Energi Juang News, Mojokerto– Di balik rindangnya pepohonan Hutan Barongan, terletak sebuah tempat yang tidak sembarang orang berani datangi saat matahari mulai tenggelam. Tempat itu dikenal sebagai Punden Mbah Selo Kencono, sebuah petilasan tua yang dihormati oleh masyarakat Dusun Bendilwuni, Desa Kademangan, Mojokerto. Tempat ini diyakini menyimpan kekuatan gaib yang berasal dari sosok tua sakti yang konon dulu menjadi penjaga spiritual desa. Keberadaan punden ini bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi simbol penjaga moral dan adat yang dijunjung oleh warga setempat.
Setiap tahun, masyarakat menggelar upacara tasyakuran di punden ini, biasanya bertepatan dengan malam Jumat Kliwon. Acara ini diiringi dengan doa bersama, sesajen, dan pembacaan cerita rakyat tentang Mbah Selo Kencono. Seorang warga bernama Pak Wiryo, yang kini sudah berusia 72 tahun, mengatakan, “Kami percaya, selama kami menghormati leluhur, desa ini akan tetap tentram.” Ritual-ritual tersebut bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga sebagai upaya menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan gaib. Aura mistis mulai terasa begitu orang memasuki area punden, apalagi saat senyap malam menyelimuti.
Salah satu kisah yang masih membuat warga merinding hingga kini adalah peristiwa yang menimpa sepasang muda-mudi bernama Mergo dan Pastriwi. Mereka dikenal sebagai warga biasa yang tidak terlalu menonjol, namun suatu malam mereka kedapatan berduaan di dekat punden saat larut malam. “Kami sudah sering memperingatkan anak-anak muda agar tidak main-main di sana, apalagi dengan niat yang tidak baik,” ujar Bu Saminah, tetua adat desa. Namun malam itu, larangan itu diabaikan. Keesokan paginya, warga dikejutkan dengan suara teriakan dari dalam hutan.
Mergo dan Pastriwi ditemukan dalam kondisi aneh karena tubuh mereka seperti menyatu, saling menempel dari bahu hingga pinggang, tidak bisa dipisahkan meskipun sudah dibawa ke rumah dukun kampung. “Waktu kami temukan, mereka menangis dan memohon maaf sambil terus-menerus menyebut nama Mbah Selo Kencono,” kata Pak Darji, salah satu saksi mata. Warga pun segera mengadakan ritual permohonan maaf di punden, membawa sesajen dan air bunga yang telah didoakan oleh juru kunci. Setelah prosesi selesai, perlahan tubuh keduanya bisa dipisahkan. Namun, trauma yang mereka alami tidak pernah hilang, dan mereka memilih meninggalkan desa selamanya.
Konon, sosok arwah Mbah Selo Kencono kerap menampakkan diri kepada mereka yang melanggar norma di area punden. Ia digambarkan sebagai lelaki tua berjubah putih, bermata merah marah menyala, dan tongkat kayu besar yang ujungnya mengeluarkan cahaya kehijauan. Banyak warga mengaku melihat sosok ini berdiri di antara pepohonan saat malam hari, terutama saat bulan purnama. “Aku pernah lihat dia dari kejauhan, amarahnya seperti menembus jiwa,” ujar Pak Sarto, warga yang sempat kerasukan saat ikut ronda malam di sekitar hutan.
Selain kisah Mergo dan Pastriwi, banyak pengalaman menyeramkan lainnya yang diceritakan warga. Seorang pemuda pernah mengalami waktu yang berhenti saat melintas dekat punden; jam tangannya mati dan suara alam mendadak lenyap. “Rasanya seperti ditarik ke dimensi lain. Saya tak bisa bicara atau bergerak selama beberapa menit,” katanya. Kejadian seperti ini menjadi pengingat bahwa punden bukan tempat untuk uji nyali atau sekadar tempat bertualang. Di balik ketenangan alamnya, tersimpan energi yang tak bisa dijelaskan secara logika biasa.
Menurut para tetua desa, Mbah Selo Kencono dahulu adalah penjaga hutan yang juga seorang pertapa. Ia mampu berbicara dengan binatang dan mengendalikan angin, katanya. Bahkan setelah wafat, jiwanya diyakini tidak benar-benar pergi, tapi tetap menjaga batas spiritual desa. Makanya, siapa pun yang masuk ke hutan tanpa izin batin atau dengan niat buruk, pasti akan mendapat peringatan. “Kalau niatmu bersih, kamu akan aman. Tapi kalau tidak, punden ini akan menunjukkannya,” kata Mbah Marni, juru kunci punden.
Ketika malam semakin larut dan kabut mulai turun, suasana sekitar Punden Mbah Selo Kencono berubah drastis. Angin berhembus pelan namun membawa bisikan tak kasat mata. Lampu senter warga tak bisa menembus gelap pekat yang tiba-tiba datang. Beberapa orang mengaku mendengar suara gending Jawa kuno dari dalam punden, padahal tak ada seorang pun di sana. “Saya dengar suara gamelan dan orang-orang menari. Tapi saat didekati, semuanya lenyap seperti mimpi,” ungkap seorang pengunjung dari luar desa yang mencoba bermalam di area tersebut.
Hingga kini, Punden Mbah Selo Kencono tetap menjadi tempat yang sakral. Warga menjaga kelestariannya, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual. Setiap cerita yang terjadi di tempat ini menjadi bagian dari narasi budaya dan kepercayaan lokal. Hutan Barongan bukan hanya kumpulan pepohonan, tapi ruang hidup bagi entitas yang menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan yang tak kasat mata. Kehadiran arwah Mbah Selo Kencono adalah pengingat akan pentingnya sikap hormat terhadap leluhur dan alam.
Maka tak heran, meski kisah-kisah menyeramkan terus beredar, Punden Mbah Selo Kencono justru semakin disakralkan. Ia bukan sekadar makam tua di tengah hutan, melainkan simbol moral dan spiritual yang menjaga wajah desa dari perilaku tak patut. “Kita harus tahu tempat, tahu waktu, dan tahu sopan santun. Kalau tidak, ya siap-siap saja menerima akibatnya,” ujar Pak Giman, warga asli yang sejak kecil sudah akrab dengan cerita-cerita gaib di kampungnya. Dengan segala misterinya, punden ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Dusun Bendilwuni.
Redaksi Energi Juang News



