Energi Juang News, Surakarta–Di Solo Jawa Tengah Omah Lowo (Rumah Kelelawar) memiliki sejarah yang panjang dan misterius. Konon, rumah ini pernah dihuni oleh seorang wanita Belanda yang sangat cantik. Ketika cahaya matahari memudar dan bayang malam merayap menyelimuti pematang, sebuah rumah tua Belanda tampak sunyi tak berpenghuni. Di antara kelelawar yang beterbangan, terdengar suara lirih jauh di balik tembok tua. Warga sekitar kerap mendengar suara tangis yang menyeruak ke sela-sela angin, seolah ada sesuatu yang merintih memanggil dari ruang terdalam.
Pak Suraji, salah satu tetangga terdekat, malam itu duduk di tepian jalan sambil menatap bangunan yang tampak seperti kastil tak terurus. Ia bergumam lirih, “Aku dengar dia berkata, ‘Mari ikut aku…’,” katanya kepada istrinya yang membela diri di sampingnya. Suaranya gemetar karena takut sekaligus penasaran. Istrinya menggenggam tangannya erat, takut terseret bisikan gelap itu.
Di malam berikutnya, Pak Suraji menceritakan pengalamannya kepada beberapa warga yang ngumpul di pos ronda. “Aku lihat wanita Belanda itu berdiri di balik pintu. Matanya kosong, tatapannya menusuk,” ujarnya sambil menggigil. Warga mendengarnya terpaku dan saling bertatapan cemas. Salah satu yang hadir, Pak Darto, bertanya dengan suara serak: “Apa dia memanggilmu?” Sriagi mengangguk, suaranya hampir tak terdengar.
Waktu menunjukkan tengah malam ketika Mbah Warnijan, sesepuh kampung menghampiri mereka dan mengaku mendengar suara wanita berderai di balik kaca jendela yang retak. Tanpa sadar Mbah Warnijan menghampiri dan bertanya “Kenapa kau menangis begitu pilu?”, lalu ia mendekati dinding rumah sambil bertingkah ragu. bau lembap menyebar di halaman depan Omah Lowo. Waktu itulah suara teriakan mistis itu kembali meraung, melintas dari ruang bawah ke lantai atas, laksana keluhan panjang yang terjerat antara dunia. Namun ketika ia menyibak tirai tipis, yang kelihatan hanya gelap pekat tanpa sosok yang nyata. Sejak itu, beberapa hari kemudian ia merasa tubuhnya adem dan langsung meriang.
Kamis malam hujan lebat, petir menyambar dan gelapnya makin pekat. Dari jendela lantai atas, seorang warga muda bernama Arman melihat sekelebat sosok putih melintas, rambutnya menjuntai panjang, wajahnya pucat seram. Ia berusaha menghampiri dan berteriak keras, “Tunggu! Siapa kau?”, tapi sosok itu lenyap seperti kabut disapu angin. Hatinya berdegup tak karuan, rasa takut hampir membuatnya pingsan. Temannya yang melihat gelagat Arman langsung berlari keluar dari halaman rumah tua itu , wajahnya pucat, lalu teriak, “Ada hantu!!! Ada hantu!!” Warga yang mendengar segera keluar dari rumah masing-masing, berkumpul dengan nada panik.
Esoknya, warga kampung mengadakan ronda bersama di bangunan tua itu. Saat mereka berjalan perlahan menyusuri koridor remang, benar saja sesosok arwah muncul di ujung lorong. Ia berdiri diam, wajahnya setengah tersembunyi dalam bayang, mengangkat tangan seolah memanggil. Salah satu warga, Pak Budi, terbatuk dan bertanya dengan suara gemetar: “Apa yang kau cari?” Arwah itu menaruh kepala, mulutnya bergetar, kemudian ia menghilang.
Malam demi malam, suara teriakan mistis dari dalam rumah terus menggema di tiap sudut Omah Lowo. Beberapa orang mengaku terserang demam tinggi setelah mencoba mendekat, pikiran mereka kacau, mimpi buruk menghantui tidur. Hubungan antara kisah masa lalu wanita Belanda dan suara-suara gaib itu membentuk misteri yang membuat kampung gemetar dalam ketidakpastian.
Kini, hingga waktu ini, Omah Lowo tetap berdiri menyimpan bisikan masa lalu. Warga kampung tak berani melewati bangunan itu sendirian kala malam. Mereka sering mendengar suara halus menyeru dari balik dinding: “Datanglah… ikut aku pulang…” Maka cerita tentang suara teriakan mistis dari dalam rumah ini tetap bergaung—membuat bulu ketek meremang, hati bergetar, dan rasa takut tak kunjung padam.
Redaksi Energi Juang News



