Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaInternasionalPM Jepang Shigeru Ishiba Tumbang: Mundur di Tengah Krisis Politik

PM Jepang Shigeru Ishiba Tumbang: Mundur di Tengah Krisis Politik

Energi Juang News, Tokyo– Shigeru Ishiba resmi mundur dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Jepang pada Minggu (7/9/2025). Keputusan ini mengejutkan publik, terutama setelah Jepang menuntaskan perjanjian dagang penting dengan Amerika Serikat.

Dalam konferensi pers, Ishiba yang kini berusia 68 tahun mengaku harus bertanggung jawab atas kekalahan telak partainya dalam pemilu. Ia menyebut kesepakatan dagang dengan Washington sebagai warisan terakhirnya bagi negeri matahari terbit.

“Saya telah melewati rintangan besar bersama rakyat Jepang. Kini saatnya tongkat estafet diteruskan ke generasi berikutnya,” ucap Ishiba dengan nada emosional.

Tekanan terhadap Ishiba semakin kuat usai Partai Demokrat Liberal (LDP) kalah dalam pemilu majelis tinggi pada Juli. Partai berkuasa itu bahkan sudah menjadwalkan pemungutan suara darurat untuk menentukan pemimpin baru.

Sejak menjabat kurang dari satu tahun, Ishiba menghadapi kemarahan publik akibat melonjaknya biaya hidup. Koalisi pemerintah kehilangan mayoritas di parlemen, menambah goyah posisinya sebagai PM.

Kejatuhan politik ini langsung memengaruhi pasar keuangan Jepang. Yen tertekan, sementara obligasi pemerintah anjlok hingga mencatat rekor imbal hasil tertinggi. Investor cemas atas arah kebijakan selanjutnya.

Nama Sanae Takaichi, politisi senior LDP yang keras mengkritik kebijakan suku bunga Bank of Japan, muncul sebagai kandidat kuat pengganti Ishiba. Namun Shinjiro Koizumi, menteri pertanian populer dengan citra segar, juga disebut-sebut berpeluang.

“Pengunduran diri ini sudah tak bisa dihindari. Ishiba tak lagi mampu mengendalikan situasi,” ujar Kazutaka Maeda, ekonom Meiji Yasuda Research Institute.

Meski demikian, siapa pun yang memimpin LDP belum tentu otomatis jadi PM. Namun peluang tetap besar karena partai tersebut masih mendominasi majelis rendah.

Jika pemimpin baru ingin legitimasi penuh, pemilu kilat bisa jadi opsi. Kondisi ini makin menambah ketidakpastian politik di Jepang yang tengah menghadapi oposisi kian agresif.

Baca juga :  Ukraina Dorong Prajurit Bekukan Sperma Demi Selamatkan Generasi Pasca Perang

Michael Brown, analis Pepperstone, memperingatkan pasar finansial global harus siap menghadapi tekanan jual lanjutan pada yen. “Risiko politik makin terbuka, terutama jika pemimpin baru mencari mandat lewat pemilu cepat,” ujarnya.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments