Senin, Mei 18, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaRumah Tua Pasar Setan dan Arwah Ibu yang Menangis

Rumah Tua Pasar Setan dan Arwah Ibu yang Menangis

Energi Juang News, Banjarnegara Di sebuah bukit terpencil di Kampung Pasar Setan, Banjarnegara, berdiri sebuah rumah tua yang tampak rapuh dan sunyi, seolah terputus dari kehidupan desa di sekitarnya. Rumah itu dikelilingi semak liar dan pepohonan tinggi yang menutupi cahaya matahari. Warga desa yang melintas hanya mempercepat langkah tanpa menoleh. “Tempat itu bikin dada sesak,” ujar seorang warga pelan. Meski begitu, bagi orang luar, rumah tersebut tampak hanya seperti bangunan tua yang dilupakan waktu.

Legenda tentang suara ramai pasar yang konon terdengar pada malam tertentu membuat kampung itu mendapat julukan Pasar Setan. Namun, sebagian warga meyakini kesan angker lebih kuat dibanding kejadian mistis yang sering muncul. “Bukan tiap malam ada kejadian, tapi kalau sudah muncul, rasanya bukan main,” kata Pak Darto, seorang tetua desa. Rumah itu dipercaya menyimpan tragedi keluarga yang berakhir berdarah, sehingga penduduk memilih menjauh demi keselamatan batin mereka sendiri.

Ketika Andi dan Sari, pasangan muda dengan seorang anak perempuan bernama Rina, memutuskan membeli rumah itu, warga desa mencoba memperingatkan. “Nak, rumah itu tidak seperti yang lain,” ujar Bu Lasmi dengan wajah khawatir. Andi hanya tersenyum dan menjawab, “Kami tidak percaya takhayul, Bu.” Harga rumah yang murah mengalahkan rasa ragu. Mereka yakin kesunyian bukit justru akan memberi ketenangan bagi keluarga kecil mereka.

Malam pertama menjadi awal kegelisahan yang tak terucap. Saat Andi tertidur, Sari terbangun oleh suara langkah kaki di lorong kayu yang panjang. Suara itu berat, teratur, seolah seseorang berjalan perlahan mendekat. “Mas, dengar tidak?” bisik Sari ketakutan. Andi memeriksa seluruh rumah sambil membawa senter, namun ia kembali dengan wajah bingung. “Tidak ada siapa-siapa,” katanya, meski hawa dingin tetap menggantung di udara.

Baca juga :  Bayang Raksasa di Oranje Nassau Pengaron

Keesokan paginya, Rina mendekat dengan wajah pucat dan berkata lirih, “Bu, semalam ada ibu-ibu berdiri dekat kasur Rina.” Sari berusaha tersenyum meski jantungnya berdegup kencang. “Itu cuma mimpi,” katanya. Namun Rina melanjutkan, “Dia menangis dan bilang kehilangan anaknya.” Kata-kata polos itu membuat Andi dan Sari saling berpandangan, merasakan ketakutan yang mulai merayap perlahan.

Hari-hari berikutnya, gangguan semakin nyata. Pintu terbuka sendiri, piring jatuh tanpa sebab, dan suara tangisan terdengar dari sudut rumah. Warga desa yang berkunjung berbisik, “Arwah itu mulai menampakkan diri.” Setelah menyelidiki arsip lama desa, Andi menemukan catatan kelam tentang pemilik rumah bernama Gayatri, seorang wanita yang dibunuh suaminya sendiri sebelum sang suami menggantung diri. Tragedi itu membuat rumah tersebut dikutuk seumur waktu.

Arwah Gayatri digambarkan warga sebagai sosok wanita berambut panjang kusut, wajah pucat dengan mata cekung penuh air mata. “Dia selalu mencari anaknya,” ujar Pak Darto. Di loteng rumah, Sari menemukan sebuah cermin tua. Saat menatapnya, pantulan Gayatri muncul sambil berbisik, “Anakku disembunyikan.” Suaranya serak, penuh penderitaan. Tubuh arwah itu tampak seperti bayangan basah, seolah baru keluar dari liang tanah.

Dengan bantuan warga, Andi dan Sari menggali halaman belakang rumah. Bu Lasmi berkata sambil gemetar, “Dulu suaminya sering menggali di sini malam-malam.” Tak lama kemudian, mereka menemukan tulang belulang kecil yang terbungkus kain lapuk. Tangisan angin terdengar bersamaan dengan aroma tanah basah yang menusuk. “Itu anaknya,” ujar seorang warga lirih, membuat suasana menjadi sunyi penuh duka.

Upacara pemakaman dilakukan sederhana namun khidmat. Saat doa dibacakan, Sari melihat bayangan Gayatri berdiri di bawah pohon tua. Wajahnya tidak lagi penuh kesedihan, melainkan tenang. “Terima kasih,” ucapnya sebelum perlahan menghilang. Warga yang menyaksikan menghela napas lega. “Akhirnya arwah itu tidak menangis lagi,” kata Pak Darto dengan suara bergetar.

Baca juga :  Misteri Jembatan Jiwan: Arwah Pengantin Baru yang Menghantui Malam

Sejak saat itu, rumah tua Pasar Setan kembali sunyi tanpa gangguan. Andi dan Sari merasa damai, meski pengalaman tersebut membekas selamanya. Kepada warga, Andi berkata, “Kami belajar menghormati masa lalu.” Rumah itu kini menjadi pengingat bahwa tragedi yang tak terselesaikan akan selalu mencari jalan untuk didengar, dan arwah yang tersiksa hanya ingin satu hal, menemukan kembali kasih yang direnggut secara kejam.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments