Energi Juang News, Jakarta– Di daerah Tegal, Jawa Tengah, banyak mitos yang beredar di kalangan masyarakat sebagai bagian dari budaya lisan turun-temurun. Salah satu mitos yang paling mengakar kuat adalah tentang sosok menyeramkan yang dikenal dengan nama Bruncul. Meski tak muncul dalam buku sejarah ataupun catatan resmi, kisah tentang Bruncul menyebar luas terutama di desa-desa yang berada di sekitar aliran sungai seperti Kali Prepil, Kali Kemiri, dan Kali Gangsa. Cerita tentang makhluk ini sering digunakan orang tua sebagai pengingat atau bahkan peringatan keras kepada anak-anak agar tidak bermain atau berenang sembarangan di sungai.
Seorang warga Desa Kemiri, Pak Sarwan, pernah berkata, “Dulu, cucu saya hampir tenggelam. Pas kami tarik, katanya ada tangan kecil yang narik kakinya ke bawah. Tak nampak wajah yang narik, cuman tangan itu putih pucat tanpa darah. Padahal airnya tenang, nggak ada arus kuat.” Cerita seperti ini bukan hanya sekali dua kali terdengar, namun sering menjadi buah bibir saat musim hujan tiba dan anak-anak mulai bermain air di sekitar sungai. Kejadian orang hilang atau tenggelam di sungai pun hampir selalu dikaitkan dengan Bruncul, seakan menjadi alasan mistis atas sesuatu yang tak dapat dijelaskan secara logika.
Sosok Bruncul sendiri beragam, namun yang paling sering disebutkan adalah bentuk menyerupai bayi manusia, berambut panjang, tanpa tangan dan kaki. Sosok itu sering kali terlihat melayang atau menyembul di permukaan air saat senja tiba. Aura yang dibawanya membuat bulu kuduk berdiri, apalagi jika terdengar suara tangisan bayi yang lirih namun menusuk telinga.
Seperti kisah mbok Minah, seorang perempuan tua yang dikenal karena kebiasaannya memungut kayu bakar.Saat Magrib tiba ketika ia membungkuk mengambil ranting tua yang mengapung di tepi air, telinganya menangkap suara lirih… tangisan bayi. Awalnya samar, lalu semakin jelas. Suara itu terdengar memilukan, seperti bayi yang ditelantarkan, menangis karena kesakitan atau ketakutan. Namun yang membuat bulu kuduk Mbok Minah berdiri bukan hanya suara itu, melainkan kenyataan bahwa sejak ia datang, tak ada seorang pun di sekitar sungai, tak ada ibu muda, tak ada pemancing, tak ada perkampungan dekat hanya dirinya dan air yang diam.
“Tangisannya itu… kayak minta tolong, tapi aneh menakutkan,” ujarnya kepada tetangga beberapa hari kemudian, sambil matanya menatap kosong seolah ingatannya masih terperangkap di sore sial itu. Mbok Minah mencoba mencari sumber suara, melangkah pelan ke arah semak-semak yang tumbuh liar di tepi sungai, tetapi suara itu seperti berpindah—kadang dari kiri, lalu dari balik batang bambu, lalu dari tengah aliran air yang tenang. Ketika akhirnya ia memberanikan diri menengok ke sungai, air yang biasanya jernih mendadak keruh dan beriak pelan meski tak ada angin. Suara tangisan itu berubah seperti tertawa kecil, tawa anak-anak yang melengking, mencicit dalam kesenangan aneh yang justru membuat kulit meremang oleh rasa takut. Dari permukaan air, sesuatu mengambang perlahan seperti boneka usang tanpa kepala.
Mbok Minah terpaku, napasnya tercekat, tubuhnya seperti ditarik oleh udara dingin yang menyelimuti kakinya. Ia mengaku sempat melihat bayangan samar di permukaan air sosok makhluk kecil berambut panjang, tak memiliki tangan dan kaki, hanya tubuh mengambang perlahan seperti mayat bayi yang busuk. Tersadar ia berlari sekuat tenaga, ranting-ranting terinjak, ilalang mencakar betisnya, dan air mata bercampur keringat jatuh membasahi pipinya yang keriput. Sejak kejadian itu, Mbok Minah tidak pernah lagi mendekati Kali Prepil. Ia menjadi pendiam, sering termenung, dan menghindari pembicaraan tentang sungai.
Warga sekitar percaya bahwa malam itu, Mbok Minah telah mendengar panggilan Bruncul sosok makhluk sungai yang konon berasal dari arwah bayi yang dibuang, kini menjadi penunggu air yang haus akan nyawa. Beberapa bahkan berkata bahwa suara tangisan bayi itu bukan sekadar isapan jempol, karena setelah malam itu, seekor anjing milik warga ditemukan mati di tepi sungai dengan tubuh berlubang di dada aneh seperti yang selalu diceritakan dalam kisah lama tentang korban Bruncul
Namun, tidak semua yang mengaku melihat Bruncul menggambarkannya sebagai bayi. Ada pula yang menyebut makhluk ini bisa berubah rupa seperti buaya hitam besar atau ular raksasa bersisik licin. Wujud itu sering terlihat sebelum ada kejadian orang hilang di sungai. Masyarakat percaya Bruncul bukan sekadar sosok penampakan, tapi entitas jahat yang secara aktif memangsa manusia, terutama anak-anak. Ia disebut suka menarik korbannya ke dalam air, menenggelamkannya, lalu membawa tubuh itu ke dasar sungai. Beberapa warga bahkan percaya bahwa makhluk ini memakan organ dalam manusia, terutama jantung dan isi kepala. “Mayatnya waktu ditemukan, katanya dada dan ubun-ubunnya bolong,” bisik Pak Dayat, mantan penjaga bendungan, kepada kami saat kami mengunjunginya di rumahnya yang dekat dengan Kali Gangsa.
Kepercayaan akan mitos Bruncul begitu kuat sampai masyarakat sering mengadakan ritual atau selamatan khusus ketika ada korban tenggelam. Sebagian orang mungkin menganggap mitos ini sebagai cerita menakut-nakuti anak-anak. Tapi ketika kejadian demi kejadian terus berulang di tempat yang sama, sulit untuk benar-benar mengabaikan kemungkinan adanya sesuatu yang memang mengintai dari kedalaman air.
Tidak sedikit pula yang setelah mengalami kejadian mistis di sekitar sungai memilih untuk tidak pernah kembali ke sana, bahkan sekadar lewat saja pun mereka menghindar. Aura yang terasa dingin meski di siang hari dan bau amis yang sesekali muncul tiba-tiba menjadi pertanda bahwa tempat itu menyimpan rahasia kelam. Setelah itu, warga melarang siapa pun mendekati sungai saat malam tiba. Kepercayaan ini diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi semacam benteng tak kasat mata yang melindungi anak-anak dari ancaman yang mungkin benar-benar ada.
Pada akhirnya, mitos Bruncul di Sungai Tegal bukan sekadar kisah seram untuk menakut-nakuti. Ini adalah bagian dari kearifan lokal yang menyatu dalam kehidupan masyarakat sekitar sungai. Apakah Bruncul benar-benar ada atau sekadar manifestasi dari rasa takut dan duka? Tidak ada yang tahu pasti. Namun satu hal yang pasti: mitos ini telah menyelamatkan banyak nyawa, setidaknya dari bahaya bermain di aliran sungai tanpa pengawasan. Sebuah cerita yang layak untuk dikenang dan diceritakan ulang—sebagai pengingat bahwa air yang tenang pun bisa menyimpan mara bahaya yang tak kasat mata.
Redaksi Energi Juang News



