Energi Juang News, Jakarta – Tak hanya terkenal dengan kulinernya seperti soto atau nasi boran, Lamongan juga punya ciri khas yang melekat dalam kehidupan sehari-hari warganya: bahasa daerah yang unik dan sulit dipahami oleh orang luar. Sejumlah istilah lokal bahkan terdengar asing meski bagi penutur bahasa Jawa sekalipun.
Berikut adalah beberapa contoh kosakata khas Lamongan yang memiliki arti berbeda dari bahasa Jawa standar atau bahkan tidak dikenal di daerah lain:
- Kok iye?
Digunakan untuk bertanya “Bagaimana?” Kata ini menjadi alternatif dari “piye” atau “yaopo”.
Contoh: “Kok iye? sido mangan sego boran opo soto?”
Artinya: “Gimana? Jadi makan nasi boran atau soto?” - Pareg
Berarti “dekat”. Kata ini punya ciri khas akhiran G yang medhok.
Contoh: “Omahe pareg terminal.”
Artinya: “Rumahnya dekat terminal.” - Dalu
Makna dari kata ini adalah “malam”, pengganti dari kata “bengi”.
Contoh: “Wis dalu, ndang mulih!”
Artinya: “Sudah malam, ayo pulang!” - Lesu
Bukan berarti lelah, tapi di Lamongan berarti “lapar”.
Contoh: “Mbok yo ndang masak, aku wes lesu pol.”
Artinya: “Cepat masak, saya sangat lapar.” - Tekan
Dipakai untuk menanyakan “sampai mana”.
Contoh: “Tekan endi?”
Artinya: “Sampai di mana?” - Ijenan
Maknanya adalah “sendirian”.
Contoh: “Budhal ijenan ta?”
Artinya: “Pergi sendirian?” - Kringi
Kata lain dari “mendengar” atau “dengar”.
Contoh: “Wis kringi ta? mene ono acara.”
Artinya: “Sudah dengar? Besok ada acara.” - Bandak
Berarti “biarkan saja”. Ungkapan ini biasanya digunakan saat tidak mau ambil pusing.
Contoh: “Bandak wae.”
Artinya: “Biarkan saja.”
Bahasa khas Lamongan ini bukan hanya sekadar logat, tetapi bagian dari identitas budaya masyarakat. Bagi warga asli atau perantau asal Lamongan, ucapan seperti “kok iye” bisa jadi pemantik rasa rindu pada kampung halaman.
Redaksi Energi Juang News



