Energi Juang News, Malang– Dalam masyarakat Jawa, terdapat ungkapan lirih namun tajam maknanya: nalika susah karo istri, nalika sukses golek liyane. Ungkapan ini bukan sekadar sindiran, melainkan cermin pahit dari relasi kuasa dalam rumah tangga. Ia tumbuh dari pengalaman kolektif perempuan yang setia mendampingi perjuangan, namun justru tersisih ketika kesejahteraan mulai diraih. Kisah Surti (Nama samaran) dari Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, menjadi gambaran nyata bagaimana realitas tersebut bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Perkara selingkuh di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari struktur sosial yang masih menempatkan perempuan sebagai pendukung, bukan subjek utama. Surti bukan perempuan yang kalah rupa atau akal. Pekerja swasta dengan penghasilan jutaan rupiah, sementara suaminya, Kang Dalbo(Nama samaran), saat itu masih merintis usaha kecil, bahkan cenderung mbang piss. Hubungan bermula gowes bersama berlanjut ngasah pedang Dalbo bersama tapi jangan salah…resmi.
Kebiasaan Dalbo yang iseng chatting dengan lawan jenis sudah lama diketahui Surti. Kala itu ia maafkan karena Kang Dalbo masih menunjukkan peran sebagai kepala keluarga. “Aku maafin karena pundaknya masih keras nyari duit,” ujarnya. Sikap ini mencerminkan nilai kesabaran tingkat dewa, meskipun tanda-tanda pengkhianatan sudah terlihat sejak awal.
Awalnya, kehidupan mereka berjalan harmonis. Surti bahkan mendorong suaminya untuk bekerja di Surabaya biar naik gajinya. Ia sadar bahwa menggantungkan hidup dari usaha kecil tidak menjanjikan stabilitas jangka panjang.
Perjuangan itu membuahkan hasil. Kang Dalbo diterima sebagai karyawan perusahaan, meski berbeda divisi dengan istrinya. Empat tahun kemudian, Surti memilih mundur dari pekerjaannya.Menjalani peran sebagai ibu rumah tangga dan nyervis kebutuhan biologi Kang Dalbo. Di sinilah relasi kuasa mulai bergeser, posisi tawar Surti kerap melemah…ajlok kaya IHSG kena krisis.
Kecurigaan, luka batin, dan kecemasan menjadi teman sehari-hari, namun semua itu ia tahan demi anak karena melemahnya nilai tawar saham. Saham Kang Dalbo yang menekan dianggap sebagai beban yang tidak adil.
Puncak knya ketika Kang Dalbo ketahuan check in dengan Murni (Nama samaran), bawahannya sendiri dengan cara penyalahgunaan kuasa menginjak harga diri Murni runtuh malam itu. Adegan diperetelinya onderdil Murni satu persatu yang rela dinikmati Kang Dalbo. Bak mesin diesel, makin malam mesin Kang Dalbo makin panas, hingga Murni kewalahan. Dengan iming iming akan dinikahi, tetapi oleh sistem yang membenarkan laki-laki sukses mencari validasi baru.
Adegan gas gasan Kang Dalbo ini lama kelamaan tercium Surti istrinya. Saat Surti minta penjelasan, Kang Dalbo justru marah dan mengancam perceraian. Benar benar Kang Dalbo dikuasai rasa kepuasan servis Murni daripada Surti teman yang rela mendampingi kala susahnya dulu. Alih-alih mengakui kesalahan, pelaku memindahkan beban konflik kepada korban. “Kalo gitu aku yang mundur teratur mas, kamu urus anak anakmu,” kata Surti. Keputusan itu bukan bentuk kekalahan lawan servis Murni, melainkan upaya merebut kembali martabat.
Kisah ini menunjukkan perempuan yang menemani dari nol sering kali dianggap selesai perannya ketika laki-laki mencapai puncak.
Redaksi Energi Juang News



