Energi Juang News,Sul Sel- Hujan turun rintik-rintik di sebuah desa sunyi di pedalaman Sulawesi Selatan. Jalan tanah berubah menjadi licin, dan suara katak bersahutan dari sawah yang mulai tergenang. Di kejauhan, rumpun bambu berdiri rapat seperti dinding hitam yang menyerap cahaya senja. Tidak ada angin, tetapi daun-daun bambu bergesekan pelan, menghasilkan bunyi seperti bisikan yang tak jelas asalnya.
Penduduk desa memiliki kebiasaan yang sama setiap sore menjelang gelap: menutup pintu lebih awal. Tidak ada pengumuman, tidak ada perintah—hanya kesepakatan diam yang diwariskan turun-temurun.
Suatu hari, seorang pria perantau bernama Haris kembali ke desa kelahirannya setelah bertahun-tahun merantau ke kota. Ia pulang untuk merawat rumah tua milik ayahnya yang telah lama kosong.
“Kenapa desa ini sepi sekali saat maghrib?” tanya Haris kepada seorang warga tua di warung kopi.
Warga itu menatap langit yang mulai redup sebelum menjawab, “Kalau hujan turun sore hari… sebaiknya jangan lewat bambu belakang.”
“Kenapa?”
“Kadang ada yang memanggil.”
Haris menganggapnya sekadar mitos desa. Namun dua hari kemudian, ia mendengar sendiri suara itu.
Saat hujan baru saja berhenti dan langit masih basah oleh cahaya jingga, Haris berjalan melewati kebun kacang tanah di belakang rumah. Udara terasa dingin dan lembap. Tiba-tiba terdengar suara lirih dari arah rumpun bambu.
“Ambeku…”
Haris berhenti. Suara itu terdengar seperti bisikan anak kecil yang jauh, namun sangat jelas.
Ia menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada siapa pun.
“Siapa?” serunya.
Tidak ada jawaban. Hanya daun bambu yang bergesekan pelan.
Malamnya, ia menceritakan kejadian itu kepada Pak Rannu, tetangga yang dikenal sering menjaga kampung.
“Kalau dengar panggilan itu, jangan dijawab,” kata Pak Rannu dengan suara berat.
“Kenapa?”
“Karena itu bukan anak manusia.”
Seorang ibu yang duduk di dekat pintu langsung menyela, wajahnya pucat.
“Dulu kakak saya pernah menjawab… tiga hari kemudian sakit tanpa sebab.”
Haris mulai merasa gelisah. Namun rasa penasaran lebih kuat daripada ketakutannya.
Keesokan sore, ia kembali ke kebun kacang panjang di dekat rumpun bambu. Hujan kembali turun, lalu berhenti menjelang senja. Suasana hening, bahkan burung pun tidak terdengar.
Dan suara itu datang lagi.
“Ambeku… ambeku…”
Kali ini terdengar lebih dekat. Seperti tepat di belakangnya.
Haris menoleh cepat. Tidak ada siapa pun. Namun di tanah yang basah, terlihat bekas goresan kecil seperti cakar yang menekan lumpur.
Ia mundur perlahan.
“Siapa di sana?” suaranya bergetar.
Dari dalam rimbun bambu, terdengar suara tangis lirih. Bukan tangisan keras, melainkan rengekan yang memilukan, seperti bayi yang kelelahan menangis.
Haris berlari pulang.
Malam itu warga berkumpul di rumah Pak Rannu setelah mendengar cerita Haris. Lampu minyak menyala redup di tengah ruangan.
Seorang perempuan tua berbisik pelan, “Kalau sudah memanggil dua kali, berarti dia mengenali orang itu.”
“Dia siapa sebenarnya?” tanya Haris.
Pak Rannu menghela napas panjang.
“Arwah kecil yang tidak pernah sempat hidup dengan layak.”
Seorang pemuda menambahkan, “Kalau ibu-ibu berjalan sendirian saat maghrib, mereka sering merasa dicakar dari belakang.”
“Kenapa ibu-ibu?”
“Karena dendamnya.”
Suasana ruangan menjadi hening.
Seorang lelaki paruh baya yang duduk di sudut ruangan berkata pelan, “Saya pernah melihatnya.”
Semua menoleh.
“Tubuhnya kecil seperti bayi, rambutnya panjang… tapi matanya seperti orang dewasa.”
Haris merasakan tengkuknya dingin.
Beberapa hari berlalu tanpa kejadian. Namun suatu sore setelah hujan deras, seorang ibu desa berlari ke rumah Pak Rannu dengan wajah panik.
“Ada suara di kebun! Saya dipanggil!”
Warga segera berkumpul. Mereka menemukan bekas cakar kecil di batang bambu dan tanah yang tergores.
“Dia sedang mencari,” bisik Pak Rannu.
Malam itu, Haris terbangun oleh suara ketukan pelan di dinding rumahnya. Bukan dari pintu, melainkan dari arah luar dinding kayu.
Tok… tok… tok…
Lalu suara lirih yang sangat dekat.
“Ambeku…”
Haris menahan napas. Ia tidak bergerak.
Ketukan itu berhenti. Namun dari atap rumah, terdengar suara gesekan ringan, seperti sesuatu merangkak pelan.
Pagi harinya, di bawah jendela rumah Haris ditemukan bekas goresan kecil yang dalam. Tidak ada jejak kaki manusia.
Seorang warga berkata pelan, “Dia tidak suka ditolak.”
Pak Rannu kemudian melakukan ritual sederhana di halaman rumah. Ia menaburkan air dan membaca doa.
“Kalau dia memanggil, jangan dijawab. Kalau dia menangis, jangan dicari,” katanya.
Haris bertanya dengan suara pelan, “Apakah dia akan pergi?”
Pak Rannu menatap kebun bambu yang diam.
“Arwah yang kehilangan rumah… tidak tahu cara pulang.”
Beberapa minggu kemudian, suara panggilan itu semakin jarang terdengar. Namun setiap kali hujan turun menjelang maghrib, warga tetap menutup pintu lebih awal.
Seorang anak kecil pernah bertanya kepada ibunya, “Kenapa kita tidak boleh keluar sore hari?”
Ibunya menjawab lirih, “Karena ada yang masih mencari ayahnya.”
Di desa itu, jika senja datang bersama hujan dan angin berhenti berembus, orang-orang akan mendengar bisikan samar dari arah rimbun bambu.
Bukan suara ancaman. Bukan teriakan marah.
Hanya satu panggilan yang tak pernah berhenti menggema dalam kesunyian.
“Ambeku…”
Redaksi Energi Juang News



