Energi Juang News, Jakarta– Malam itu, langit di atas Universitas Brawijaya tampak kelam. Angin berembus pelan, membawa aroma lembab dari dedaunan dan tembok kampus yang mulai berjamur karena musim hujan.
Di sekitar gedung Perpustakaan UB, hanya ada satu cahaya temaram dari lampu lorong yang berkerlap-kerlip, seolah nyaris padam lengkap dengan hawa dingin menusuk kulit siapa saja.
Alya, mahasiswi semester lima, sedang mengejar deadline skripsinya. Ia tak sadar waktu menunjukkan pukul 23.45. Perpustakaan sudah lama tutup, tapi ruang belajar 24 jam di dekat lorong belakang masih terbuka.
Saat sedang asyik merapikan buku, ia merasa ada orang lain diruangan itu, sempat terlintas keinginannya memastikan sosok itu. Kemudian ia menoleh dan diujung penglihatannya melihat seseorang duduk membelakanginya di ujung lorong.
Karena suasana sepi dan sudah malam, Alya penasaran dan memastikan sosok yang mungkin ia kenal.
setengah ragu ia menyapa orang itu: “Maaf, Mbak… Masih ada orang?” tanyanya pelan.
Namun sosok perempuan itu terdiam tak ada jawaban, Alya berpikir mungkin tak mendengar sapanya karena sedang menggunakan headset. Alya berusaha mendekat namun dengan langkah kaki yang ragu.
Selangkah demi selangkah ia mendekat, hingga jaraknya tinggal beberapa meter, sosok itu perlahan menoleh.
Seketika Alya terperangah bercampur rasa takut yang sangat. Ia menyaksikan sosok perempuan didepannya itu ternyata wajahnya… rata, tak ada mata, tak ada hidung, tak dikenali siapa.
Yang terlihat hanya kulit mengelupas, seperti habis terbakar, permukaan wajahnya basah dan berkilat karena darah yang mengalir. Dan sebagian wajagnya seperti luka yang baru saja mengering.
Aroma busuk dan aroma daging terbakar tercium olehnya, membuat tak terbendung rasa takutnya.
Tak kuasa menahan rasa takut Alya menjerit. Buku-buku yang dipelukannya berjatuh dari tangannya. Ia berlari meninggalkan lorong, tak berani menoleh ke belakang.
Sekuat tenaga ia keluar dari kampus yang lumayan jauh, berharap ia bertemu satpam kampus. Benar saja didi pos satpam ia melihat Pak Darto, dan minta tolong diantar pulang.
Beberapa hari setelah kejadian, Alya memberanikan diri bertanya kepada Pak Darto, satpam yang sudah bekerja di kampus UB lebih dari 20 tahun.
Ditengah obrolan ia Alya bertanya: “Pak, saya… saya kemarin lihat sosok aneh di lorong perpustakaan. Mukanya… rata, Pak.”
Mendengar pertanyaan itu Pak Darto menghela napas panjang, “Nak, kamu sudah lihat dia, ya? Banyak yang sudah cerita… tapi tak semua percaya.” ucapnya.
“Siapa sebenarnya dia, Pak?” tanya Alya Penasaran.
“Dulu, ada mahasiswi yang jadi korban pelecehan. Katanya sih, supir angkot langganan yang sering ngetem dekat FK… Entah bagaimana, dia hilang, dan ditemukan… tak bernyawa. Wajahnya… rusak parah. Sejak itu, arwahnya gentayangan.” Jawab Pak Darto.
“Tapi kenapa di perpustakaan?”tanya Alya.
Pak Darto menjawab, “Karena dia dulu suka baca buku. Tempat favoritnya ya lorong belakang itu. Tapi jangan pernah samperin kalau lihat sosok yang duduk membelakangi. Itu undangan untuk melihat wajahnya. Dan sekali kamu lihat, susah melupakannya.”
Sejak kejadian itu, Alya tak pernah lagi belajar malam sendirian. Menurut beberapa temannya bahkan ada yang mengaku dijahili.
Ada mahasiswa yang laptopnya tiba-tiba mati total, dan sesaat setelahnya mendengar suara bisikan saat sendiri di tangga perpustakaan itu.
Kejadian paling menyeramkan adalah tentang seorang mahasiswa jurusan teknik yang pernah tak sengaja memotret lorong belakang. Saat melihat hasil jepretannya, ada sosok perempuan wajah rata berdiri di pojok ruangan, sosok menyeramkan itu menghadap langsung ke kamera. Saat foto itu akan dicetak, tiba tiba file foto itu rusak.
Suasana yang menyeramkan untuk perpustakaan kampus yang terbilang ramai saat siang hari.
Namun menjelang malam tempat itu suasana berubah, hanya keheningan yang terasa begitu menyesakkan.
Redaksi Energi Juang News



