Energi Juang News, Purwokerto- Angin malam di Desa Karangwungu selalu berhembus lebih dingin dari biasanya. Warga percaya, udara itu membawa sesuatu yang tak kasatmata—sesuatu yang berasal dari tempat yang tidak seharusnya diganggu.
Malam itu, suara jangkrik tiba-tiba berhenti bersamaan.
“Aneh… biasanya jam segini masih ramai,” bisik Pak Darno, penjaga ronda, sambil memegang senter tua.
Di sebelahnya, Wawan, pemuda desa, menelan ludah.
“Pak… itu bukan suara angin biasa, kan?”
Pak Darno tidak langsung menjawab. Sorot matanya mengarah ke rumah Pak Sastro—rumah yang dalam setahun terakhir berubah dari tempat hangat menjadi sumber ketakutan.
“Sejak kejadian itu… desa ini nggak pernah sama lagi,” gumamnya pelan.
Semua bermula setahun lalu, saat Pak Sastro tanpa sengaja menemukan sesuatu di atas genteng rumahnya. Gumpalan tanah hitam yang berbau busuk, bercampur serpihan kain kafan.
“Istri saya yang pertama lihat,” cerita Pak Sastro suatu malam kepada warga.
“Dia bilang, ‘Pak… ini tanah apa? Kok dingin sekali…’”
Warga yang mendengar langsung saling pandang.
“Itu bukan tanah biasa,” kata Mbah Wiryo, tetua desa dengan suara berat.
“Itu tanah kuburan.”
Sejak saat itu, kehidupan Pak Sastro perlahan hancur.
Usahanya bangkrut dan Istrinya sering sakit tanpa sebab.
Dan yang paling mengerikan—rumah tangganya retak hingga berujung perceraian.
Wawan pernah mengalami sendiri keanehan di rumah itu.
“Saya diminta bantu bersihin rumah,” katanya saat ronda.
“Awalnya biasa saja… tapi waktu saya sapu bagian dapur, ada suara… kayak orang berbisik.”
“Apa katanya?” tanya Pak Darno dan Wawan menunduk.“‘Ini bukan tempatku… kembalikan aku…’” Pak Darno menghela napas panjang.
“Itu roh yang ikut terbawa,” ujarnya. “Tanah kuburan itu bukan sekadar tanah. Ada energi… bahkan kutuk di dalamnya.”
Dalam kepercayaan dunia supranatural, tanah kuburan bukanlah benda netral. Ia menyimpan jejak energi kematian—terutama jika berasal dari orang yang meninggal dalam keadaan tidak baik.
Mbah Wiryo menjelaskan kepada warga suatu malam:
“Sejak manusia pertama jatuh dalam dosa, kematian membawa beban spiritual. Tanah kuburan menjadi tempat berkumpulnya energi yang tidak selesai.”
“Jadi… tanah itu bisa mencelakai orang?” tanya seorang ibu.
“Bisa,” jawabnya tegas.
“Apalagi kalau digunakan untuk santet.”
Menurutnya, santet dengan media tanah kuburan bekerja perlahan. Tidak langsung membunuh, tetapi menghancurkan kehidupan target sedikit demi sedikit.
“Usaha hancur… kesehatan menurun… rumah tangga retak,” lanjutnya.
“Itu semua tanda kutuk mulai bekerja.”
Yang lebih berbahaya adalah jika tanah itu berasal dari makam orang yang semasa hidupnya jahat.
“Kalau orang itu mati dalam kebencian, apalagi dibunuh tanpa sempat bertobat,” kata Mbah Wiryo,
“maka makamnya menyimpan kutuk kehancuran.” Warga terdiam.
“Energi itu mengikuti hukum tabur tuai,” lanjutnya.
“Kejahatan yang ia lakukan semasa hidup, menjadi kutuk yang tertinggal setelah kematian.”
Pak Darno menambahkan dengan suara pelan,
“Itu sebabnya santet jenis ini sangat kuat… karena bukan cuma energi kematian, tapi juga dendam.”
Setelah kejadian di rumah Pak Sastro, hal-hal aneh mulai terjadi di desa.
Seorang pedagang tiba-tiba bangkrut tanpa sebab.
Pasangan muda bercerai hanya dalam hitungan bulan.
Beberapa warga jatuh sakit tanpa diagnosa medis yang jelas.
“Ini bukan kebetulan,” kata Bu Rini saat berkumpul di balai desa.
“Kita semua kena imbasnya.”
“Berarti tanah itu belum benar-benar dibersihkan,” sahut Pak Darno.
Mbah Wiryo mengangguk pelan.
“Selama masih ada sisa… kutuk itu akan terus bekerja.”
Malam itu, warga sepakat melakukan ritual pembersihan.
Di halaman rumah Pak Sastro, mereka berkumpul dengan wajah tegang.
“Semua yang pernah menemukan tanah aneh di rumahnya, bawa ke sini,” perintah Mbah Wiryo. Beberapa warga maju, membawa bungkusan kecil.
Wawan berbisik,“Pak… saya merinding…”. Pak Darno menepuk bahunya.“Ini harus kita selesaikan.”
Mbah Wiryo mulai berdoa, suaranya dalam dan bergetar.
Setelah itu, ia mengambil tanah-tanah tersebut dan memasukkannya ke dalam wadah besi.
“Tanah ini harus dibakar,” katanya.
“Supaya energi yang menempel bisa diputus.”
Api dinyalakan dan bau menyengat langsung menyebar.
Dan tiba tiba…
“Aaaaahhh!”Salah satu warga menjerit.
“Ada bayangan! Di belakang pohon!”
Semua menoleh namun tidak ada apa-apa hanya angin… dan rasa dingin yang menusuk tulang.
Setelah tanah menjadi abu, Mbah Wiryo membawa sisa-sisa tersebut ke sungai.
“Kenapa harus dibuang ke air, Mbah?” tanya Wawan.
“Air mengalir melambangkan pelepasan,” jawabnya.
“Energi buruk tidak boleh menetap. Harus dilepas… supaya tidak kembali.”
Ia kemudian menaburkan abu ke sungai.
“Patahkan kutuk kehancuran… kemiskinan… penyakit… dan perceraian,” ucapnya pelan.
Air mengalir membawa abu itu menjauh.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama… udara terasa sedikit lebih ringan.
Redaksi Energi Juang News



