul. “Kita cari bersama,” kata ketua RT. Mereka menyusuri desa, memanggil nama Imah berkali-kali, namun tidak ada jawaban selain gema suara mereka sendiri.
Akhirnya, warga memberanikan diri memasuki hutan. Begitu melangkah masuk, udara terasa berat dan dingin menusuk. Daun-daun bergesek seperti bisikan. “Aku nggak suka tempat ini,” bisik seorang warga. Di tengah pencarian, mereka menemukan jejak kaki kecil yang berhenti di tepi jurang. Tak jauh dari situ, tergeletak sebuah mainan kayu kuno yang bukan milik Imah, membuat suasana semakin mencekam.
Pencarian dihentikan menjelang dini hari karena rasa takut yang semakin kuat. Keesokan paginya, warga mendatangi Mbok Karti, seorang dukun tua yang dihormati. Dengan mata terpejam, Mbok Karti berkata lirih, “Hutan itu dihuni arwah anak-anak yang mati tenggelam puluhan tahun lalu.” Warga terdiam. “Mereka suka bermain… dan memanggil,” lanjutnya dengan suara bergetar.
Dalam penglihatannya, Mbok Karti menggambarkan sosok-sosok kecil berwajah pucat dengan mata kosong, tertawa tanpa suara. Arwah-arwah itu terjebak di antara dua dunia, mencari teman untuk mengisi kesepian abadi mereka. “Kalau anak kecil masuk tanpa perlindungan, mereka mengajaknya tinggal,” katanya. Seorang warga berbisik takut, “Jadi… Imah?” Mbok Karti hanya mengangguk pelan.
“Imah sudah diambil oleh mereka,” ucap Mbok Karti akhirnya. Kalimat itu jatuh seperti palu menghantam hati Pak Sarman dan Bu Narti. “Tidak ada jalan pulang bagi yang sudah ikut,” tambahnya. Tangis pecah di ruangan itu. Warga hanya bisa menunduk, menyadari bahwa pencarian fisik tak akan lagi membawa hasil.
Sejak saat itu, misteri hilangnya Imah menjadi kisah yang terus diceritakan dari generasi ke generasi di Wonolelo. Hutan Bawah Angin semakin dijauhi, dan setiap orang tua memperingatkan anaknya dengan suara serius. Warga sering berkata pelan, “Kalau dengar tawa dari hutan, jangan jawab.” Karena di desa itu, semua percaya bahwa Imah kini bermain selamanya, di dunia yang bukan milik manusia.
Redaksi Energi Juang News



