Energi Juang News,Blitar-Langit sore di perbukitan Blitar tampak meredup lebih cepat dari biasanya. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan daun kering yang bergesekan. Jalan setapak menuju sebuah lokasi yang jarang disebut secara terang-terangan itu mulai terasa ganjil. Warga sekitar menyebutnya dengan nada setengah berbisik—sebuah tempat yang menyimpan cerita lama, antara sejarah dan sesuatu yang sulit dijelaskan.
“Mas, kalau mau ke sana, jangan lupa permisi dulu,” kata seorang bapak tua di warung pinggir jalan.
“Permisi ke siapa, Pak?” tanya Raka, seorang pemuda yang datang dengan rasa penasaran.
Bapak itu tersenyum tipis. “Ya… sama yang punya tempat.Perjalanan Raka membawanya ke sebuah area yang dikenal masyarakat sebagai makam gantung. Di sanalah, konon, bersemayam sosok yang disebut-sebut sebagai Eyang Joyodigo—tokoh dari masa lampau yang hidup jauh sebelum penjajahan Belanda dan dipercaya pernah melawan kekuasaan kolonial.
Namun, bukan hanya sejarah yang membuat tempat itu dikenal.
Ketika Raka tiba, ia disambut oleh seorang kuncen yang telah menjaga area tersebut selama puluhan tahun. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan banyak cerita.
“Sampeyan datang sendiri?” tanya sang kuncen.
“Iya, Pak. Saya dengar tempat ini… berbeda.”
Kuncen itu mengangguk pelan. “Berbeda itu relatif. Yang jelas, tidak semua orang cocok datang ke sini.”
Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, proses pemakaman Eyang Joyodigo tidak berlangsung seperti biasa. Ketika beliau wafat, keluarga mengalami kebingungan karena ilmu yang diyakini dimilikinya semasa hidup.
Untuk menyempurnakan pemakaman, jasadnya tidak langsung dikubur di tanah. Tubuhnya disangga sekitar setengah meter dari permukaan sebelum akhirnya ditutup. Dari situlah istilah “makam gantung” muncul.
“Dulu katanya, kalau langsung ditanam, bisa ada hal yang tidak diinginkan,” jelas kuncen.
“Hal seperti apa, Pak?” Raka mendesak.
Kuncen hanya tersenyum samar. “Yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.”
Malam mulai turun saat Raka memutuskan untuk tetap tinggal lebih lama. Suasana berubah drastis. Udara terasa lebih dingin, dan suara jangkrik terdengar seperti bergaung dari kejauhan.
Tiba-tiba, terdengar suara gemerisik dari semak-semak.
Raka menoleh cepat. “Pak… itu suara apa?”
Kuncen menatap ke arah yang sama, lalu berkata pelan, “Biasanya… bukan angin.”
Tak lama, sesuatu bergerak perlahan. Seekor ular besar muncul dari balik kegelapan. Warnanya tidak biasa—gelap dengan semburat yang berkilau di bawah cahaya bulan.
Raka mundur selangkah. “Itu… ular biasa?”
“Kalau di sini, tidak ada yang benar-benar ‘biasa’,” jawab kuncen.
Cerita tentang penampakan memang bukan hal baru di tempat itu. Beberapa pengunjung mengaku pernah melihat sosok yang diyakini sebagai Eyang Joyodigo. Namun, menurut kuncen, tidak semua orang bisa melihatnya.
“Hanya yang ‘dipanggil’ saja,” katanya.
“Dipanggil?” Raka mengulang dengan suara pelan.
“Iya. Kadang orang datang tanpa niat apa-apa, tapi pulang membawa cerita.”
Seorang warga lain, Bu Sarmi, pernah mengalami kejadian yang hingga kini membuatnya enggan kembali ke area tersebut.
“Motor saya tiba-tiba mati, Mas. Padahal sebelumnya nggak ada masalah,” ceritanya.
“Terus, Bu?”
“Ya saya panik. Terus ada yang bilang, coba salam dulu. Saya coba… ‘permisi, saya cuma lewat’… eh, motornya nyala lagi.”
Raka mengernyit. “Kebetulan?”
Bu Sarmi menggeleng. “Kalau cuma sekali mungkin. Tapi katanya banyak yang ngalamin.”
Kuncen sendiri mengaku sering mengalami kejadian yang sulit dilupakan.
“Kadang malam-malam ada suara langkah, padahal nggak ada siapa-siapa,” ujarnya.
“Takut nggak, Pak?”
“Awalnya iya. Lama-lama… terbiasa. Tapi tetap harus hormat.”
Ia menambahkan bahwa waktu-waktu tertentu terasa lebih “menyeramkan” dibanding biasanya. Terutama saat malam Jumat atau menjelang tengah malam.
“Suasananya beda. Seperti ada dua ekor macan besar yang mengawasi.”
Meski begitu, kuncen menegaskan bahwa tidak semua cerita harus dipercaya mentah-mentah. Banyak kisah berkembang menjadi mitos yang dibumbui dari mulut ke mulut.
“Yang penting itu, kita tahu ini bagian dari sejarah dan kepercayaan,” katanya.
Raka mengangguk, mencoba mencerna semua yang ia dengar dan alami.
Saat ia bersiap pulang, Raka menoleh sekali lagi ke arah makam. Di bawah cahaya bulan, tempat itu tampak sunyi, tapi bukan sunyi yang kosong. Ada rasa seperti… dijaga.
Redaksi Energi Juang News



