Energi Juang News, Semarang–Waktu malam tiba, udara di sekitar Benteng Pendem Fort Willem I yang merupakan salah satu tempat berhantu di Semarang, mencengkeram jiwa dengan kesunyian yang menyesakkan. Lembayung senja meredup digantikan bayang hitam, sementara bisikan samar terdengar dari reruntuhan batu. Rasanya ada sosok yang melintas cepat di sudut mata, meninggalkan hawa dingin menyusup ke dalam tulang.
Seorang tukang kebun di luar benteng, Pak Rudi, suatu malam berlari keluar dari gerbang remang. “Saya mendengar suara ratapan wanita di lorong Bastion BroonBekk,” ujarnya dengan nada gemetar. Ia menuding bahwa di balik reruntuhan, ada bayangan berpakaian putih melayang di udara.
Suatu malam, saya menemui seorang warga lokal bernama Bu Sri di warung dekat benteng. “Kadang kulihat kaki tanpa tubuh berjalan di koridor,” katanya lirih. Dia mengaku sering mendengar suara rantai gemeretak seperti seseorang disekap, kemudian menghilang dalam kegelapan.
Di lorong Bastion Martha Christina, seseorang pernah merasakan tangan dingin menyentuh bahunya sewaktu berjalan sendiri. Getar di tubuhnya memaksa ia berteriak. “Mana kau?” teriaknya, namun yang terdengar hanyalah tawa sunyi menjalar di udara. Di situ lahir rasa ngeri yang mendalam.
Arwah Noni Belanda menjadi entitas paling dikenal di benteng ini. Ia berjalan tanpa kepala, mengenakan pakaian putih lus8uh, rambut panjang melayang-layang. Sosoknya sering muncul di sudut gelap lorong, menelusuri jejak kekejaman masa lalu yang menunggukan jawaban.
Konon kepala Noni dibuang dekat tembok utara benteng oleh tentara pribumi dalam perang Jawa. Ia masih gentayangan mencari kepalanya, berkeliling setiap sudut batu demi batu. Dalam bisiknya terdengar ratapan: “Kembalikan aku…” Sementara bayangannya terbentang di sudut jiwa.
Selain Noni, kadang terdengar derap langkah tentara Belanda di Bastion Lodewjik. Seorang penjaga ronda, Arif, pernah mendengar tentara berbaris, perintah dalam bahasa Belanda, suara senapan beradu. “Tangan saya gemetar ketika mendengar langkah itu,” kata Arif sambil menutup wajahnya. Bahkan terowongan Wilhelmina kerap terdengar suara-suara menyeramkan yang terdengar pada malam-malam tertentu. Dirinya sendiri sempat mengalaminya saat sedang mencari ternaknya yang hilang di sekitar tempat itu.
Warga lainnya, Pak Darto, suatu hari menyaksikan sosok berseragam Belanda muncul di pintu gerbang. Tubuhnya memudar seperti kabut, tetapi wajahnya tajam dan memancarkan kesedihan. “Dia tampak menatap saya dalam diam,” tuturnya dengan suara tercekat.
Beberapa turis yang ikut uji nyali merekam bayangan melintas cepat, cahaya lampu padam mendadak, dan suara lirih “Tolong…” tersesat dalam rekaman. Kamera memperlihatkan siluet kepala terpenggal melayang. Kengerian itu tak bisa disangkal lagi.
Kisah panjang ini membentuk sebuah legenda kelam. Pemenggalan Benteng Pendem bukan sekadar pembantaian masa lalu, melainkan pintu kebangkitan arwah yang tak tenang. Setiap bisik, jejak langkah, dan penampakan mengundang nyali untuk bertahan dalam misteri abadi.
Redaksi Energi Juang News



