Minggu, April 19, 2026
spot_img
BerandaOjo LaliIstana Ambyar, Suami Pilih Cinta, Dolar, dan Dosa

Istana Ambyar, Suami Pilih Cinta, Dolar, dan Dosa

Energi Juang News, Madiun- Di negeri yang katanya subur makmur gemah ripah loh jinawi, ada satu hukum tak tertulis yang lebih sakral dari janji pernikahan: kalau saldo aman, cinta ikut nyaman. Tapi kalau saldo hasil kiriman istri malah dipakai buat “investasi perasaan” ke wanita lain, ya siap-siap saja… rumah bisa berubah jadi puing, cinta jadi arang.

Inilah kisah Poniran (37), pria serabutan dengan bakat luar biasa dalam mengelola… bukan keuangan, tapi kesempatan. Ia menikahi Peni (25), mantan TKW yang hatinya selembut transferan bulanan: rutin, tepat waktu, dan jumlahnya bikin tetangga iri.

Awalnya, kehidupan mereka seperti sinetron religi awal Ramadan: sederhana, penuh harapan, dan sedikit drama. Peni, dengan tekad baja, kembali merantau ke luar negeri. Tujuannya mulia: membangun “istana kecil” di atas tanah warisan Poniran di Kertosono. Bukan sekadar rumah, tapi simbol cinta jarak jauh yang dibayar dengan keringat dan rindu.

Selama 15 tahun pernikahan, 10 tahun di antaranya Peni habiskan di negeri orang. Sementara itu, Poniran di kampung menjalani peran sebagai “penjaga aset”—meski ternyata lebih cocok disebut “penikmat aset wanita lain.”

Awalnya semua tampak baik-baik saja. Uang mengalir, bangunan berdiri, dan warga mulai berbisik, “Wah, rezeki Poniran lancar juga ya.” Tapi mereka belum tahu, yang lancar bukan cuma rezeki… tapi juga niat selingkuh dengan WIL.

Masalah klasik pun muncul: kebutuhan batin. Poniran merasa hubungan jarak jauh dengan sistem SLJJ (Sambungan Langsung Jarak Jauh) tak cukup memuaskannya. Video call tak bisa menggantikan “kehangatan nyata”, katanya—meski yang hangat ternyata bukan cuma perasaan, tapi juga kamar hotel.

Datanglah Minthul teman lama Poniran saat SMA, yang muncul kembali di acara reuni. Reuni yang seharusnya jadi ajang nostalgia, malah berubah jadi awal bencana rumah tangga.

Baca juga :  Adu Nyali Antara Meriam Dan Ekor Tikus

“Dulu kamu beda, Niran… sekarang lebih… menggoda,” kata Minthul sambil senyum tipis, konon begitu menurut gosip warga.

Poniran, yang mungkin lupa statusnya sebagai suami orang, langsung upgrade hubungan mereka dari “teman lama” menjadi Wanita Idaman Lain (WIL).

Padahal, Minthul sendiri sudah berkeluarga. Tapi entah karena bosan, kecewa, atau sekadar ingin variasi, ia memilih membuka “cabang rasa” di luar rumah. Dua insan yang sama-sama tahu batas, justru kompak melanggarnya.

Sejak saat itu, setiap kiriman uang dari Peni tak lagi murni untuk semen dan batu bata. Sebagiannya “dialokasikan” untuk check-in hotel bersama Minthul. Kalau di laporan keuangan mungkin tertulis:
“Pengeluaran tak terduga: kebutuhan biologis darurat.” yang dikeluarkan Poniran.

Lama-lama, aroma perselingkuhan dengan Minthul itu tak bisa lagi ditutupi. Warga mulai curiga. Di warung kopi, nama Poniran lebih sering disebut menjalin Sambungan Langsung Jarak Dekat dengan Minthul.

Peni bertanya dalam hati “Rumahnya kok nggak jadi-jadi ya? Padahal uang kiriman gede bangt,” Sedang menurut celetukan warga, mereka sering melihat Poniran boncengan bareng mengarah ke hotel untuk berbuat selingkuh.

“Lha wong uangnya dipakai bangun rumah kok buat menjalin hubungan lain,” jawab tetangga yang lain.

Sementara itu, di negeri seberang, Peni mulai merasakan ada yang janggal. Insting seorang istri—yang kadang lebih tajam dari CCTV—mulai bekerja. Ia menghitung: uang yang dikirim tak sebanding dengan hasil bangunan.

“Ini rumah apa kandang ayam direnovasi pelan-pelan?” gumamnya.

Puncaknya terjadi saat Peni melakukan video call mendadak. Dalam sekejap, ia melihat sosok perempuan melintas di belakang Poniran.

“Siapa itu?” tanya Peni, suaranya mulai meninggi.

Poniran panik. “Eh… itu… itu… tamu!”

“Tamu kok pakai daster saya?” jawab Peni dingin.

Baca juga :  Ketika Penyok Membuat Peni Klepek-Klepek

Sejak saat itu, konflik meledak. Cekcok jadi makanan sehari-hari, bahkan lebih rutin daripada kiriman uang. Poniran yang biasanya santai, kini sering terlihat gelisah. Sementara Peni, yang dulu lembut, berubah jadi badai yang siap merobohkan segalanya.

Pihak desa turun tangan. Kepala dusun dan RT mencoba menjadi “wasit cinta” dalam drama ini. Mediasi dilakukan, bukan sekali, tapi tiga kali.

“Masih bisa diperbaiki, Pak,” kata Pak RT dengan nada bijak.

“Tergantung… mau diperbaiki atau diganti pemainnya,” sahut warga di belakang.

Namun, semua usaha sia-sia. Luka sudah terlalu dalam, kepercayaan sudah hancur, dan cinta… tinggal kenangan yang basi.

Akhirnya, keputusan paling dramatis pun diambil: merobohkan rumah yang belum selesai itu. Dan mereka tak segan mendatangkan eskavator untuk eksekusi. Karena mereka sama sama tak mau rugi, atau mengambil untung.

Surat perjanjian dibuat. Tak ada tangisan romantis seperti di film. Yang ada hanya suara palu, debu beterbangan, dan tatapan kosong dua orang yang pernah saling mencintai.

Rumah yang dibangun dari keringat Peni, kini rata dengan tanah. Ironisnya, yang paling kokoh justru bukan dindingnya, tapi pendirian mereka yang sudah tidak bisa bersatu.

Di sudut kampung, warga masih membicarakan kisah ini. Bukan karena ingin menghakimi, tapi karena ini jadi pelajaran mahal:

Bahwa cinta jarak jauh butuh lebih dari sekadar kuota dan kiriman uang.
Bahwa kesetiaan tak bisa diganti dengan alasan “kebutuhan batin.”
Dan yang paling penting…

“Kalau mau selingkuh, jangan pakai uang istri. Itu bukan cinta, itu bunuh diri ekonomi”. saran Paidi sahabat Poniran.

Dan kini, Poniran kini kembali ke kehidupan awalnya: serabutan. Bedanya, dulu ia punya istri yang setia. Sekarang, ia hanya punya cerita… yang jadi bahan gosip satu kampung.

Baca juga :  Petong dan Toilet `Laknat`
rumah dirobohkan_ilustrasi
rumah dirobohkan_ilustrasi
Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments