Energi Juang News, Yogyakarta– Indekos di kota pelajar, khususnya di sekitar Universitas Gajah Mada, memang terlalu mudah ditemukan; satu di antaranya adalah milik Bu Sari yang harganya sangat ramah di kantong membuat Nina, mahasiswi berkeluarga ekonomi terbatas, tertarik tanpa pikir panjang. Ia membayangkan malam studi tanpa harus jauh dari kampus, tanpa perlu mengeluarkan banyak biaya transportasi. “Ta, berapa nih sebulan? Semurah itu?” tanyanya saat mengunjungi kos. Bu Sari menjawab ringan, “Tenang, Nak, yang penting bisa tenang belajar, di sini nyaman.” Mendapatkan kamar dilantai dua Nina langsung menandatangani kontrak, lega hati sekaligus merasa beruntung.
Setelah tiba di kamar pojok lorong kos, Nina merapikan kasur, menata buku, dan memasang lampu kecil untuk membaca di malam hari. Udara di lorong terasa dingin dan sunyi—hanya suara pelan entah dari mana yang membayang. Lorong itu gemetar di bawah lampu lampu redup, dan bayangan Nina tampak panjang melintas dinding. Ia menegakkan punggung sembari berkata lirih, “Ini cuma imajinasi, ya?” Namun sunyi meresap seperti tangan dingin menyentuh kulit. Ia berdoa sebelum tidur, mencoba menenangkan perasaan yang aneh.
Beberapa hari berlalu, kos tidak kunjung bertambah penghuni baru. Banyak kamar kosong tapi selalu kosong. Suara ketukan pintu pun mulai muncul malam-malam: Tok… Tok… Tok… Tanpa salam, tanpa suara apapun, hanya ketukan yang terdengar, seolah ada yang membutuhkan sesuatu. Suatu malam, saat Nina tengah menyusun catatan, suara itu datang. Ia menunduk, goncang, tapi tetap berpikir ini lelucon penghuni kamar lain. “Siapa di situ?” bisiknya. Tidak ada jawaban, hanya gemetar pintu yang perlahan meredup.
Dengan gemetar, Nina berdiri dan mengendap ke jendela. Tangannya gemetar membuka gorden tipis. Ia berkata pelan, “Ada siapa?” Lorong kosong. Tak ada satu pun orang. Hanya kilatan bayangan yang paling samar di ujung lorong gelap. Dia merasa bulu kuduknya merinding. Ia menatap lorong panjang, dan suara ketukan berhenti. Terlihat diujung lorong tampak seorang perempuan berambut panjang tampak seperti mahasiswa pada umumnya, namun saat orang itu menoleh…terlihat wajah pucat dan terdapat luka berdarah dilehernya. Wajah itu tak bisa menyembunyikan dendam amarahnya. Sosok itu berjalan cepat menuruni tangga dan menghilang. Hatinya hening seolah takut yang luar biasa malam itu. Ia menutup gorden dan mundur ke kamar, napas tersengal, berbisik, “Apa ini benar-benar nyata?”
Keesokan malam, kejadian itu terulang—ketukan tanpa penyapa. Nina memilih tidak membuka pintu, hanya mendekap selimut. Kalimat “Aku takut” terus terngiang dalam pikirannya, sementara ketukan berlanjut, lembut namun menggali rasa takut. Ia menahan napas, tulang terasa membeku. “Pergilah,” ucapnya lirih, berharap kesunyian kembali. Namun yang terasa adalah sunyi yang lebih pekat, seperti ruangan memekap tanpa oksigen. Esoknya, matanya sembab karena kurang tidur, hati diliputi rasa takut.
Rasa penasaran mendorong Nina bertanya ke Bu Sari: “Bu, kosnya kok sepi ya? Banyak kamar kosong. Malam-malam, pintu ketok tapi nggak ada orang.” Bu Sari pandang Nina dengan tatapan kosong. “Nak, itu biasa disini. Jangan ditanya terus, nanti kamu gak tenang belajar.” Jawabnya singkat, namun nada itu mengandung teguran sekaligus peringatan. Tina merasa Bu Sari menyembunyikan sesuatu, tapi gimana pun caranya, rasa takutnya mulai mencengkeram lebih kuat.
Seminggu kemudian, Nina bertemu Pak Siman, Ketua RT. Ia memberanikan diri membisik, “Pak, kos Bu Sari lama sepi. Katanya sering ada ketukan pintu tanpa siapa pun…” Pak Siman terekspresi cemas, lalu tarik napas panjang. “Dulu, dua tahun lalu, seorang mahasiswi tinggal di kamar pojok itu. Dia diperkosa dan dibunuh. Pelakunya bunuh diri di situ. Mereka mengetuk pintu minta tolong, tapi tak ada yang berani menolong.” Suara Pak Siman parau, membuat Nina terdiam, hati berdetak kencang bercampur rasa takut.
“Arwahnya… mungkin masih mencari suara yang tak pernah datang menolongnya…” ujar Pak Siman lirih. Bayangannya merintih di lorong gelap itu, menuntut akan jawaban yang tak pernah datang. Nina membayangkan sosok gaib mengetuk pintu dengan wajah pucat, menunggu pertolongan dalam sepi. Setiap ketukan adalah panggilan, jeritan minta bantuan yang terdampar di waktu. Hatinya terasa tertusuk, dan ia hampir menangis di trotoar sunyi itu.
Sejak itu, Nina tak lagi membuka pintu ketika ketukan datang. Ia memilih tetap di kamar, mengunci pintu, dan bergumul dengan takutnya. Malam-malam tiba, ketukan tetap pecah seperti irama ratapan, memaksa Nina merunduk di bawah selimut dan memejamkan mata. Setiap getaran di dindingnya terasa seperti napas dingin melewati celah, bisikan arwah yang mengulangi ketakutan dan kesedihannya. Nina hanya bisa gemetar dan mengingatkannya bahwa ini bukan dunia nyata menjadi pengalaman belum terpulihkan. Sambil berharap ada penghuni kos baru menemaninya melewati malam malam berikutnya.
Kini, di pojok lorong kos itu, setiap malam adalah pertarungan antara rasa takut dan kasihan. Nina sering berdoa untuk mahasiswi itu, untuk arwah yang mengetuk tak kunjung dijawab. Ia menyalakan membaca doa, berharap bisa memberi ketenangan. Ketukan tetap ada, namun di balik rasa takut, ia berusaha rasa sedang menjaga ketukan itu, suara yang menuntut pendengaran terakhirnya. Setiap detik malam adalah janji untuk mengakui bahwa ada luka yang belum berhenti berdarah dan hanya dengan merawatnya, nyawa bisa tenang.



