Senin, Juni 1, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaJerangkong, Hantu Tengkorak Penunggu Kandang Ayam

Jerangkong, Hantu Tengkorak Penunggu Kandang Ayam

Energi Juang News, Ponorogo– Malam semakin larut di Desa Gandu Kepuh Kabupaten Ponorogo, ketika suara ayam tiba-tiba berisik dari kandang milik Pak Warto. Udara dingin terasa menusuk tulang, padahal belum memasuki musim hujan. Seorang pemuda bernama Leman, yang tinggal di sebelah kandang ayam itu, mengintip dari celah jendela. Tak ada siapa-siapa di luar sana, namun suara gemeretak aneh seperti benda keras saling beradu terdengar makin dekat. Suara itu bukan suara biasa—ritmis, pelan, dan sangat mengganggu. Ia merasa ada sesuatu yang tak wajar, tapi berusaha mengabaikannya sebagai angin malam atau suara binatang kecil.

Tanpa ia sadari, suara itu semakin mendekat dan berubah menjadi suara gemeretak seperti tulang yang saling bergesekan. Ketika Leman memutuskan keluar untuk memastikan keadaan, bau amis dan anyir tiba-tiba menyergap hidungnya. Di dekat kandang ayam, samar-samar ia melihat asap tipis mengepul dari tanah, seolah ada sesuatu yang membusuk dan bangkit dari bawah. Sosok itu mulai terlihat—kerangka berjalan dengan tengkorak yang menghitam, tinggi, dan matanya kosong menganga. Itulah pertama kalinya ia melihat Jerangkong, sosok mistis yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang tua.

Keesokan harinya, warga berkumpul di warung kopi Pak Darus. Suasana tegang menyelimuti pembicaraan pagi itu. “Aku juga pernah dengar suara tulang-tulang itu dua minggu lalu,” ucap Pak Darus sambil menyeruput kopi. “Tapi aku pikir cuma tikus atau hewan malam. Baru sekarang aku yakin kalau itu si Jerangkong.” Beberapa warga membenarkan, bahkan Bu Sarti, yang rumahnya berada di dekat kuburan desa, mengaku melihat asap tipis setiap malam Jumat Kliwon dari balik celah nisan yang sudah lapuk. “Setiap kali ada asap, pasti ada telur ayam yang hilang,” katanya lirih.

Baca juga :  Cerita Misteri: Teror Gaib Mercusuar Sembilangan di pesisir Bangkalan

Menurut cerita turun-temurun, Jerangkong adalah arwah penasaran dari seseorang yang meninggal karena praktik ilmu hitam yang gagal. Tubuhnya tidak diterima bumi, dan tulangnya menolak membusuk. Ia bangkit sebagai makhluk kutukan yang selalu lapar akan telur ayam, simbol kehidupan dan kesuburan. Makanan itu dianggap mampu menenangkan jiwanya yang tersiksa. Namun, jika tidak mendapat telur, konon ia akan masuk ke rumah terdekat dan mengambil nyawa atau keberuntungan penghuninya. Ini membuat para peternak di desa mulai ketakutan.

Pak Warto, yang kehilangan hampir separuh ayamnya semalam, akhirnya memutuskan untuk membuat sesajen telur dan menaruhnya di dekat kandang. “Kalau memang dia suka telur, biar saja dia ambil yang ini. Daripada ayam saya habis terus,” katanya saat ditemui. Tapi ketika malam tiba, jerangkong muncul lagi, kali ini tidak hanya mengambil telurnya, tetapi juga membuat seluruh ayam menjadi bisu, tidak lagi berkokok atau bersuara. Ini dianggap pertanda buruk oleh warga. Ayam yang tidak berkokok di pagi hari, menurut mitos Jawa, adalah tanda ada makhluk gaib yang menetap di dekatnya.

Leman, yang merasa paling terganggu karena pernah melihat wujud Jerangkong secara langsung, mulai mengalami gangguan tidur. Setiap malam, ia mendengar suara tulang bergesekan dari bawah ranjangnya. Dalam mimpinya, ia melihat dirinya dikurung dalam keranda, tubuhnya tanpa daging, hanya tulang. Di pojok ruangan, Jerangkong berdiri diam, menatapnya dengan mata hampa. Ia bercerita kepada Pak Lurah, berharap ada solusi. Namun, Pak Lurah hanya bisa berkata, “Jiwa yang tidak diterima bumi tidak bisa diselesaikan dengan doa saja. Mungkin ada yang harus ditebus.”

Warga desa akhirnya sepakat mengadakan ruwatan dan ritual tolak bala. Seorang dukun tua, Mbah Rono, dipanggil dari desa sebelah. Dengan pakaian serba hitam dan dupa mengepul di tangannya, ia mengatakan, “Jerangkong tidak muncul karena iseng. Ia butuh penebusan, dan telur ayam itu bukan sekadar makanan—itu simbol. Tapi ada janji lama yang belum ditepati.” Sayangnya, tidak ada yang tahu janji siapa yang dimaksud. Mbah Rono hanya berpesan agar setiap rumah menyiapkan telur ayam rebus di depan pintu setiap malam Jumat, sampai sosok itu berhenti menampakkan diri.

Baca juga :  Legenda dan Kisah Menyeramkan didalam Telaga Ngebel

Meski sudah dilakukan berbagai ritual, sosok Jerangkong masih kerap terlihat oleh warga tertentu. Bu Sarti bahkan mengatakan pernah melihatnya berdiri di bawah pohon randu besar dekat rumahnya, hanya menatap kosong tanpa bergerak. “Wujudnya seperti tulang yang disusun acak, tidak utuh. Tapi matanya… kosong, dan seperti meminta sesuatu.” Semakin hari, suasana desa makin mencekam. Anak-anak dilarang bermain sore hari, dan suara ayam menjadi satu-satunya indikator apakah malam itu akan aman atau tidak. Jika ayam tetap berkokok menjelang malam, warga bisa tenang. Tapi jika tidak—mereka tahu, Jerangkong akan datang.

Kini, cerita tentang Jerangkong menjadi bagian dari kehidupan warga Kepuh. Tak ada lagi yang menganggapnya sekadar mitos. Setiap Jumat Kliwon, asap putih selalu terlihat di sekitar pemakaman desa. Ayam-ayam tetap dijaga ketat, dan telur selalu disiapkan. Namun, rasa takut tak pernah benar-benar hilang. Karena Jerangkong bukan hanya sekadar hantu—ia adalah simbol dari janji yang diabaikan, dari kesalahan masa lalu yang belum ditebus. Dan selama itu belum dituntaskan, suara gemeretak tulang akan tetap menghantui malam-malam sunyi Desa Gandu Kepuh.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments