Energi Juang News,Pekalongan- Kalau ada penghargaan untuk “janji manis paling berbahaya bagi kesehatan”, maka janji manis Tomi kepada Wiwik sudah pasti masuk nominasi. Bahkan, bukan cuma sekadar bikin baper—ini sudah masuk kategori penyakit kronis: diabetes rasa cinta.
Ya, benar. Kisah janji manis sejoli Tomi Wiwik ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah cerita tentang bagaimana gula-gula kata bisa lebih mematikan daripada gula pasir di warung sebelah.
Tomi,17 yang masih duduk di kelas II SMA, pria dengan tampilan sederhana tapi mulut berkelas premium. Bukan karena jujur, tapi karena isi omongannya seperti iklan sirup: manis, kental, dan penuh janji.
Sementara Wiwik,16 adik kelasnya? Perempuan biasa yang, seperti kebanyakan manusia, punya dua kelemahan: hati dan harapan.
Awalnya semua berjalan seperti sinetron sore hari dari tatapan mata, senyum tipis, lalu kalimat sakti:“Tenang aja, Wik… aku serius sama kamu.” Ucapan itu terucap karena Tomi sudah mempraktekkan pelajaran biologi yang baru didapatnya saat di sekolah.
Kalimat itu, saudara-saudara, adalah pintu gerbang menuju bencana.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Janji Tomi makin beragam, seperti menu di warung Padang.
Masalahnya, masa depan yang dimaksud Tomi ternyata cuma sampai jam 10 malam.
Sementara Wiwik, yang sudah terlanjur percaya, mulai mengorbankan banyak hal. perasaan, keperawanan bahkan masa depannya.
Dan seperti hukum alam yang tidak tertulis dalam buku Pelajaran Biologi dipraktekkan, satu hal terjadi aliat uwik..uwik…
Wiwikpun hamil.
Begitu kabar kehamilan muncul, Tomi tiba-tiba berubah. Bukan berubah jadi lebih baik, tapi berubah jadi tidak terlihat.
Nomor tidak aktif. Chat centang satu. Status terakhir: “online 2 minggu lalu”—itu pun mungkin karena salah tekan.
Dan di sinilah kita memahami satu teori baru: Wanita sangat rentan mengidap diabetes, sebab dia sering kali menelan janji manis.
Bukan diabetes medis, tentu saja. Tapi diabetes emosional—kondisi di mana terlalu banyak konsumsi janji palsu menyebabkan kerusakan hati permanen.
Wiwik kini harus menghadapi kenyataan sendirian. Perut yang makin besar bukan lagi simbol cinta, tapi bukti bahwa tidak semua janji Tomi bisa dipercaya.
Lingkungan mulai berisik. Tetangga jadi komentator. Teman jadi analis. Semua punya opini, tapi tidak ada yang punya solusi.
Sementara Tomi? Entah sedang di mana. Mungkin sedang meracik janji manis baru untuk korban berikutnya.
Kisah ini sebenarnya bukan tentang Tomi saja. Karena di luar sana, “Tomi-Tomi” lain masih berkeliaran bebas, dengan senjata utama: Janji manis tanpa tanggung jawab.
Sementara “Wiwik-Wiwik” lain? Masih ada,masih percaya, dan masih berharap.
Dari kisah janji manis Tomi Wiwik, ada beberapa hal yang bisa dipetik, walaupun biasanya cuma dipetik lalu dilupakan.
Bagaimana mungkin manusia bisa begitu cerdas dalam banyak hal, tapi begitu bodoh dalam urusan cinta?
Redaksi Energi Juang News



