Berita Energi Juang, Jakarta- Kisah nyata rombongan lima bikers melaju santai sore itu dari Tegal menuju Banyumas. Jalur pegunungan Buntu Krumput tak disangka menjadi kisah urban legenda yang menakutkan. Berangkat dengan niat sesampai di Banyumas pagi subuh mereka berangkat Jam 22.00 dari Tegal. Perjalanan mulai terasa mencekam ketika malam tiba saat mereka melintasi hutan Buntu Krumput. Jalanan menyempit, berkelok tajam, dan tertutup rindang pepohonan. Sadi, yang berada di posisi paling belakang, tiba-tiba merasakan hawa dingin menusuk tulang. Bulu kuduknya berdiri tanpa sebab, dan membuat Sadi penasaran. Hingga saat lampu motornya menyorot bahu jalan di ujung jurang, napasnya tercekat. Sebuah delman hias layaknya delman pengantin dengan kuda hitam berdiri diam di sana dipinggir jalan bibir jurang namun tanpa kusir.
“Delman? Malam-malam begini?” gumam Sadi dalam hati. Ia segera memberhentikan motornya, dan mendekat pelan. Di kursi delman, duduk seorang perempuan berkebaya pengantin. Wajahnya cantik tapi pucat, pandangannya kosong menatap kedepan, seperti menunggu seseorang. Saat Sadi memperhatikan lebih dalam dengan lampu motornya, perempuan itu menoleh perlahan… lalu menyeringai lebar dengan wajah yang mendadak berubah mengerikan dengan matanya yang gelap, mulutnya sobek memanjang seperti terkoyak karena dimakan belatung membusuk. “Astaghfirullah…” desis Sadi mundur ketakutan.
Tak lama kejadian itu tiba-tiba, suara motor rombongan terdengar mendekat. Firman, salah satu anggota, langsung menghampiri. “Bro, kenapa lo berhenti mendadak? Kita pikir lo kenapa-kenapa!” katanya sambil menepuk bahu Sadi. Sadi tersentak seperti bangun dari hipnosis. “Lo… nggak liat delman di situ?” tanyanya terbata sambil menunjuk ke arah jurang. Semua menoleh, tapi tak ada apa-apa. Hanya gelap dan suara angin menggesek dedaunan.
“Lo serius? Delman? Di situ?” tanya Wawan dengan dahi mengernyit. “Iya, delman hias, ada pengantin cewek duduk di situ, tapi… dia nyeringai, mukanya berubah menyeramkan!” jawab Sadi, suaranya gemetar. Namun, semua anggota bersikeras tidak melihat apa-apa. Mereka saling bertatapan, mulai merasa merinding karena perubahan suasana terasa nyata yang dingin, sunyi, dan udara seolah menekan. Seolah tak percaya bercampur rasa takut akan keselamatan mereka, dan Sadi yang seolah terhipnotis ketakutan. Membuat anggota rombongan menyimpulkan ada arwah pengantin gaib yang bergentayangan di area itu, dan salah satu korbannya ialah Sadi temannya sendiri.
Firman mengangguk pelan. “Kita cabut aja, ini tempat ga enak, bro.” Rombongan kembali menghidupkan motor dan melanjutkan perjalanan tanpa banyak bicara. Tapi suasana jadi jauh lebih tegang. Tak ada yang berani memecah keheningan. Semua merasa diawasi, seakan ada yang mengikuti dari balik pepohonan.
Beberapa hari setelah kejadian, Sadi mencari tahu soal jalur yang mereka lewati. Ternyata, dahulu di tikungan itu pernah terjadi kecelakaan tragis: sepasang pengantin yang naik delman jatuh ke jurang saat perjalanan malam. Tubuh mereka tak pernah ditemukan. Sejak itu, warga menyebut tempat itu “tikungan manten mati”.
Sejak malam itu, Sadi tak lagi berani berada di barisan belakang rombongan. Sosok perempuan pengantin itu terus menghantuinya dalam mimpi. Ia masih ingat tatapan kosongnya. Masih terbayang senyum menyeramkan dan delman tanpa kusir yang terpaku diam di ujung jurang gelap.
Cerita ini menyebar cepat di komunitas biker lokal. Beberapa bahkan mengaku melihat penampakan serupa. Mereka menamainya hantu delman di Buntu Krumput, sosok pengantin yang terus menunggu… mungkin menunggu untuk menyelesaikan perjalanan terakhirnya.
Redaksi Energi Juang News



